Laman

Jumat, 23 Juli 2010

मेराजुत चिंता दी सेंजा केलाबू

MERAJUT CINTA DI SENJA KELABU


Bismillahirrohmaanirrohiim….
Ya Allah…
Jari-jariku terhenti….
Bukan karena lelah ataupun jengah..

Ya Rohiim..
Tak kuasa ku lukiskan yang ku pandang hari ini,
Langit itu tak berwarna..tapi terlihat biru.
Begitu indah tak berawan..
Tapi,ia begitu sempurna bila berhias awan.
Maha besar engkau ya Robb..
Tak satupun yang sama!!
Coba lihat,dalam kedip mata formasinya berbeda
Laiknya parade awan…
Kekeguman yang membuat air mata meleleh.
Ah,aku tahu sekarang..
Aku,,,merasakan benih cinta yang mulai tumbuh,,,
Ya Rohmaan,, air suci ini adalah saksi..
Saksi cinta yang ingin ku tata
….
Sunday,08.00 a.m


****

Angin malam terasa menusuk,jangkrik mulai beratraksi dipanggungnya. Di temani terang bulan dan hamparan bintang,aku duduk di emperan pondok,sambil menemani bapak yang sedang menumpuk kayu-kayu bakar.
Ibu dan ketiga adikku telah lebih dulu tidur di bilik,sebenarnya aku juga mengantuk. Aku jarang ke ladang kalau nggak pas hari libur,jarak sekolah ke desaku 4 Km dan dari rumahku ke ladang jaraknya 3 Km. Aku indekost di kecamatan,tempat aku sekolah. Aku sangat merindukan saat-saat bersama keluarga,terutama bapak. Meskipun aku punya satu orang kakak laki-laki.seorang kakak perempuan,dan tiga adik tapi sifat manjaku mampu mengalahkan adik bungsuku.
“ Pak,Nisa bolehkan kuliah? “ kupandangi lekat-lekat wajah bapakku yang mulai meriput,sisa-sisa masa muda masih tergambar jelas. Hmm,bapakku pasti dulunya ganteng bisik hati kecilku.
“Iya,tapi bersyarat nis…”jawab bapak. Kemudian ia kembali melanjutkan kesibukannya,membuat diang¹ untuk malam ini. Aku turut mengambil kayu bakar,kemudian kembali duduk di emperan pondok.
“ Beneran tah pak?? Opo syaratnya pak?”
“ Pertama,niat Nisa kuliah tu buat apa dulu? Terus Nisa ndak boleh pacaran dulu sampai lulus kuliah,terus Nisa harus belajar mandiri,prihatin,rajin ibadah. Terus yang harus Nisa inget,kalau bapak itu cuma bisa nguliahke Nisa. Kalau Nisa ndak berhasil.ndag ada adek-adek mu yang kuliah,karena itu Nisa harus buktikan ke bapak nisa bisa sukses, nanti Nisa yang mesti nguliahke adek-adek mu itu. Sanggup Nis?”
Walah pak,banyak juga syaratnya..tapi aahh gampang,kan ndak mungkin bapak tega sama Nis,pikirku selintas.
“ Sanggup pak,beres…. Apa sih yang ndak Nisa bisa,asalkan Nisa kuliah pokoknya. Pak ?”
“ Ono opo lagi Nis?”
“ Nisa Cuma mau bilang,nisa pengen masuk pertanian. Biar kayak pak imam pak,semua bisa pak!! Matematika,biologi,fisika,kimia,komputer, wah.. banyak pak,lah wong kata guru kimia Nisa kalau mau ngomongi masalah global,salah satunya paling nyambung sama beliau. Nanti Nisa buatkan bapak kebun sawit yang luaassss…..”
“ Niatnya dulu Nis,bapak ndak maksa Nisa masuk apa. Keinginan bapak sih,nisa kuliahnya ngambil tarbiyah saja. Tapi kalau Nisa mampu di pertanian yo ora opo-opo.. lillahi ta’ala Nis.”
“ Asyik…. Nisa kuliah nanti!!” saking bahagianya,akupun refleks meraih tangan bapak dan mencium punggung telapaknya. Kebiasaan masa kecilku yang masih lekat hingga kini.
“ Wes Nis,naik ke atas sana. Bapak ndak mau lihat Nisa ketiduran lagi,repot mbanguninya..”
“ Heee… jadi malu Nisa,yo wes pak yoo.. Nisa ke atas dulu. Assalamu’alaikum pak.” Kucium lagi tangan bapak dan berlari naik ke pondok.
“Wa’alaikumus salam warohmatullah..”
Sesampainya di bilik,aku tak langsung tidur. Sambil berbaring aku memikirkan masa-masa kuliah nanti,ah… pasti seru dan menyenangkan. Alunan merdu jangkrik-jangkrik yang bersahutan membuatku makin terlena. Semilir angin dan ketenangan malam di ladang serta khayalanku yang telah membumbung mengajakku hanyut dalam dekapan malam yang makin melenakan.
Oh iya,namaku Khoirotun Nisa’. Panggilan sayang dari orang tuaku adalah Nisa,sebuah nama yang diberikan oleh guru diniyyahku waktu aku umur tujuh hari(kata bapak sih gitu). Dan bapak di mata Nisa adalah sosok yang patut Nisa idolakan,tilawah Qur’an bapak bisa,humoris,ngemong banget,penyabar,ganteng,nyanyi lihai,dan meskipun kami lahir jauh dari pesantren tapi bapak selalu menuansakan rumah atau pondok kami dengan nuansa pesantren. Kata bapak dulu,meskipun seseorang itu hidup berlimpah harta tapi tidak akan merasakan ketenangan dan kedamaian tanpa adanya nilai-nilai agama pada dirinya.
***

