Laman

Minggu, 10 April 2011

Laporan FISTUM Umiqo

LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN
Tekanan Osmosis Cairan Sel










OLEH
UMI QONAAH
05091007006






PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

INDRALAYA
2010


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tumbuhan tingkat tinggi tersusun dari banyak sel. Sel adalah unit terkecil, fungsional, struktural, hereditas, produksi, dan kehidupan yang terdiri atas tiga komponen utama yaitu membran, sitoplasma, dan inti sel. Sel dibagi menjadi dua macam, yaitu sel prokariotik dan sel eukariotik. Semua sel eukariotik memiliki sistem membran yang kompleks yang banyak berperan untuk kelangsungan hidup dan aktifitas sel tersebut. Kumpulan dari sel yang sama struktrurnya dan juga sama fungsinya itu akan membentuk jaringan. Sebanyak 80% dari keseluruhan jaringan yang ada dalam dalam tubuh tujmbuhan yang terdiri atas sel-sel hidup yang berdinding tipis, jaringan penimbun pada umbi kentang adalah salah satu contoh dari jaringan parenkimatis. Pertumbuhan bergantung kepada adanya pemasukan air ke dalam sel,yaitu pasokan air dari jaringan yang satu ke jaringan yang lain serta pasokan air dari lingkungan. Proses pemasukan air dari lingkungan ke jaringan sangat di pengaruhi oleh tekanan osmosis jaringannya. (Winduwati, 2000)
Peranan membran dalam aktivitas seluler yaitu mengatur keluar masuknya bahan antara sel dengan lingkungannya, antara sel dengan organel-organelnya. Selain itu membran juga berperan dalam metabolisme sel. Organel-organel sel seperti nukleus, kloroplas, mitokondria, dan retikulum endoplasma juga diselubungi membran. Membran atau plasmalema menyelubungi sel dengan fungsi mengatur keluar masuknya zat,menyampaikan atau menerima rangsang, dan memiliki struktur yang terdiri atas dua lipoprotein yang diantara molekulnya terdapat pori. Berdasarkan komposisi kimianya membran dan pemeabilitasnya terhadap solut maka dapat disimpulkan bahwa membran sel terdiri atas lipid dan protein. Membran memiliki lapisan ganda dan molekul-molekul fosfolipid yang letaknya teratur sedemikian rupa sehingga ujung karbon yang hidropobik terbungkus sedemikian rupa di dalam sebuah lapisan amorf dalam senyawa lipid. Komponen protein membran digambarkan sebagai suatu selaput yang menutupi kedua belah permukaan dan lapisa biomolekul posfolipid. (Wilkins, 1992)
Komposisi lipid dan protein penyusun membran bervariasi, bergantung pada jenis dan fungsi membran itu sendiri. Selain perbedaan diatas, ternyata membran mempunyai ciri-ciri yang sama, yaitu bersifat selektif permeabel terhadap molekul-molekul. Air, gas, dan molekul kecil hidrofobik secara bebas dapat melewati membran secara difusi sederhana. Ion dan molekul polar yang tidak bermuatan harus dibantu oleh protein permease spesifik untuk dapat diangkut melalui membran dengan proses yang disebut difusi terbantu (fasilitated diffusion). Kedua cara pengangkutan ini disebut transpor pasif. Untuk mengangkut ion dan molekul dalam arah yang melawan gradien konsentrasi, suatu proses transpor aktif harus diterapkan. Dalam hal ini protein aktifnya memerlukan energi berupa ATP, ataupun juga digunakan cara couple lewat proses antiport dan symport. (Anonimous, 2008). Berdasarkan ultra struktur dan fungsi membran terbukti bahwa membran tersusun oleh protein dan lemak yang memiliki struktur tiga lapisan dengan tebal kurang lebih 75 Angstrom. Berdasarkan model hipotesis Davson dan Danielli, lapisan protein mengapit lapisan biomolekul lemak (fosfolipid). (Wilkins, 1992)
Pertumbuhan bergantung kepada adanya pemasukan air ke dalam sel,yaitu pasokan air dari jaringan yang satu ke jaringan yang lain serta pasokan air dari lingkungan. Proses pemasukan air dari lingkungan ke jaringan sangat di pengaruhi oleh tekanan osmosis jaringannya. Jika sel tumbuhan di letakkan dalam suatu larutan manitol atau sukrosa encer,maka akan didapatkan adanya tekanan osmosis pada dinding sel. Jika larutan diluar sel konssentrasinya lebih pekat dari larutan didalam sel tumbuhan,maka volume sel akan menyusut dan inilah yang disebut dengan plasmolisis karena sebagian air dari sel keluar. Peristiwa plasmolisis satu sel dapat digunakan untuk menggambarkan plasmolisis pada sekumpulan sel dengan sifat-sifat yang sama.

B. Tujuan
Setelah menyelesaikan acara praktikum tekanan osmosis cairan sel ini,praktikan diharapkan dapat melakukan pengukuran besarnya tekanan osmosis cairan sel epidermis daun Rhoeo discolor.
II. Tinjauan Pustaka
Untuk dapat memahami penyerapan air oleh akar tanaman perlu di perhatikan penampang melintang dari akar. Akar tersusun atas sel epidermis, sel korteks, sel endodermis dan silinder pusat yang terdapat pembuluh xylem dan floem.
Sel endodermis yang memisahkan antara korteks dengan silinder pusat (stele) dicirikan oleh adanya penebalan (lapisan suberin) ke arah radial ataupun transversal dari sel endodermis ini yang dikenal sebagai pita kaspari yang tersusun atas lemak dan lignin yang sangat resisten terhadap transportasi air dan bahan terlarut.(Lakitan B,2010)
Pada bagian tertentu sel perisikel menerobos endodermis yang selanjutnya akan berkembang membentuk akar lateral. Sel perisikel ini dapat berfungsi sebagai sel peresap yang dapat dilewati air dan bahan terlarut. Transport air dalam jaringan akar dibedakan antara apoplas yang melewati ruang antar sel dan simplas yang melalui sel ke sel lewat plasmodesmata. Seluruh bagian dari dinding sel umumnya terbuka untuk aliran air dan bahan terlarut secara apoplas yang berkaitan dengan adanya ruang bebas (free space). Ruang bebas/pori yang terdapat dalam dinding sel ini disebut sebagai Apparent Free Space (AFS) yang terdiri dari Water Free Space (WFS) merupakan ruang bebas yang dapat diisi air dan ion dan Donnan Free Space di mana berlangsung pertukaran kation dan penolakan terhadap anion.(anonym,2010)
Apoplas pada korteks akar berhubungan langsung dengan medium tanah dan meningkat besarnya oleh adanya sejumlah rambut akar dan sel-sel yang relatif besar dengan sejumlah ruang antar sel. Penyerapan air dari medium tanah ke dalam korteks utamanya oleh daya kapileritas dan osmosis. Daya kapileritas ditimbulkan oleh adanya lubang-lubang halus (pori) dan kanal pada dinding sel. Selanjutnya sebagian air di rongga diikat sangat kuat dan berakibat pada potensi air yang rendah. Rendahnya potensi air ini dengan maksud air dapat ditahan dengan kuat. Hal ini berakibat bahwa ruang bebas pada jaringan akar tersebut nampak sangat resisten terhadap air.(Winduwati,2000)
Air dapat diserap dari pori di atas ke dalam sitoplasma melalui cara osmosis melintasi membran semipermeabel. Potensi osmosis dalam sitoplasma tergantung pada metabolisme. Proses-proses seperti penyerapan ion secara aktif, sinteisis asam organik dan sintesis gula akan menurunkan potensi osmosis (air) dalam sel dan berakibat meningkatkan penyerapan air.
Penyerapan air berkaitan dengan metabolisme dan faktor lain yang berpengaruh pada metabolisme sebagai pengaruh tidak langsung. Rendahnya suhu, kurangnya oksigen dan senyawa toksik akan menekan penyerapan air, karena akan mengganggu metabolisme. Demikian halnya aliran air antara vakuola dan sitoplasma dikendalikan oleh perbedaan potensi air. Tekanan akar dan daya kapileritas masih terlalu lemah dalam upaya transport air melewati xylem ke bagian atas tanaman, terutama pada tanaman dengan ketinggian yang cukup (hampir mencapai 100 m).
Air dalam medium tanah berhubungan dengan air dalam jaringan tanaman dan batas permukaan daun-atmosfer. Kesinambungan fasa air dan larutan tanah-tanaman-atmosfer ini disebut kesinambungan tanah-tanaman-atmosfer (soil plant atmosphere continue). Antara molekul-molekul air ini dihubungkan oleh daya kohesif. Pada permukaan daun, air berada pada kanal-kanal halus dan ruang antar sel di stomata. Bila berlangsung evaporasi, daya kapileritas dan sifat kohesif dari air memungkinkan terjadi aliran air melewati tanaman menggantikan air yang hilang di permukaan daun akibat evaporasi. Konsep aliran air dari larutan tanah ke akar tanaman sampai terjadi evaporasi di permukaan daun ini disebut sebagai hipotesis kohesi. (Saktiyono,2000)
Kecepatan evaporasi dari permukaan daun ini meningkat dengan lebih tingginya temperatur bila potensi air di atmosfer rendah. Proses evaporasi seperti dijelaskan di ats disebut transpirasi. Hal ini akan menimbulkan desakan tegangan atau sedotan pada saluran xylem, tegangan ini akan lebih tinggi di bawah kondisi transpirasi yang cepat atau tersedianya air yang rendah di medium akar.
Jaringan xylem memiliki perlengkapan yang baik agar tidak terpengaruh oleh pengaruh penyedotan air atau lebih tepatnya pengurangan air di saluran xylem. Elemen kayu dari dinding sel pembuluh xylem bersifat kaku yang dapat mencegah besarnya tekanan oleh sel yang berdekatan. Bila tidak demikian, maka sangat besar penurunan tekanan hidrostatik pada sel xylem yang berakibat retaknya tempat air dan terhalangnya aliran transpirasi oleh gelembung udara.
Resistensi aliran air sepanjang pembuluh xylem relatif rendah. Dinding sel xylem adalah permeabel terhadap molekul air. Beberapa air imbibisi ke dalam dinding sel dan ruang antar sel berdekatan. Serapan air oleh sel yang bersebelahan dapat terjadi secara osmosis. Resistensi terhadap aliran air dalam dinding sel xylem lebih tinggi daripada pembuluh xylem sehingga aliran air secara lateral dalam jaringan lebih rendah daripada translokasi ke atas.( Anonim,2010)
Absorpsi hara mineral oleh akar tanaman terbagi dalam tiga fase. Pertama adalah fase difusi,dimana hara mineral bergerak menuju permukaan sel-sel akar. Fase yang kedua adalah pertukaran unsur – unsur hara melalui membrane sel,suatu proses yang melibatkan permeabilitas suatu membrane. Sedangkan fase ketiga yaitu fase akumulasi,yang merupakan faseif dimana unsur hara ditimbun didalam vakuola. Melalui proses difusi,berbagai komponen larutan tanah masuk pula ion dan molekul bergerak menuju permukaan luar akar yang jumlahnya ditentukan oleh sifat membran protoplasma.(Lakitan B,2010)
Jika dilihat dari kemampuan melewatkan suatu zat,maka membran di bedakan menjadi membrane impermeable,semipermeabel dan membrane permeable. Proses fisiologi yang berlangsung pada tumbuhan banyak yang berkaitan dengan air dan bahan-bahan yang terlarut dalam air seperti unsure hara dan garam-garam mineral. Air dan bahan-bahan terlarut dapat diserap dari pori di atas ke dalam sitoplasma melalui cara osmosis ataupun melalui difusi melintasi membran semipermeabel Membran semipermiabel adalah selaput pemisah yang hanya bisa ditembus oleh air dan zat tertentu yang larut di dalamnya. Keadaan tegang yang timbul antara dinding sel dengan dinding isi sel karena menyerap air disebut turgor, sedang tekanan yang ditimbulkan disebut tekanan turgor. Untuk sel tumbuhan bersifat selektif semipermiabel. Setiap sel hidup merupakan sistem osmotik. Jika sel ditempatkan dalam larutan yang lebih pekat (hipertonik) terhadap cairan sel, air dalam sel akan terhisap keluar sehingga menyebabkan sel mengkerut. Peristiwa ini disebut plasmolisis. (Saktiyono,2000)
Pada sel endodermis tanaman yang memisahkan antara korteks dengan silinder pusat (stele) dicirikan oleh adanya penebalan (lapisan suberin) ke arah radial ataupun transversal dari sel endodermis ini yang dikenal sebagai pita kaspari yang tersusun atas lemak dan lignin yang sangat resisten(impermeable) terhadap transportasi air dan bahan terlarut. Pada bagian tertentu sel perisikel menerobos endodermis yang selanjutnya akan berkembang membentuk akar lateral. Sel perisikel ini dapat berfungsi sebagai sel peresap yang dapat dilewati air dan bahan terlarut.(anonym,2010)























III. ALAT DAN BAHAN SERTA CARA KERJA
A. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu: 1) 7 buah botol vial, 2) 7 buah pipet 5 ml dan 10 ml, 3) pisau silet atau karter, 4) 2 buah pinset, 5) jarum bertangkai, 6) mikroskop dengan gelas objek dan kaca penutupnya.
Sedangkan bahan yang digunakan yaitu: 1) daun Rhoeo discolor, 2) larutan gula sukrosa dengan konsentrasi 0 M, 0.16 M, 0.18 M, 0.20 M, 0.22 M, 0.24 M, 0.26 M.

B. Cara Kerja
Adapun cara kerja praktikum kali ini,mula-mula botol vial diisi dengan 5 ml larutan sukrosa. Setiap botol mewakili satu konsentrasi larutan. Selanjutnya,dengan menggunakan pisau silet,bagian bawah daun Rhoeo discolor di sayat tipis membujur pada bagian yang berwarna ungu. Tiap satu botol vial yang berisi larutan sukrosa dimasukkan 3 sayatan epidermis. Lalu sayatan itu didiamkan didalam botol vial selama 30 menit. Setelah 30 menit sayatan tadi diletakkan di atas gelas objek. Pada gelas objek juga ditetesi larutan sukrosa dengan konsentrasi yang sama pada masing-masing botol vial. Selanjutnya sayatan tadi diamati di bawah mikroskop. Hasilnya diamati dan dicatat serta gambar yang diperoleh difoto.









IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berikut adalah hasil yang diperoleh pada praktikum:
tabel hasil pengamatan

Konsentrasi (M) Plasmolisis Tidak plasmolisis
0 - +
0.16 + -
0.18 + -
0.20 + -
0.22 + -
0.24 + -
0.26 + -

1. gambar pengamatan
Berikut ini dalah hasil pemotretan sel rhoeo discolor:





Gambar 1.0 M Gambar 2. 0.16 M










Gambar 3. 0.18 M Gambar 4. 0.20 M






Gambar 5. 0.24 M Gambar 6. 0.26 M














B. Pembahasan

Dari hasil praktikum ini dapat dilihat bahwa keseluruhan perlakuan (kecuali yang kontrol),sel epidermis Rhoeo discolor mengalami plasmolisis. Terjadinya plasmolisis ini karena konsentrasi larutan sukrosa itu lebih pekat di bandingkan larutan di dalam epidermis sel Rhoeo discolor. Semakin tinggi konsentrasinya maka tingkat plasmolisisnya akan semakin besar pula.
Pada kali ini,ada kesalahan yang dibuat oleh praktikan sehingga yang semestinya terdapat perbedaan pada masing-masing perlakuan tidak di peroleh. Hal ini terjadi karena,prakitikan menyetarakan waktu menunggu 30 menit yang seharusnya dimulai saat sayatan di masukkan dalam botol tetapi dihitung sejak sayatan terakhir dari seluruh perlakuan. Akibatnya, rendaman di larutan sukrosa waktunya tidak seragam,lebih banyak yang lewat dari 30 menit. Untuk potensial osmosis cairan sel tidak dapat dihitung sebab jumlah sel yang terjadi plasmolisis dan yang tidak terjadi plasmolisis tidak dihitung,sehingga untuk menemukan pada konsentrasi berapa terjadinya plasmolisis insipien tidak dapat diketahui oleh praktikan.
Pada sel yang mengalami plasmolisis,maka akan tampak warna ungu yang keluar dari sel. Sedangkan untuk sel yang tidak mengalami plasmolisis,pigmen antosianinnya tidak keluar .(tidak berwarna ungu). Dilihat dari hasil pemotretan mikroskop tersebut,hanya larutan yang konsentrasinya 0 M yang tidak mengalami plasmolisis. Dalam bukunya yang berjudul Botani Umum, dalam Tjitrosomo (1987) mengemukakan bahwa sel yang isinya air murni tidak mengalami plasmolisis. Jika suatu sel dimasukan ke dalam air murni, maka struktur sel itu terdapat potensial air yang nilainya tinggi (=0), sedangkan di sel terdapat nilai potensial air yang lebih rendah (negatif). Hal ini menyebabkan air akan bergerak dari luar sel masuk ke dalam sel sehingga tercapai keadaan setimbang dari kedua larutan tersebut. Sedangkan untuk konsentrasi lainnya,hamper seluruh selnya mengalami plasmolisis,dan tingkat plasmolisis tertinggi pada konsentrasi 0.26 M.


V. Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh yaitu:
1. dari hasil praktikum ini dapat dilihat bahwa keseluruhan perlakuan (kecuali yang kontrol (0M),sel epidermis rhoeo discolor mengalami plasmolisis.
2. Tjitrosomo (1987) mengemukakan bahwa sel yang isinya air murni tidak mengalami plasmolisis. Jika suatu sel dimasukan ke dalam air murni, maka struktur sel itu terdapat potensial air yang nilainya tinggi (=0), sedangkan di sel terdapat nilai potensial air yang lebih rendah (negatif). Hal ini menyebabkan air akan bergerak dari luar sel masuk ke dalam sel sehingga tercapai keadaan setimbang dari kedua larutan tersebut
3. terjadinya plasmolisis ini karena konsentrasi larutan sukrosa itu lebih pekat di bandingkan larutan di dalam epidermis sel Rhoeo discolor.
4. pada sel yang mengalami plasmolisis,maka akan tampak warna ungu yang keluar dari sel.
5. untuk sel yang tidak mengalami plasmolisis, pigmen antosianinnya tidak keluar .(tidak berwarna ungu).

B. Saran
Saran yang dapat diberikan yaitu,agar pengukuran sel yang mengalami plasmolisis dan tidaknya diukur,supaya tahu dimana sel mengalami plasmolisis insipient.



DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2010. Tekanan Osmosis Sel. http://jevuska.com/tekanan-osmosis-sel/
(diakses Sabtu,5-11-2010)

Lakitan B.2010. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Rajawali Press: Jakarta
Pusat Pengembangan Pengelolaan Limbah Radio Aktif.

Tjitrosomo.1987. Botani Umum 2. Penerbit Angkasa: Bandung.

Wilkins, M. B. 1992. Fisiologi Tanaman. Bumi Angkasa: Jakarta.

Winduwati S et al. 2000. Karakteristik Osmosis Balik Membran Spiral Wound.

Laporan pestisida & aplikasi Umiqo

LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM PESTISIDA DAN APLIKASINYA
Dampak Penggunaan Pestisida Terhadap Lingkungan








OLEH
UMI QONAAH
05091007006
KELOMPOK III








PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

INDRALAYA
2011
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam proses budi daya pertanian tidak terlepas dari apa yang namanya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), kerugian akibat serangan hama bisa mencapai 37 %, penyakit 35 %, gulma 29 %, dan bahkan akibat yang di timbulkan oleh serangan hama tikus bisa menyebabkan gagal panen (puso). Pengendalian OPT bertujuan untuk mempertahankan produksi pertanian agar produksi tetap optimal, pengendalian hama adalah usaha –usaha manusia untuk menekan populasi hama sampai dibawah ambang batas yang merugikan secara ekonomi (serech,2006)
Pengendalian dapat dilakukan dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu memilih suatu cara atau menggabungkan beberapa cara pengendalian, sehingga tidak merugikan secara ekonomis, biologi dan ekologi. Dengan tingkat kesadaran yang tinggi tentang lingkungan yang sehat dan pertanian yang berkelanjutan diperlikan cara pengendalian yang tepat. Dalam menangani OPT (organisme pengganggu tanaman) petani dewasa ini sering menggunakan pestisida. Pestisida merupakan zat yang mampu membasmi OPT. (Suharno,2005)
Pestisida dalam hal ini merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan hama untuk menurunkan populasi hama yang sedang menyerang tanaman. Menurut UU RI No. 12/1992 : Pestisida adalah zat atau senyawa kimia, zat pengatur, dan perangsang tumbuh, bahan lain serta organisme renik atau virus yang digunakan untuk melakukan perlindungan tanaman.
Pestisida adalah suatu bahan kimia yang digunakan oleh para petani untuk menjaga tanamannya dari serangan hama. Dengan menggunakan pestisida semua tanaman para petani akan terhindar dari segala macam hama. Sehingga apabila tanaman petani tersebut terhindar dari serangan hama, maka tanaman petani akan bagus dan akan menghasilkan hasil yang banyak dan akan terus meningkat. Oleh karena itu apabila hasil pertanian meningkat otomatis kehidupan para petani akan sejahtera. Tetapi dibalik semua itu penggunaan pestisida sangat berdampak buruk bagi lingkungan sekitar kita. Pestisida dapat merusak makhluk hidup yang ada di air yaitu dengan cara apabila petani menggunakan pestisida di daerah persawahan maka titik-titik air yang ada pada pestisida akan mengalir ke sungai dan dapat meracuni ikan-ikan yang ada di sungai. Selain itu pestisida dapat menyuburkan ganggang yang ada di sungai. Apabila ganggang yang ada di sungai menjadi subur maka cahaya matahari akan sulit masuk ke dalam sungai. Ini dapat menyebabkan makhluk hidup yang ada di air tidak mendapat cahaya. Contohnya fitoplankton, apabila fitoplankton tidak mendapatkan cahaya maka tidak akan bisa berfotosintesis dan tidak dapat lagi menghasilkan makanan untuk hewan-hewan yang ada di dalam air.
Pestisida tidak hanya dapat merusak makhluk hidup yang ada di air, melainkan pestisida juga dapat mencemari udara karena pestisida mengandung gabungan dari beberapa zat kimia yang menghasilkan bau tak enak dan dapat merusak pernapasan. Pestisida juga dapat merusak kulit para petani. Apabila petani terlalu sering kontak kulit dengan pestisida maka akan mengakibatkan iritasi pada kulit. Pestisida juga membuat hasil pertanian menjadi tidak sehat lagi misalnya pada buah-buahan. Untuk mendapatkan hasil yang bagus kebanyakan para petani sekarang ini menyemprotkan pestisida ke tanaman buah yang ditanamnya. Maka pestisida yang disemprotkan tersebut akan diserap oleh buah dan apabila kita makan maka dapat merusak kesehatan kita.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui dampak dari penggunaan pestisida terhadap lingkungan.










I. TINJAUAN PUSTAKA
Hampir semua diantara kita pernah mendengar kata pestisida, herbisida, insektisida atau nama lainnya. Hampir dalam semua sisi kehidupan kita tidak bisa lepas dari pestisida dalam berbagai bentuknya. Dari gunung sampai pantai, dari desa sampai kota. Petani di pegununganpun tidak lepas dari penggunaan pestisida. Petani sayuran di Dieng, Kopeng, atau petani tembakau di lereng gunung Sindoro dan Sumbing. Nelayan dalam pembuatan ikan asin misalnya, ada yang menggunakan pestisida. Tentunya cara ini tidak dibenarkan, namun demikian adanya masyarakat kita. Pemakaian pestisida di rumah tangga seperti penggunaan obat nyamuk, anti rayap / ngengat, pengusir nyamuk (repelent) dan banyak lagi macamnya. Untuk itulah kita perlu mengenal lebih jauh tentang pestisida.
Penggunaan pestisida dalam pembangunan di berbagai sektor seperti pertanian, kesehatan masyarakat, perdagangan dan industri semakin meningkat. Pestisida terbukti mempunyai peranan yang penting dalam peningkatan kesejahteraan rakyat. Pada bidang pertanian termasuk pertanian rakyat maupun perkebunan yang dikelola secara profesional dalam skala besar menggunakan pestisida yang sebagian besar adalah golongan organofosfat. Demikian pula pada bidang kesehatan masyarakat pestisida yang digunakan sebagian besar adalah golongan organofosfat. Karena golongan ini lebih mudah terurai di alam.
Penggunaan pestisida di bidang pertanian saat ini memegang peranan penting. Sebagian besar masih menggunakan pestisida karena kemampuannya untuk memberantas hama sangat efektif. Pestisida adalah bahan yang beracun dan berbahaya, yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan. Dampak negatif tesebut akan menimbulkan berbagai masalah baik secara langsung ataupun tidak, akan berpengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia seperti keracunan. Dampak negatif yang terjadi dari penggunaan pestisida pada pengendalian hama adalah keracunan, khususnya para petani yang sering / intensif menggunakan pestisida.
Penggunaan pestisida di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Menurut Atmawijaya, pada tahun 1985 diperkirakan menggunakan 10.000 ton pestisida, pada tahun 1991 meningkat menjadi 600.000 ton. Jumlah ini mencapai 5 % konsumsi dunia. Keracunan pestisida terjadi di banyak negara seperti di Turki, Pakistan Barat, Iraq dan Guatemala. Keracunan makanan yang terkontaminasi pestisida parathion seperti tepung dan gula ditemukan diberbagai negara. (Philp, 1995) Di negara lain seperti di Afrika Selatan pernah dilaporkan 10.000 orang meninggal dunia akibat keracunan kronis organofosfat tahun 1959. Di Amerika Selatan ribuan orang mengalami kelumpuhan pada tahun 1978.
Di Indonesia juga banyak terjadi kasus keracunan antara lain di Kulon Progo terdapat 210 kasus keracunan dengan pemeriksaan fisik dan klinis, 50 orang diantaranya diperiksa laboratorium dengan hasil 15 orang (30 %) keracunan, di Kabupaten Sleman dilaporkan dari 30 orang petugas pemberantas hama 14 orang (46,66 %) mengalami gejala keracunan. Untuk melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan terhadap dampak negatif akibat penggunaan pestisida, perlu adanya upaya pengawasan pengamanan pestisida. Upaya pengamanan pestisida ditujukan untuk mencegah dan menanggulangi dampak negatif penggunaan pestisida terhadap kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan melalui usaha-usaha pengawasan terhadap penggunaan pestisida dan pengendalian terhadap pencemaran dan keracunan pestisida.
Salah satu penggunaan pestisida yang cukup banyak adalah di bidang pertanian dan kesehatan. Di Bidang Pertanian, penggunaan pestisida banyak dipakai untuk memberantas hama pada tanaman buah, sayur dan sebagainya. Akhir-akhir ini penggunaan pestisida pada tanaman sayuran juga cukup tinggi. Para petani yang dulu tidak banyak mengenal pestisida, sekarang sudah akrab dan intensif mengguanakannya. Pengertian Pestisida Secara harfiah pestisida berarti pest killing agent atau bahan pembunuh hama. (Tan Malaka, 1994) Pengertian menurut Sub Dit P2 Pestisida (1990), adalah semua bahan kimia, binatang maupun tumbuhan yang digunakan untuk mengendalikan hama. Pengertian lain tentang pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus digunakan untuk:
- memberantas atau mencegah hama dan penyakit yang merusak tanaman.
- memberantas rerumputan
- mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan.
- mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman
- memberantas atau mencegah hama luar pada hewan peliharaan.
- memberantas atau mencegah hama-hama air.
- memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah, alat-alat angkutan, dan alat-alat pertanian.
- memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada
manusia atau binatang yang dapat menyebabkan penyakit yang perlu dilindungi.
(Syamsuir Munaf, 1997)
Ternyata, puncak kejayaan pestisida sekitar tahun 1984-1985 telah membawa dampak yang sangat dahsyat terhadap ekosistem yang ada. Meskipun penggunaan pestisida makin ditingkatkan , masalah hama-hama terutama wereng tidak dapat diatasi, malah makin mengganas. Kita tidak sadar, bahwa mengganasnya hama wereng tersebut akibat penggunaan pestisida yang berlebihan. Pestisida juga menimbulkam masalah lingkungan seperti matinya makhluk bukan sasaran (ikan, ular, katak, belut, bebek, ayam, cacing tanah dan serangga penyerbuk) dan musuh alami (predator, parasitoid), residu pestisida dalam bahan makanan, pencemaran air, tanah, udara dan keracunan pada manusia serta ongkos produksi yang sangat mahal dan sia-sia.
Gejala keracunan pada manusia yang timbul secara umum badan lemah atau lemas. Pada kulit, menyebabkan iritasi seperti terbakar, keringat berlebihan, noda. Pada mata, gatal, merah berair, kabur atau tidak jelas, bola mata mengecil atau membesar. Pengaruh pestisida pada sistem pencernaan seperti rasa terbakar pada mulut dan tenggorokan, liur berlebihan, mual, muntah, sakit perut dan diare. Sedang pada sistem syaraf, seperti sakit kepala, pusing, bingung, gelisah, otot berdenyut, berjalan terhuyung-huyung, bicara tak jelas, kejang-kejang tak sadar. Pada sistem pernafasan, batuk, sakit dada dan sesak nafas, kesulitan bernafas dan nafas bersuara.
Kenyataan ini mendorong pemerintah secara bertahap mengubah kebijakan pemberantasan hama dari pendekatan unilateral ke pendekatan yang komprehensif, berdasarkan prinsip-prinsip ekologis yang dikenal dengan pengelolaan hama terpadu (pht). Akhirnya tahun 1986, pemerintah melarang penggunaan 57 formulasi pestisida pada padi dan tahun 1996 melarang ke 57 formulasi tersebut pada semua tanaman dan tidak menerima lagi pendaftaran ulang bagi pestisida yang sudah berakhir masa berlakunya. Diantaranya DDT, Thiodan 35 EC, Nuvacron 150 WSC, Basudin 60 EC, Azodrin 15 WSC, dll. Larangan tersebut diikuti dengan pencabutan subsidi pestisida sekitar tahun 1989 sehingga harga melambung tinggi. Dukungan politik PHT dengan dikeluarkannya INPRES No. 3/1986 dan diperkuat dengan Undang-Undang No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, khususnya pada pasal 20 tentang Sistem PHT dan pasal 21 tentang kegiatan perlindungan tanaman serta pasal 40 tentang larangan atau pembatasan penggunaan pestisida tertentu.
PHT adalah suatu cara pendekatan/cara berfikir/falsafah pengendalian hama didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam kerangka pengelolaan agroekosistem secara keseluruhan. Konsep PHT merupakan suatu konsep atau cara pendekatan pengendalian hama yang secara prinsip berbeda dengan konsep pengendalian hama konvensional yang selama ini sangata tergantung pada pestisida. Konsep ini timbul dan berkembang di seluruh dunia kerena kesadaran manusia terhadap bahaya penggunaan pestisida yang terus meningkat bagi lingkungan hidup dan kesejahteraan masyarakat. Konsep PHT sangat selaras dengan pertanian berkelanjutan, yaitu pertanian yang memenuhi kebutuhan kini tanpa berdampak negative atas sumber daya fisik yang ada, sehingga tidak membahayakan kapasitas dan potensi pertanian masa depan untuk memuaskan aspirasi kebendaan dan lingkungan generasi mendatang. Dalam pertanian berkelanjutan mencakup konsep antara lain;
1) meminimumkan ketergantungan pada energi, mineral dan sumber daya kimiawi yang tidak terbarukan,
2) menurunkan pengaturan udara, air dan lahan di luar kawasan usaha tani,
3) harus mempertahankan kecukupan habitat bagi kehidupan alami,
4) konservasi sumber daya genetik dalam species tumbuhan dan hewan yang diperlukan pertanian,
5) sistem pertanian harus mampu mempertahankan produksi sepanjang waktu menghadapi tekanan-tekanan ekologi, sosial dan ekonomi, dan
6) kegiatan produksi jangan sampai menguras sumber daya terbarukan.
penggunaan pestisida telah menimbulkan dampak negatif, baik itu bagi kesehatan manusia maupun bagi kelestarian lingkungan. Dampak negatif ini akan terus terjadi seandainya kita tidak hati-hati dalam memilih jenis dan cara penggunaannya. Adapun dampak negatif yang mungkin terjadi akibat penggunaan pestisida diantaranya :
- Tanaman yang diberi pestisida dapat menyerap pestisida yang kemudian terdistribusi ke dalam akar, batang, daun, dan buah. Pestisida yang sukar terurai akan berkumpul pada hewan pemakan tumbuhan tersebut termasuk manusia. Secara tidak langsung dan tidak sengaja, tubuh mahluk hidup itu telah tercemar pestisida. Bila seorang ibu menyusui memakan makanan dari tumbuhan yang telah tercemar pestisida maka bayi yang disusui menanggung resiko yang lebih besar untuk teracuni oleh pestisida tersebut daripada sang ibu. Zat beracun ini akan pindah ke tubuh bayi lewat air susu yang diberikan. Dan kemudian racun ini akan terkumpul dalam tubuh bayi (bioakumulasi).
- Pestisida yang tidak dapat terurai akan terbawa aliran air dan masuk ke dalam sistem biota air (kehidupan air). Konsentrasi pestisida yang tinggi dalam air dapat membunuh organisme air diantaranya ikan dan udang. Sementara dalam kadar rendah dapat meracuni organisme kecil seperti plankton. Bila plankton ini termakan oleh ikan maka ia akan terakumulasi dalam tubuh ikan. Tentu saja akan sangat berbahaya bila ikan tersebut termakan oleh burung-burung atau manusia. Salah satu kasus yang pernah terjadi adalah turunnya populasi burung pelikan coklat dan burung kasa dari daerah Artika sampai daerah Antartika. Setelah diteliti ternyata burung-burung tersebut banyak yang tercemar oleh pestisida organiklor yang menjadi penyebab rusaknya dinding telur burung itu sehingga gagal ketika dierami. Bila dibiarkan terus tentu saja perkembangbiakan burung itu akan terhenti, dan akhirnya jenis burung itu akan punah.
- Ada kemungkinan munculnya hama spesies baru yang tahan terhadap takaran pestisida yang diterapkan. Hama ini baru musnah bila takaran pestisida diperbesar jumlahnya. Akibatnya, jelas akan mempercepat dan memperbesar tingkat pencemaran pestisida pada mahluk hidup dan lingkungan kehidupan, tidak terkecuali manusia yang menjadi pelaku utamanya.
- Selain merusak ekosistem, pestisida juga dapat mengganggu kesehatan terutama kesehatan petani. Drngan seringnya menggunakanpestisida, maka kontak kulit dengan pestisida juga akan semakin sering dan dapat mengakibatkan iritasi kulit. Atau jika pestisida terhirup dan masuk paru-paru, dapat mengganggu kesehatan pernafasan.
- Dengan adanya dampak buruk dari pestisida, para petani lebih dianjurkan menggunakan sistem pertanian organik yang tidak menggunakan bahan kimia sama sekali. Tetapi pertanian dengan metode ini juga memiliki resiko yaitu rentan untuk terserang hama. Tetapi hasil dari pertanian ini sanngat sehat dan tidak akan mengganggu kesehatan.
- Penelitian lain juga menyebutkan bahwa resiko kanker pada oarang-orang yang merokok disebabkan oleh penggunaan pestisida pada saat menanam tembakau. Jika kita membandingkan orang-orang zaman dahulu, walaupun mereka perokok, tetapi mereka tetap sehat dan tidak mengalami penyakit kanker. Kemungkinan ini disebabkan karena zaman dahulu belum digunakannya pestisida saat menanam tembakau.
- Oleh karena itu, para petani diharapkan tidak terlalu banyak menggunakan pestisida dan melakukan pertanian organik. Pertanian organik ini sangat bermanfaat dan tidak memiliki efek samping yang membahayakan bagi lingkungan maupun tubuh. Berikut ini dampak penggunaan terhadap ikan gabus.




A. Sistematika ikan gabus
Menurut Bloch (1793),berikut adalah taksonomi dari ikan gabus:

kerajaan: animalial

filum: chordata

kelas: actinopterygii

ordo: perciformes

famili: channidae

genus: channa

spesies: channa striata



B. Morfologi Ikan Gabus
Ikan gabus adalah sejenis ikan buas yang hidup di air tawar. Ikan ini dikenal dengan banyak nama di berbagai daerah: aruan, haruan (Mly.,Bjn), kocolan (Btw.), bogo (Sd.), bayong, bogo, licingan (Bms.), kutuk (Jw.), dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris juga disebut dengan berbagai nama seperti common snakehead, snakehead murrel, chevron snakehead, striped snakehead dan juga aruan. Nama ilmiahnya adalah Channa striata. Gabus dan kerabatnya termasuk hewan Dunia Lama, yakni dari Asia (genus Channa) dan Afrika (genus Parachanna). Seluruhnya kurang lebih terdapat 30 spesies dari kedua genus tersebut.

C. Bioekologis Ikan Gabus
Ikan gabus biasa didapati di danau, rawa, sungai, dan saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah. Ikan ini memangsa aneka ikan kecil-kecil, serangga, dan berbagai hewan air lain termasuk berudu dan kodok. Pada musim kawin, ikan jantan dan betina bekerjasama menyiapkan sarang di antara tumbuhan dekat tepi air. Anak-anak ikan berwarna jingga merah bergaris hitam, berenang dalam kelompok yang bergerak bersama-sama kian kemari untuk mencari makanan. Kelompok muda ini dijagai oleh induknya.
Di Indonesia terdapat beberapa spesies Channa ; yang secara alami semuanya menyebar di sebelah barat Garis Wallace. Namun kini ikan gabus sudah diintroduksikan ke bagian timur pula. Salah satu kerabat dekat gabus adalah ikan toman (Channa micropeltes), yang panjang tubuhnya dapat melebihi 1 m dan beratnya lebih dari 5 kg.Pestisida Yang Digunakan























III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Tempat dan waktu pelaksanaan praktikum
Praktikum yang berjudul pestisida berdasarkan cara kerjanya dilaksanakan pada hari kamis, 31 maret 2011 di laboratorium insektarium,jurusan hama dan penyakit tumbuhan,Universitas Sriwijaya.

B. Alat dan bahan
Adapun alat yang digunakan yaitu: 1) gelas aqua bekas, 2)gelas kaca , dan 3) stopwatch Hp. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu: 1) 2 ekor anakan ikan gabus , 2) insektisida jenis HIT 1,4 AE, 3) air, dan 4) dan kertas penutup.

C. Cara kerja
Adapun cara kerjanya yaitu sebagai berikut: 1) masukkan kedua ekor ikan gabus tersebut kedalam gelas aqua yang telah berisi air, 2) semprotkan insektisida kedalam larutan tersebut secukupnya, 3) tutup aqua tersebut dengan kertas dan amati respon dari kerja insektisida tersebut dengan mencatat waktunya dengan stopwatch.











II. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berikut ini tabel hasil pengamatan
No Nama Ikan Nama Pestisida Jumlah Awal Waktu Mati Perilaku Keracunan Jumlah Mati /Menit
1 Ikan gabus (Channa striata) HIT 1,4 AE 2 Ekor 00:11:22 Kejang,hiperaktif,menggelepar dan mati 2 ekor/ 11 menit









B. Pembahasan
Dalam percobaan ini diasumsikan telah terjadi peracunan atau pencemaran oleh pestisida terhadap ikan gabus dengan menggunakan insektisida dengan nama dagang HIT 1,4 AE. HIT 1,4 AE yang digunakan adalah jenis insektisida yang bekerja sebagai racun pernafasan dan juga racun kontak.
1. Racun kontak
Insektisida ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui permukaan tubuhnya khususnya bagian kutikula yang tipis, misal pada bagian daerah perhubungan antara segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari lempengan tubuh, pada bagian pangkal rambut dan pada saluran pernafasan (spirakulum). Racun kontak itu dapat diaplikasikan langsung tertuju pada jasad sasaran atau pada permukaan tanaman atau pada tempat-tempat tertentu yang biasa dikunjungi serangga. Racun kontak mungkin diformulasikan sebagai cairan semprot atau sebagai serbuk. Racun kontak yang telah melekat pada serangga akan segera masuk ke dalam tubuh dan disinilah mulai terjadi peracunan.
Yang digolongkan sebagai insektisida kontak adalah :
a. Bahan kimia yang berasal dari kestrak tanamaan, seperti misalnya nikotin, rotenon, pirethrum.
b. Senyawa sintesis organik, misal BHC, DDT, Chlordan, Toxaphene, Phosphat organik.
c. Minyak dan sabun.
d. Senyawa anorganik seperti misalnya Sulfur dan Sulfur kapur.
2. Racun pernafasan
Bahan insektisida ini biasanya bersifat mudah menguap sehingga masuk ke dalam tubuh serangga dalam bentuk gas. Bagian tubuh yang dilalui adalah organ-organ pernafasan seperti misalnya spirakulum. Oleh karena bahan tersebut mudah menguap maka insektisida ini juga berbahaya bagi manusia dan binatang piaraan. Racun pernafasan bekerja dengan cara menghalangi terjadinya respirasi tingkat selulair dalam tubuh serangga dan bahan ini sering dapat menyebabkan tidak aktifnya enzim-enzim tertentu. Contoh racun nafas adalah : Hidrogen cyanida dan Carbon monoksida.
Dari uji dampak pestidida dalam praktikum ini,dapat praktikan jelaskan bahwa penggunaan pestisida dilapangan memang harus sangat hati-hati, terutama pada lahan persawahan atau lahan yang dekat dengan perairan. Pestidida yang mencemari air,jika dalam kadar yang sedikit belum menunjukkan reaksi berbahayanya. Akan tetapi, jika hal itu terjadi secara kontinyu dan terjadi akumulasi residu pestisida maka hal itu benar-benar sangat membahayakan ekosistem di daerah tersebut juga membahayakan jejaring makanan yang berhubungan di dalamnya.
Pestisida, tidak hanya membunuh atau meracuni ikan yang besar saja,akan tetapi ikan-ikan yang masih kecilpun dapat mati. Lantas,jika ikan tersebut termakan oleh hewan,ataupun manusia,maka racun dari pestisida tersebut juga akan membahayakan uang memakan ikan tersebut, inilah yang akhirnya menjadi siklus pembesaran ekologis dari penyakit yang timbul karena residu dari pestisida.
Dari insektisida yang dipakai, HIT berformulasi AE atau Aerosol yang memang dikemas untuk diaplikasikan dengan cara disemprotkan. Ketika HIT ini di semprotkan kedalam botol yang berisi 2 ekor anakan ikan gabus, anakan ikan tersebut kejang,setelah itu timbul prilaku diam dan hiperaktif. HIT 1,4 AE yang mengandung bahan aktif propoksur 1,18 %dan d-aletrin 0,22 % terbukti mampu membunuh anakan ikan gabus dalam waktu 11 menit saja. HIT 1,4 AE terbukti tidak hanya membunuh serangga saja,akan tetapi mampu juga membunuh hewan kelas ikan dimana sifat kerja insektisida tersebut memang mengganggu metabolism dari ikan percobaan. Sebab Aerosol tidak seluruhnya terurai dalam air,dan pestisida yang tidak dapat terurai akan terbawa aliran air dan masuk ke dalam sistem biota air (kehidupan air). Konsentrasi pestisida yang tinggi dalam air dapat membunuh organisme air diantaranya ikan dan udang. Sementara dalam kadar rendah dapat meracuni organisme kecil seperti plankton. Bila plankton ini termakan oleh ikan maka ia akan terakumulasi dalam tubuh ikan.



III. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu:
1. Dalam percobaan ini diasumsikan telah terjadi peracunan atau pencemaran oleh pestisida terhadap ikan gabus dengan menggunakan insektisida dengan nama dagang HIT 1,4 AE.
2. HIT 1,4 AE yang digunakan adalah jenis insektisida yang bekerja sebagai racun pernafasan dan juga racun kontak.
3. Racun pernafasan bekerja dengan cara menghalangi terjadinya respirasi tingkat selulair dalam tubuh serangga dan bahan ini sering dapat menyebabkan tidak aktifnya enzim-enzim tertentu.
4. Dari insektisida yang dipakai, HIT berformulasi AE atau Aerosol .
5. Ketika HIT ini di semprotkan kedalam botol yang berisi 2 ekor anakan ikan gabus, anakan ikan tersebut kejang,setelah itu timbul prilaku diam dan hiperaktif.
6. HIT 1,4 AE yang mengandung bahan aktif propoksur 1,18 %dan d-aletrin 0,22 %.
7. Sebab Aerosol tidak seluruhnya terurai dalam air,dan pestisida yang tidak dapat terurai akan terbawa aliran air dan masuk ke dalam sistem biota air (kehidupan air).

B. Saran
Saran yang dapat diberikan yaitu agar aplikasi dampak ini lebih serius lagi dilakukan.





DAFTAR PUSTAKA
Anonim,2011. Dampak negatif pestisida(online),http://arianus.wordpress.com (diakses rabu, 6 April 2011)

Anonim,2011. Dampak pestisida terhadap kesehatan(Online) http://mathedu-unila.blogspot.com ( diakses rabu, 6 April 2011)


Anonim,2011. Dampak penggunaan sedang pestisida (Online) http://blog.unila.ac.id/suryantoro. ( diakses rabu, 6 April 2011)


Anonimous,2011.(Online). Serangga atau insect. http://findoutwhat.wordpress.com (diakses Rabu, 30 Maret 2011) ( diakses rabu, 18April 2011)


Suharno, 2005. Perlindungan Tanaman. Diktat STPP, jurluhtan, yogyakarta

Umi Qonaah: Laporan pestisida & aplikasi Umiqo

Umi Qonaah: Laporan pestisida & aplikasi Umiqo

Laporan pestisida & aplikasi Umiqo

LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM PESTISIDA DAN APLIKASINYA
Pestisida Berdasarkan Cara Kerjanya








OLEH
UMI QONAAH
05091007006
KELOMPOK III








PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

INDRALAYA
2011


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam proses budi daya pertanian tidak terlepas dari apa yang namanya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), kerugian akibat serangan hama bisa mencapai 37 %, penyakit 35 %, gulma 29 %, dan bahkan akibat yang di timbulkan oleh serangan hama tikus bisa menyebabkan gagal panen (puso). Pengendalian OPT bertujuan untuk mempertahankan produksi pertanian agar produksi tetap optimal, pengendalian hama adalah usaha –usaha manusia untuk menekan populasi hama sampai dibawah ambang batas yang merugikan secara ekonomi (serech,2006)
Pengendalian dapat dilakukan dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu memilih suatu cara atau menggabungkan beberapa cara pengendalian, sehingga tidak merugikan secara ekonomis, biologi dan ekologi. Dengan tingkat kesadaran yang tinggi tentang lingkungan yang sehat dan pertanian yang berkelanjutan diperlikan cara pengendalian yang tepat. Dalam menangani OPT (organisme pengganggu tanaman) petani dewasa ini sering menggunakan pestisida. Pestisida merupakan zat yang mampu membasmi OPT. (Suharno,2005)
Pestisida dalam hal ini merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan hama untuk menurunkan populasi hama yang sedang menyerang tanaman. Menurut UU RI No. 12/1992 : Pestisida adalah zat atau senyawa kimia, zat pengatur, dan perangsang tumbuh, bahan lain serta organisme renik atau virus yang digunakan untuk melakukan perlindungan tanaman. Kelompok utama pestisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga hama diberi nama masing-masing sesuai dengan hama sasarannya dan juga cara kerjanya. Dengan demikian penggolongan pestisida berdasarkan jasad sasaran dibagi menjadi :
a. Insektisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa serangga. Contoh : Bassa 50 EC Kiltop 50 EC dan lain-lain.
b. Nematisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa cacing-cacing parasit yang biasa menyerang akar tanaman. Contoh : Furadan 3 G.
c. Rodentisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas binatang-binatang mengerat, seperti misalnya tupai, tikus. Contoh : Klerat RM, Racumin, Caumatatralyl, Bromodoiline dan lain-lain.
d. Herbisida : adalah pestisida yang digunakan untuk mengendalikan gulam (tanaman pengganggu). Contoh : Ronstar ODS 5/5 Saturn D.
e. Fungisida : digunakan untuk memberantas jasad yang berupa cendawan (jamur). Contoh : Rabcide 50 WP, Kasumin 20 AB, Fujiwan 400 EC, Daconil 75 WP, Dalsene MX 2000.
f. Akarisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan jasad pengganggu yang berupa tunggau. Contoh : Mitac 200 EC, Petracrex 300 EC.
g. Bakterisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan penykit tanaman yang disebabkan oleh bakteri. Contoh : Ffenazin-5-oksida (Staplex 10 WP).

Insektisida dapat pula dibagi menurut jenis aktivitasnya. Kebanyakan insektisida bersifat racun bilamana bersentuhan langsung atau tertelan serangga. Namun ada pula jenis lain yang bersifat sebagai repelen (jenis ini digunakan untuk mencegah serangga yang akan menyerang tanaman), atraktan (bahan yang dapat menarik serangga, dengan demikian serangga yang terkumpul akan lebih mudah terbunuh), anti feedan (senyawa ini dapat menghindarkan dari serangan suatu serangga) dan khemosterilan (yang dapat menyebabkan kemandulan bagi serangga yang terkena) (Anonim,2011).


B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui penggunaan pestisida berdasarkan cara kerjanya.



























II. TINJAUAN PUSTAKA
Kelompok utama pestisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga hama dengan tunggau adalah insektisida, akarisida dan fumigan, sedang jenis pestisida yang lain diberi nama masing-masing sesuai dengan hama sasarannya. Dengan demikian penggolongan pestisida berdasar jasad sasaran dibagi menjadi :
a. Insektisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa serangga. Contoh : Bassa 50 EC Kiltop 50 EC dan lain-lain.
b. Nematisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa cacing-cacing parasit yang biasa menyerang akar tanaman. Contoh : Furadan 3 G.
c. Rodentisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas binatang-binatang mengerat, seperti misalnya tupai, tikus. Contoh : Klerat RM, Racumin, Caumatatralyl, Bromodoiline dan lain-lain.
d. Herbisida : adalah pestisida yang digunakan untuk mengendalikan gulam (tanaman pengganggu). Contoh : Ronstar ODS 5/5 Saturn D.
e. Fungisida : digunakan untuk memberantas jasad yang berupa cendawan (jamur). Contoh : Rabcide 50 WP, Kasumin 20 AB, Fujiwan 400 EC, Daconil 75 WP, Dalsene MX 2000.
f. Akarisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan jasad pengganggu yang berupa tunggau. Contoh : Mitac 200 EC, Petracrex 300 EC.
g. Bakterisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan penykit tanaman yang disebabkan oleh bakteri. Contoh : Ffenazin-5-oksida (Staplex 10 WP).
Insektisida dapat pula dibagi menurut jenis aktivitasnya. Kebanyakan insektisida bersifat racun bilamana bersentuhan langsung atau tertelan serangga. Namun ada pula jenis lain yang bersifat sebagai repelen (jenis ini digunakan untuk mencegah serangga yang akan menyerang tanaman), atraktan (bahan yang dapat menarik serangga, dengan demikian serangga yang terkumpul akan lebih mudah terbunuh), anti feedan (senyawa ini dapat menghindarkan dari serangan suatu serangga) dan khemosterilan (yang dapat menyebabkan kemandulan bagi serangga yang terkena).
Menurut sifat kecepatan meracun, pestisida digolongkan menjadi :
1. Racun kronis : yaitu racun yang bekerjanya sangat lambat sehingga untuk mematikan hama membutuhkan waktu yang sangat lama. Contoh : racun tikus Klerat RMB.
2. Racun akut : adalah racun yang bekerjanya sangat cepat sehingga kematian serangga dapat segera diketahui setelah racun tersebut mengenai tubuhnya. Contoh : Bassa 50 EC, Kiltop 50 EC, Baycarb 50 EC dan lain-lain.
Ditinjau dari cara bekerjanya, pestisida dibagi menjadi :
1. Racun perut
Racun ini terutama digunakan untuk mengendalikan serangga yang mempunyai tipe alat mulut pengunyah (ulat,belalang dan kumbang), namun bahan ini dapat pula digunakan terhadap hama yang menyerang tanaman dengan cara mengisap dan menjilat. Bahan insektisida ini disemprotkan pada bagian yang dimakan serangga sehingga racun tersebut akan tertelan masuk ke dalam usus, dan di sinilah terjadi peracunan dalam jumlah besar.
Ada 4 cara aplikasi racun perut terhadap serangga :
a. Insektisida diaplikasikan pada makanan alami serangga sehingga bahan tersebut termakan oleh serangga sasaran. Bahan makanan itu dapat berupa daun, bulu-bulu/rambut binatang. Dalam aplikasinya, bahan-bahan makanan serangga harus tertutup rata oleh racun pada dosis lethal sehingga hama yang makan dapat mati.
b. Insektisida dicampur dengan bahan atraktan dan umpan itu ditempatkan pada suatu lokasi yang mudah ditemukan serangga.
c. Insektisida ditaburkan sepanjang jalan yang bisa dilalui hama. Selagi hama itu lewat biasanya antene dan kaki akan bersentuhan dengan insektisida atau bahkan insektisida itu tertelan. Akibatnya hama mati.
d. Insektisida diformulasikan dalam bentuk sistemik, dan racun ini diserap oleh tanaman atau tubuh binatang piaraan kemudian tersebar ke seluruh bagian tanaman atau badan sehingga apabila serngga hama tersebut mengisap cairan tanaman atau cairan dari tubuh binatang (terutama hama yang mempunyai tipe mulut pengisap, misal Aphis) dan bila dosis yang diserap mencapai dosis lethal maka serangga akan mati.
2. Racun kontak
Insektisida ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui permukaan tubuhnya khususnya bagian kutikula yang tipis, misal pada bagian daerah perhubungan antara segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari lempengan tubuh, pada bagian pangkal rambut dan pada saluran pernafasan (spirakulum). Racun kontak itu dapat diaplikasikan langsung tertuju pada jasad sasaran atau pada permukaan tanaman atau pada tempat-tempat tertentu yang biasa dikunjungi serangga. Racun kontak mungkin diformulasikan sebagai cairan semprot atau sebagai serbuk. Racun kontak yang telah melekat pada serangga akan segera masuk ke dalam tubuh dan disinilah mulai terjadi peracunan.
Yang digolongkan sebagai insektisida kontak adalah :
a. Bahan kimia yang berasal dari kestrak tanamaan, seperti misalnya nikotin, rotenon, pirethrum.
b. Senyawa sintesis organik, misal BHC, DDT, Chlordan, Toxaphene, Phosphat organik.
c. Minyak dan sabun.
d. Senyawa anorganik seperti misalnya Sulfur dan Sulfur kapur.
3. Racun pernafasan
Bahan insektisida ini biasanya bersifat mudah menguap sehingga masuk ke dalam tubuh serangga dalam bentuk gas. Bagian tubuh yang dilalui adalah organ-organ pernafasan seperti misalnya spirakulum. Oleh karena bahan tersebut mudah menguap maka insektisida ini juga berbahaya bagi manusia dan binatang piaraan. Racun pernafasan bekerja dengan cara menghalangi terjadinya respirasi tingkat selulair dalam tubuh serangga dan bahan ini sering dapat menyebabkan tidak aktifnya enzim-enzim tertentu. Contoh racun nafas adalah : Hidrogen cyanida dan Carbon monoksida.
4. Racun Syaraf
Insektisida ini bekerja dengan cara menghalangi terjadinya transfer asetikholin estrase yang mempunyai peranan penting dalam penyampaian impul. Racun syaraf yang biasa digunakan sebagai insektisida adalah senyawa organo klorin, lindan, carbontetraclorida, ethylene diclorida : insektisida-insektisida botanis asli seperti misalnya pirethin, nikotin, senyawa organofosfat (parathion dan dimethoat) dan senyawa karbanat (methomil, aldicarb dan carbaryl).
5. Racun Protoplasmik
Racun ini bekerja terutama dengan cara merusak protein dalam sel serangga. Kerja racun ini sering terjadi di dalam usus tengah pada saluran pencernaan.Golongan insektisida yang termasuk jenis ini adalah fluorida, senyawa arsen, borat, asam mineral dan asam lemak, nitrofenol, nitrocresol, dan logam-logam berat (air raksa dan tembaga).
6. Racun penghambat khitin
Racun ini bekerja dengan cara menghambat terbentuknya khitin. Insektisida yang termasuk jenis ini biasanya bekerja secara spesifik, artinya senyawa ini mempunyai daya racun hanya terhadap jenis serangga tertentu. Contoh : Applaud 10 WP terhadap wereng coklat.
8. Racun sistemik
Insektisida ini bekerja bilamana telah terserap tanaman melalui akar, batang maupun daun, kemudian bahan-bahan aktifnya ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman sehingga bilamana serangga mengisap cairan atau memakan bagian tersebut akan teracun. Pestisida adalah merupakan racun, baik bagi hama maupun tanaman yang disemprot. Mempunyai efek sebagai racun tanaman apabila jumlah yang disemprotkan tidak sesuai dengan aturan dan berlebihan (overdosis), karena keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya kebakarn tanaman. Untuk memperoleh hasil pengendalian yang memadai namun pertumbuhan tanaman tidak terganggu, pemakaian pestisida hendaknya memperhatikan kesesuaiannya, baik tepat jenis, tepat waktu maupun tepat ukuran (dosis dan konsentrasi).
Dosis adalah banyaknya pestisida yang digunakan untuk mengendalikan hama secara memadai pada lahan seluas 1 ha. Konsentrasi adalah banyaknya pestisida yang dilarutkan dalam satu liter air. Hama adalah hewan yang merusak tanaman (akar, batang, daun, bunga dan buah) sehingga akibat kerusakan tersebut menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik sehingga hasilnya rendah. Penyakit adalah berupa jamur/bakteri/virus/nematoda yang merusak tanaman (akar, batang, daun, bunga dan buah) sehingga akibat kerusakan tersebut menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik, sehingga hasilnya rendah. Beda antara hama dengan penyakit adalah tampak serangan oleh hama menyebabkan kerusakan kehilangan sebagian dari bagian tanaman sedangkan gejala penyakit adalah sistemik sehingga fungsi fisiologi tanaman menjadi terganggu biasanya ditunjukkan adanya perubahan bentuk dan/atau warna tanaman. Hama dan penyakit perlu diberantas/dikendalikan agar tidak merugikan tanaman secara ekonomis.


A. Sistematika Belalang

Kingdom : Animalia
Divisio : Atrhropoda
Class : Insecta
Ordo : Orthoptera
Family : Accrididae
Genus : Valanga
Spesies : Valangan nigricornis

B. Morfologi Belalang
Pada belalang kayu (Valanga nigricornis) alat-alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah (sepasang) mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana (occeli). Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum. Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen). Ada mulutnya bertipe penggigit dan penguyah yang memiliki bagian-bagian labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus labialisnya (Jumar, 2000).
a. Gejala serangan
Daun yang dinamakan terlihat dicabik-cabik tidak teratur. Gejala serangan yang berat, tinggal hanya tulang dan daun saja.
b. Pengendalian Secara mekanis
Telur belalang didalam tanah diambil, demikian juga nimfa yang ada diberikan kepada ayam.erlihat dicabik-cabik tidak teratur. Gejala serangan yang berat, tinggal hanya tulang dan daun saja.
c. Secara kimiawi
Pengendalian scara kimiawi dapat dilakukan dengan menyemprotkan phosdrin, diazinon, basudin, dan insektisida lainnya
d. Secara biologis
Pengendalian secara biologis dilakukan dengan merawat kumbang endol yang lawanya sebagai parasite telur belalang.
e. Kultur teknis
Pengendalian dengan kultur teknis adalah dengan pengaturan pada penanganan.

C. Pestisida Yang Digunakan
Belalang menyerang tanaman muda dengan cara memakan kulit yang masih hijau dan daun yang masih lunak pada payung atas mulai dari pinggir hingga menuju ke tengah-tengah terutama pada musim kering. Pemberantasan belalang dilakukan dengan penyemprotan insektisida jenis Dicrotaphos (Bidrin 24% EC) atau Methomyl (Lannate 90% WP) di kebun yang terserang.





III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Tempat dan waktu pelaksanaan praktikum
Praktikum yang berjudul pestisida berdasarkan cara kerjanya dilaksanakan pada hari kamis,24 maret 2011 di laboratorium insektarium,jurusan hama dan penyakit tumbuhan,Universitas Sriwijaya.

B. Alat dan bahan
Adapun alat yang digunakan yaitu: 1) gelas aqua bekas, 2) wadah plastik sebagai tempat percobaan, 3) handsprayer, dan 4) stopwatch Hp. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu: 1) daun bayam 3 helai, 2) insektisida racun lambung, 3) air, dan 4) 3 ekor belalang kayu.

C. Cara kerja
Adapun cara kerjanya yaitu sebagai berikut: 1) campurkan sedikit insektisida dengan air,lalu masukkan kedalam handsprayer, 2) semprotkan larutan tersebut kedalam gelas aqua hingga mencapai setengah dari ukuran gelas aqua kemudian masukkan 3 helai daun bayam dan rendam selama 3 menit, 4) ambil daun bayam tersebut lalu pindahkan ke wadah plastik kemudian masukkan pula kedalamnya 3 ekor belalang, 5) tutup wadah plastik dan amati respon dari kerja insektisida tersebut dengan mencatat waktunya dengan stopwatch.







III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berikut ini tabel hasil pengamatan
Hama Jumlah hama Waktu mati Jumlah hama yang mati
Belalang kayu
( Valanga nigricornis) 3 ekor 0:47:07
0:56:31 2 ekor
1 ekor

Pestisida yang digunakan adalah jenis insektisida (Fastec 15 EC) dengan bahan aktif alfametrin 15 g/l.








B. Pembahasan
Dalam percobaan ini diasumsikan hama yang menyerang tanaman bayam adalah belalang,dan dilakukan pengendalian dengan menggunakan insektisida dengan nama dagang Fastac 15 EC. Fastac 15 EC yang digunakan adalah jenis insektisida yang bekerja sebagai racun perut dan juga racun kontak.
1. Racun perut
Racun ini terutama digunakan untuk mengendalikan serangga yang mempunyai tipe alat mulut pengunyah (ulat,belalang dan kumbang), namun bahan ini dapat pula digunakan terhadap hama yang menyerang tanaman dengan cara mengisap dan menjilat. Bahan insektisida ini disemprotkan pada bagian yang dimakan serangga sehingga racun tersebut akan tertelan masuk ke dalam usus, dan di sinilah terjadi peracunan dalam jumlah besar.
Ada 4 cara aplikasi racun perut terhadap serangga :
a. Insektisida diaplikasikan pada makanan alami serangga sehingga bahan tersebut termakan oleh serangga sasaran. Bahan makanan itu dapat berupa daun, bulu-bulu/rambut binatang. Dalam aplikasinya, bahan-bahan makanan serangga harus tertutup rata oleh racun pada dosis lethal sehingga hama yang makan dapat mati.
b. Insektisida dicampur dengan bahan atraktan dan umpan itu ditempatkan pada suatu lokasi yang mudah ditemukan serangga.
c. Insektisida ditaburkan sepanjang jalan yang bisa dilalui hama. Selagi hama itu lewat biasanya antene dan kaki akan bersentuhan dengan insektisida atau bahkan insektisida itu tertelan. Akibatnya hama mati.
d. Insektisida diformulasikan dalam bentuk sistemik, dan racun ini diserap oleh tanaman atau tubuh binatang piaraan kemudian tersebar ke seluruh bagian tanaman atau badan sehingga apabila serngga hama tersebut mengisap cairan tanaman atau cairan dari tubuh binatang (terutama hama yang mempunyai tipe mulut pengisap, misal Aphis) dan bila dosis yang diserap mencapai dosis lethal maka serangga akan mati.


2. Racun kontak
Insektisida ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui permukaan tubuhnya khususnya bagian kutikula yang tipis, misal pada bagian daerah perhubungan antara segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari lempengan tubuh, pada bagian pangkal rambut dan pada saluran pernafasan (spirakulum). Racun kontak itu dapat diaplikasikan langsung tertuju pada jasad sasaran atau pada permukaan tanaman atau pada tempat-tempat tertentu yang biasa dikunjungi serangga. Racun kontak mungkin diformulasikan sebagai cairan semprot atau sebagai serbuk. Racun kontak yang telah melekat pada serangga akan segera masuk ke dalam tubuh dan disinilah mulai terjadi peracunan.
Dari hasil pengamatan,dapat praktikan bahwa yang memberikan andil lebih besar dalam mematikan belalang tersebut adalah sifat fastac sebagai racun kontak. Hal ini praktikan ketahui dari tingkah laku belalang tersebut. Belalang yang dijadikan hama percobaan sama sekali tidak memakan daun bayam,hanya bersentuhan saja dengan daun bayam. Alat pernafasan belalang,trakea yang terletak di abdomen belalang juga turut andil mempercepat proses kerja insektisida tersebut. Gejala awal keracunannya yang terlihat yaitu hiperaktif, kemudian gemetar dan kejang yang selanjutnya diakhiri dengan kematian belalang tersebut.
Formulasi fastac adalah EC (Emulsifiable Cocentrate atau Emulsible Cocentrate). Formulasi pestisida yg berbentuk pekatan (konsentrat) cair dengan konsentrasi bahan aktif yang cukup tinggi. Kosentrasi ini jika dicampur dengan air akan membentuk emulsi (butiran benda cair yang melayang dalam media cair lain). EC umumnya digunakan dengan cara disemprot, meskipun dapat pula digunakan dengan cara lain.







IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu:
1. dalam percobaan ini diasumsikan hama yang menyerang tanaman bayam adalah belalang,dan dilakukan pengendalian dengan menggunakan insektisida dengan nama dagang Fastac 15 EC.
2. Fastac 15 EC yang digunakan adalah jenis insektisida yang bekerja sebagai racun perut dan juga racun kontak.
3. Racun perut digunakan terhadap hama yang menyerang tanaman dengan cara mengisap dan menjilatyang apabila disemprotkan pada bagian yang dimakan serangga sehingga racun tersebut akan tertelan masuk ke dalam usus serangga tersebut akan terjadi peracunan dalam jumlah besar.
4. Racun kontak akan masuk ke dalam tubuh serangga melalui permukaan tubuhnya khususnya bagian kutikula yang tipis, misal pada bagian daerah perhubungan antara segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari lempengan tubuh, pada bagian pangkal rambut dan pada saluran pernafasan (spirakulum) yang meracuni setelah terjadi kontak dengan serangga sasaran.
5. Formulasi fastac adalah EC (Emulsifiable Cocentrate atau Emulsible Cocentrate).

B. Saran
Saran yang dapat diberikan yaitu agar tanaman yang diberikan sesuai dengan apa yang dimakan oleh serangga tersebut.



DAFTAR PUSTAKA
Aksi Agraris Kanisius 1998. Budidaya Tanaman. Yogyakarta: Kanisius

Anonimous,2011. Pengendalian hama dan penyakit. (Online) http://pekaspku.blogspot.com (diakses Rabu,30 Maret 2011)

Anonimous,2011.(Online). Serangga atau insect. http://findoutwhat.wordpress.com (diakses Rabu, 30 Maret 2011)

Anonimous. 1994. Pengendalian Hama Bubuk pada Buah Kopi. Dalam Kumpulan Kliping Kopi. Trubus. Jakarta.

Anonimous. 1994. Pengendalian Hama Tanaman Kopi. Dalam Kumpulan Kliping Kopi. Trubus. Jakarta.

Serech, 2006. Majalah Kampus Cultivar Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Yogyakarta , Yogyakarta

Suharno, 2005. Perlindungan Tanaman. Diktat STPP, jurluhtan, yogyakarta

Laporan pestisida

LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM PESTISIDA DAN APLIKASINYA
Pestisida Berdasarkan Cara Kerjanya








OLEH
UMI QONAAH
05091007006
KELOMPOK III








PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

INDRALAYA
2011


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam proses budi daya pertanian tidak terlepas dari apa yang namanya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), kerugian akibat serangan hama bisa mencapai 37 %, penyakit 35 %, gulma 29 %, dan bahkan akibat yang di timbulkan oleh serangan hama tikus bisa menyebabkan gagal panen (puso). Pengendalian OPT bertujuan untuk mempertahankan produksi pertanian agar produksi tetap optimal, pengendalian hama adalah usaha –usaha manusia untuk menekan populasi hama sampai dibawah ambang batas yang merugikan secara ekonomi (serech,2006)
Pengendalian dapat dilakukan dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu memilih suatu cara atau menggabungkan beberapa cara pengendalian, sehingga tidak merugikan secara ekonomis, biologi dan ekologi. Dengan tingkat kesadaran yang tinggi tentang lingkungan yang sehat dan pertanian yang berkelanjutan diperlikan cara pengendalian yang tepat. Dalam menangani OPT (organisme pengganggu tanaman) petani dewasa ini sering menggunakan pestisida. Pestisida merupakan zat yang mampu membasmi OPT. (Suharno,2005)
Pestisida dalam hal ini merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan hama untuk menurunkan populasi hama yang sedang menyerang tanaman. Menurut UU RI No. 12/1992 : Pestisida adalah zat atau senyawa kimia, zat pengatur, dan perangsang tumbuh, bahan lain serta organisme renik atau virus yang digunakan untuk melakukan perlindungan tanaman. Kelompok utama pestisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga hama diberi nama masing-masing sesuai dengan hama sasarannya dan juga cara kerjanya. Dengan demikian penggolongan pestisida berdasarkan jasad sasaran dibagi menjadi :
a. Insektisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa serangga. Contoh : Bassa 50 EC Kiltop 50 EC dan lain-lain.
b. Nematisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa cacing-cacing parasit yang biasa menyerang akar tanaman. Contoh : Furadan 3 G.
c. Rodentisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas binatang-binatang mengerat, seperti misalnya tupai, tikus. Contoh : Klerat RM, Racumin, Caumatatralyl, Bromodoiline dan lain-lain.
d. Herbisida : adalah pestisida yang digunakan untuk mengendalikan gulam (tanaman pengganggu). Contoh : Ronstar ODS 5/5 Saturn D.
e. Fungisida : digunakan untuk memberantas jasad yang berupa cendawan (jamur). Contoh : Rabcide 50 WP, Kasumin 20 AB, Fujiwan 400 EC, Daconil 75 WP, Dalsene MX 2000.
f. Akarisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan jasad pengganggu yang berupa tunggau. Contoh : Mitac 200 EC, Petracrex 300 EC.
g. Bakterisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan penykit tanaman yang disebabkan oleh bakteri. Contoh : Ffenazin-5-oksida (Staplex 10 WP).

Insektisida dapat pula dibagi menurut jenis aktivitasnya. Kebanyakan insektisida bersifat racun bilamana bersentuhan langsung atau tertelan serangga. Namun ada pula jenis lain yang bersifat sebagai repelen (jenis ini digunakan untuk mencegah serangga yang akan menyerang tanaman), atraktan (bahan yang dapat menarik serangga, dengan demikian serangga yang terkumpul akan lebih mudah terbunuh), anti feedan (senyawa ini dapat menghindarkan dari serangan suatu serangga) dan khemosterilan (yang dapat menyebabkan kemandulan bagi serangga yang terkena) (Anonim,2011).


B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui penggunaan pestisida berdasarkan cara kerjanya.



























II. TINJAUAN PUSTAKA
Kelompok utama pestisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga hama dengan tunggau adalah insektisida, akarisida dan fumigan, sedang jenis pestisida yang lain diberi nama masing-masing sesuai dengan hama sasarannya. Dengan demikian penggolongan pestisida berdasar jasad sasaran dibagi menjadi :
a. Insektisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa serangga. Contoh : Bassa 50 EC Kiltop 50 EC dan lain-lain.
b. Nematisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa cacing-cacing parasit yang biasa menyerang akar tanaman. Contoh : Furadan 3 G.
c. Rodentisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas binatang-binatang mengerat, seperti misalnya tupai, tikus. Contoh : Klerat RM, Racumin, Caumatatralyl, Bromodoiline dan lain-lain.
d. Herbisida : adalah pestisida yang digunakan untuk mengendalikan gulam (tanaman pengganggu). Contoh : Ronstar ODS 5/5 Saturn D.
e. Fungisida : digunakan untuk memberantas jasad yang berupa cendawan (jamur). Contoh : Rabcide 50 WP, Kasumin 20 AB, Fujiwan 400 EC, Daconil 75 WP, Dalsene MX 2000.
f. Akarisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan jasad pengganggu yang berupa tunggau. Contoh : Mitac 200 EC, Petracrex 300 EC.
g. Bakterisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan penykit tanaman yang disebabkan oleh bakteri. Contoh : Ffenazin-5-oksida (Staplex 10 WP).
Insektisida dapat pula dibagi menurut jenis aktivitasnya. Kebanyakan insektisida bersifat racun bilamana bersentuhan langsung atau tertelan serangga. Namun ada pula jenis lain yang bersifat sebagai repelen (jenis ini digunakan untuk mencegah serangga yang akan menyerang tanaman), atraktan (bahan yang dapat menarik serangga, dengan demikian serangga yang terkumpul akan lebih mudah terbunuh), anti feedan (senyawa ini dapat menghindarkan dari serangan suatu serangga) dan khemosterilan (yang dapat menyebabkan kemandulan bagi serangga yang terkena).
Menurut sifat kecepatan meracun, pestisida digolongkan menjadi :
1. Racun kronis : yaitu racun yang bekerjanya sangat lambat sehingga untuk mematikan hama membutuhkan waktu yang sangat lama. Contoh : racun tikus Klerat RMB.
2. Racun akut : adalah racun yang bekerjanya sangat cepat sehingga kematian serangga dapat segera diketahui setelah racun tersebut mengenai tubuhnya. Contoh : Bassa 50 EC, Kiltop 50 EC, Baycarb 50 EC dan lain-lain.
Ditinjau dari cara bekerjanya, pestisida dibagi menjadi :
1. Racun perut
Racun ini terutama digunakan untuk mengendalikan serangga yang mempunyai tipe alat mulut pengunyah (ulat,belalang dan kumbang), namun bahan ini dapat pula digunakan terhadap hama yang menyerang tanaman dengan cara mengisap dan menjilat. Bahan insektisida ini disemprotkan pada bagian yang dimakan serangga sehingga racun tersebut akan tertelan masuk ke dalam usus, dan di sinilah terjadi peracunan dalam jumlah besar.
Ada 4 cara aplikasi racun perut terhadap serangga :
a. Insektisida diaplikasikan pada makanan alami serangga sehingga bahan tersebut termakan oleh serangga sasaran. Bahan makanan itu dapat berupa daun, bulu-bulu/rambut binatang. Dalam aplikasinya, bahan-bahan makanan serangga harus tertutup rata oleh racun pada dosis lethal sehingga hama yang makan dapat mati.
b. Insektisida dicampur dengan bahan atraktan dan umpan itu ditempatkan pada suatu lokasi yang mudah ditemukan serangga.
c. Insektisida ditaburkan sepanjang jalan yang bisa dilalui hama. Selagi hama itu lewat biasanya antene dan kaki akan bersentuhan dengan insektisida atau bahkan insektisida itu tertelan. Akibatnya hama mati.
d. Insektisida diformulasikan dalam bentuk sistemik, dan racun ini diserap oleh tanaman atau tubuh binatang piaraan kemudian tersebar ke seluruh bagian tanaman atau badan sehingga apabila serngga hama tersebut mengisap cairan tanaman atau cairan dari tubuh binatang (terutama hama yang mempunyai tipe mulut pengisap, misal Aphis) dan bila dosis yang diserap mencapai dosis lethal maka serangga akan mati.
2. Racun kontak
Insektisida ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui permukaan tubuhnya khususnya bagian kutikula yang tipis, misal pada bagian daerah perhubungan antara segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari lempengan tubuh, pada bagian pangkal rambut dan pada saluran pernafasan (spirakulum). Racun kontak itu dapat diaplikasikan langsung tertuju pada jasad sasaran atau pada permukaan tanaman atau pada tempat-tempat tertentu yang biasa dikunjungi serangga. Racun kontak mungkin diformulasikan sebagai cairan semprot atau sebagai serbuk. Racun kontak yang telah melekat pada serangga akan segera masuk ke dalam tubuh dan disinilah mulai terjadi peracunan.
Yang digolongkan sebagai insektisida kontak adalah :
a. Bahan kimia yang berasal dari kestrak tanamaan, seperti misalnya nikotin, rotenon, pirethrum.
b. Senyawa sintesis organik, misal BHC, DDT, Chlordan, Toxaphene, Phosphat organik.
c. Minyak dan sabun.
d. Senyawa anorganik seperti misalnya Sulfur dan Sulfur kapur.
3. Racun pernafasan
Bahan insektisida ini biasanya bersifat mudah menguap sehingga masuk ke dalam tubuh serangga dalam bentuk gas. Bagian tubuh yang dilalui adalah organ-organ pernafasan seperti misalnya spirakulum. Oleh karena bahan tersebut mudah menguap maka insektisida ini juga berbahaya bagi manusia dan binatang piaraan. Racun pernafasan bekerja dengan cara menghalangi terjadinya respirasi tingkat selulair dalam tubuh serangga dan bahan ini sering dapat menyebabkan tidak aktifnya enzim-enzim tertentu. Contoh racun nafas adalah : Hidrogen cyanida dan Carbon monoksida.
4. Racun Syaraf
Insektisida ini bekerja dengan cara menghalangi terjadinya transfer asetikholin estrase yang mempunyai peranan penting dalam penyampaian impul. Racun syaraf yang biasa digunakan sebagai insektisida adalah senyawa organo klorin, lindan, carbontetraclorida, ethylene diclorida : insektisida-insektisida botanis asli seperti misalnya pirethin, nikotin, senyawa organofosfat (parathion dan dimethoat) dan senyawa karbanat (methomil, aldicarb dan carbaryl).
5. Racun Protoplasmik
Racun ini bekerja terutama dengan cara merusak protein dalam sel serangga. Kerja racun ini sering terjadi di dalam usus tengah pada saluran pencernaan.Golongan insektisida yang termasuk jenis ini adalah fluorida, senyawa arsen, borat, asam mineral dan asam lemak, nitrofenol, nitrocresol, dan logam-logam berat (air raksa dan tembaga).
6. Racun penghambat khitin
Racun ini bekerja dengan cara menghambat terbentuknya khitin. Insektisida yang termasuk jenis ini biasanya bekerja secara spesifik, artinya senyawa ini mempunyai daya racun hanya terhadap jenis serangga tertentu. Contoh : Applaud 10 WP terhadap wereng coklat.
8. Racun sistemik
Insektisida ini bekerja bilamana telah terserap tanaman melalui akar, batang maupun daun, kemudian bahan-bahan aktifnya ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman sehingga bilamana serangga mengisap cairan atau memakan bagian tersebut akan teracun. Pestisida adalah merupakan racun, baik bagi hama maupun tanaman yang disemprot. Mempunyai efek sebagai racun tanaman apabila jumlah yang disemprotkan tidak sesuai dengan aturan dan berlebihan (overdosis), karena keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya kebakarn tanaman. Untuk memperoleh hasil pengendalian yang memadai namun pertumbuhan tanaman tidak terganggu, pemakaian pestisida hendaknya memperhatikan kesesuaiannya, baik tepat jenis, tepat waktu maupun tepat ukuran (dosis dan konsentrasi).
Dosis adalah banyaknya pestisida yang digunakan untuk mengendalikan hama secara memadai pada lahan seluas 1 ha. Konsentrasi adalah banyaknya pestisida yang dilarutkan dalam satu liter air. Hama adalah hewan yang merusak tanaman (akar, batang, daun, bunga dan buah) sehingga akibat kerusakan tersebut menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik sehingga hasilnya rendah. Penyakit adalah berupa jamur/bakteri/virus/nematoda yang merusak tanaman (akar, batang, daun, bunga dan buah) sehingga akibat kerusakan tersebut menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik, sehingga hasilnya rendah. Beda antara hama dengan penyakit adalah tampak serangan oleh hama menyebabkan kerusakan kehilangan sebagian dari bagian tanaman sedangkan gejala penyakit adalah sistemik sehingga fungsi fisiologi tanaman menjadi terganggu biasanya ditunjukkan adanya perubahan bentuk dan/atau warna tanaman. Hama dan penyakit perlu diberantas/dikendalikan agar tidak merugikan tanaman secara ekonomis.


A. Sistematika Belalang

Kingdom : Animalia
Divisio : Atrhropoda
Class : Insecta
Ordo : Orthoptera
Family : Accrididae
Genus : Valanga
Spesies : Valangan nigricornis

B. Morfologi Belalang
Pada belalang kayu (Valanga nigricornis) alat-alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah (sepasang) mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana (occeli). Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum. Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen). Ada mulutnya bertipe penggigit dan penguyah yang memiliki bagian-bagian labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus labialisnya (Jumar, 2000).
a. Gejala serangan
Daun yang dinamakan terlihat dicabik-cabik tidak teratur. Gejala serangan yang berat, tinggal hanya tulang dan daun saja.
b. Pengendalian Secara mekanis
Telur belalang didalam tanah diambil, demikian juga nimfa yang ada diberikan kepada ayam.erlihat dicabik-cabik tidak teratur. Gejala serangan yang berat, tinggal hanya tulang dan daun saja.
c. Secara kimiawi
Pengendalian scara kimiawi dapat dilakukan dengan menyemprotkan phosdrin, diazinon, basudin, dan insektisida lainnya
d. Secara biologis
Pengendalian secara biologis dilakukan dengan merawat kumbang endol yang lawanya sebagai parasite telur belalang.
e. Kultur teknis
Pengendalian dengan kultur teknis adalah dengan pengaturan pada penanganan.

C. Pestisida Yang Digunakan
Belalang menyerang tanaman muda dengan cara memakan kulit yang masih hijau dan daun yang masih lunak pada payung atas mulai dari pinggir hingga menuju ke tengah-tengah terutama pada musim kering. Pemberantasan belalang dilakukan dengan penyemprotan insektisida jenis Dicrotaphos (Bidrin 24% EC) atau Methomyl (Lannate 90% WP) di kebun yang terserang.





III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Tempat dan waktu pelaksanaan praktikum
Praktikum yang berjudul pestisida berdasarkan cara kerjanya dilaksanakan pada hari kamis,24 maret 2011 di laboratorium insektarium,jurusan hama dan penyakit tumbuhan,Universitas Sriwijaya.

B. Alat dan bahan
Adapun alat yang digunakan yaitu: 1) gelas aqua bekas, 2) wadah plastik sebagai tempat percobaan, 3) handsprayer, dan 4) stopwatch Hp. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu: 1) daun bayam 3 helai, 2) insektisida racun lambung, 3) air, dan 4) 3 ekor belalang kayu.

C. Cara kerja
Adapun cara kerjanya yaitu sebagai berikut: 1) campurkan sedikit insektisida dengan air,lalu masukkan kedalam handsprayer, 2) semprotkan larutan tersebut kedalam gelas aqua hingga mencapai setengah dari ukuran gelas aqua kemudian masukkan 3 helai daun bayam dan rendam selama 3 menit, 4) ambil daun bayam tersebut lalu pindahkan ke wadah plastik kemudian masukkan pula kedalamnya 3 ekor belalang, 5) tutup wadah plastik dan amati respon dari kerja insektisida tersebut dengan mencatat waktunya dengan stopwatch.







III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berikut ini tabel hasil pengamatan
Hama Jumlah hama Waktu mati Jumlah hama yang mati
Belalang kayu
( Valanga nigricornis) 3 ekor 0:47:07
0:56:31 2 ekor
1 ekor

Pestisida yang digunakan adalah jenis insektisida (Fastec 15 EC) dengan bahan aktif alfametrin 15 g/l.








B. Pembahasan
Dalam percobaan ini diasumsikan hama yang menyerang tanaman bayam adalah belalang,dan dilakukan pengendalian dengan menggunakan insektisida dengan nama dagang Fastac 15 EC. Fastac 15 EC yang digunakan adalah jenis insektisida yang bekerja sebagai racun perut dan juga racun kontak.
1. Racun perut
Racun ini terutama digunakan untuk mengendalikan serangga yang mempunyai tipe alat mulut pengunyah (ulat,belalang dan kumbang), namun bahan ini dapat pula digunakan terhadap hama yang menyerang tanaman dengan cara mengisap dan menjilat. Bahan insektisida ini disemprotkan pada bagian yang dimakan serangga sehingga racun tersebut akan tertelan masuk ke dalam usus, dan di sinilah terjadi peracunan dalam jumlah besar.
Ada 4 cara aplikasi racun perut terhadap serangga :
a. Insektisida diaplikasikan pada makanan alami serangga sehingga bahan tersebut termakan oleh serangga sasaran. Bahan makanan itu dapat berupa daun, bulu-bulu/rambut binatang. Dalam aplikasinya, bahan-bahan makanan serangga harus tertutup rata oleh racun pada dosis lethal sehingga hama yang makan dapat mati.
b. Insektisida dicampur dengan bahan atraktan dan umpan itu ditempatkan pada suatu lokasi yang mudah ditemukan serangga.
c. Insektisida ditaburkan sepanjang jalan yang bisa dilalui hama. Selagi hama itu lewat biasanya antene dan kaki akan bersentuhan dengan insektisida atau bahkan insektisida itu tertelan. Akibatnya hama mati.
d. Insektisida diformulasikan dalam bentuk sistemik, dan racun ini diserap oleh tanaman atau tubuh binatang piaraan kemudian tersebar ke seluruh bagian tanaman atau badan sehingga apabila serngga hama tersebut mengisap cairan tanaman atau cairan dari tubuh binatang (terutama hama yang mempunyai tipe mulut pengisap, misal Aphis) dan bila dosis yang diserap mencapai dosis lethal maka serangga akan mati.


2. Racun kontak
Insektisida ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui permukaan tubuhnya khususnya bagian kutikula yang tipis, misal pada bagian daerah perhubungan antara segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari lempengan tubuh, pada bagian pangkal rambut dan pada saluran pernafasan (spirakulum). Racun kontak itu dapat diaplikasikan langsung tertuju pada jasad sasaran atau pada permukaan tanaman atau pada tempat-tempat tertentu yang biasa dikunjungi serangga. Racun kontak mungkin diformulasikan sebagai cairan semprot atau sebagai serbuk. Racun kontak yang telah melekat pada serangga akan segera masuk ke dalam tubuh dan disinilah mulai terjadi peracunan.
Dari hasil pengamatan,dapat praktikan bahwa yang memberikan andil lebih besar dalam mematikan belalang tersebut adalah sifat fastac sebagai racun kontak. Hal ini praktikan ketahui dari tingkah laku belalang tersebut. Belalang yang dijadikan hama percobaan sama sekali tidak memakan daun bayam,hanya bersentuhan saja dengan daun bayam. Alat pernafasan belalang,trakea yang terletak di abdomen belalang juga turut andil mempercepat proses kerja insektisida tersebut. Gejala awal keracunannya yang terlihat yaitu hiperaktif, kemudian gemetar dan kejang yang selanjutnya diakhiri dengan kematian belalang tersebut.
Formulasi fastac adalah EC (Emulsifiable Cocentrate atau Emulsible Cocentrate). Formulasi pestisida yg berbentuk pekatan (konsentrat) cair dengan konsentrasi bahan aktif yang cukup tinggi. Kosentrasi ini jika dicampur dengan air akan membentuk emulsi (butiran benda cair yang melayang dalam media cair lain). EC umumnya digunakan dengan cara disemprot, meskipun dapat pula digunakan dengan cara lain.







IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu:
1. dalam percobaan ini diasumsikan hama yang menyerang tanaman bayam adalah belalang,dan dilakukan pengendalian dengan menggunakan insektisida dengan nama dagang Fastac 15 EC.
2. Fastac 15 EC yang digunakan adalah jenis insektisida yang bekerja sebagai racun perut dan juga racun kontak.
3. Racun perut digunakan terhadap hama yang menyerang tanaman dengan cara mengisap dan menjilatyang apabila disemprotkan pada bagian yang dimakan serangga sehingga racun tersebut akan tertelan masuk ke dalam usus serangga tersebut akan terjadi peracunan dalam jumlah besar.
4. Racun kontak akan masuk ke dalam tubuh serangga melalui permukaan tubuhnya khususnya bagian kutikula yang tipis, misal pada bagian daerah perhubungan antara segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari lempengan tubuh, pada bagian pangkal rambut dan pada saluran pernafasan (spirakulum) yang meracuni setelah terjadi kontak dengan serangga sasaran.
5. Formulasi fastac adalah EC (Emulsifiable Cocentrate atau Emulsible Cocentrate).

B. Saran
Saran yang dapat diberikan yaitu agar tanaman yang diberikan sesuai dengan apa yang dimakan oleh serangga tersebut.



DAFTAR PUSTAKA
Aksi Agraris Kanisius 1998. Budidaya Tanaman. Yogyakarta: Kanisius

Anonimous,2011. Pengendalian hama dan penyakit. (Online) http://pekaspku.blogspot.com (diakses Rabu,30 Maret 2011)

Anonimous,2011.(Online). Serangga atau insect. http://findoutwhat.wordpress.com (diakses Rabu, 30 Maret 2011)

Anonimous. 1994. Pengendalian Hama Bubuk pada Buah Kopi. Dalam Kumpulan Kliping Kopi. Trubus. Jakarta.

Anonimous. 1994. Pengendalian Hama Tanaman Kopi. Dalam Kumpulan Kliping Kopi. Trubus. Jakarta.

Serech, 2006. Majalah Kampus Cultivar Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Yogyakarta , Yogyakarta

Suharno, 2005. Perlindungan Tanaman. Diktat STPP, jurluhtan, yogyakarta

Rabu, 06 April 2011

TITIK DAN LINGKARAN

Hari ini,aura keceriaan sepertinya tengah menyertaiku. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa apa yang diberikan dengan tulus sejatinya akan kembali dengan cara yang lebih indah kepada kita. Hari ini,tugasku mengirim SMS tausiyah. Biasanya aku sering memberi cerita dalam tausiyah yang ku kirimkan,tapi hari ini kebetulan berbeda sedikit. Entah mengapa aku begitu ingin mengirimkan pesan singkat itu.
“Jika saya bertanya,ketika anda di beri sebuah kertas yang di dalamnya terdapat sebuah lingkaran. Dimanakah anda akan meletakkan 1 titik pertama kali?” begitulah baris terakhir dari pesan yang ku tulis,selanjutnya send to all.
Dari 500 nomor yang umi kirim, 50% meresponnya dengan jawaban mereka masing-masing. Aku begitu menikmatinya,ternyata mereka antusias menjawab pertanyaanku. Menjelang maghrib,handphoneku kembali berdering..
“ Kalo mbk,mbak mulai dari tengah dek. Biar bisa membagi rata lingkaran itu menjadi dua.”
Aku tersenyum,lalu kukirim balasannya.
“Bagus juga sih,tapi gimana kalo’ di mulai dari luar mbak?” aku sengaja memancing pemikiran lawan SMSku.
“Boleh jg,tp tetep dr pjok trz di tarik garis lurus spy bs membg lingkrn jd 2 dek.” Bunyi SMS balasan.
“Ooh,umi kira dari luar itu mbk mw nmbahi satu lingkaran utk di hbgkan mjd seket2 lain. Bisa jd kupu2,boneka atw mlh bunga mbk. Lebih indah tu..