Aku terbangun pukul 03.00 dini hari,bukan di pondok tapi di kostan ku yang lengang. Ah rupanya aku mimpi lagi,mimpi yang sama yang kerap datang di tidurku. Bukan , itu bukan mimpi tapi memori 3 tahun lalu yang kerap melintas di mimpi,ah entahlah..
Kupandangi sekeliling kamar,tak ada bilik pondok,emperan.apalagi diang. Aku bangkit menuju pintu belakang,kuputar kran dan mulai membasuh muka. Dingin air ini serasa di pondok dulu. Buru – buru aku bergegas mengambil mukena dan memulai bermunajat cinta pada-Nya. Kesunyian malam bersama segala gundah ku tumpah ruahkan,lewat alunan bait-bait cinta-Nya ku cari damai untuk jiwa ini.
“ Ya Allah,,, Nisa kangen bapak,ibu,dan adeknya Nis”
“ Bapak… Nis kangennn….”
” Aduh apa-apaan sih? Kenapa lagi dengan Nisa ya Allah? Nisa nggak mau cengeng,Nisa ga boleh nangis lagi!! Nisa nggak boleh Nangis….!” Aku tak kuasa lagi menahan bendungan di mata ini,ah aku benci pengandaian. Lelah menangis,mataku nanar mencari sesosok sahabat setiaku. Itu dia! Ku raih ponselku dan mengecek sisa pulsa,hmm… cukup untuk menelpon ibu.
“ Assalamu’alaikum mbak,mbak santi ini nisa” sapaku ketika telah tersambung.
“ Wa’alaikum salam Nis,tumben malam-malam nelpon. Ono opo tah?” Sahut mbak santi diujung sana,tetangga sebelah kanan rumahku.
“ Nisa mau ngomong sama ibunya Nisa mbak,boleh nggak minta tolong sama mbak?”
“ Oalaaah niiss,kangen ta? Yo wes mbak panggilkan ibumu yo? Biasanya sudah bangun kok ibunya Nisa.”

Tidak ada komentar: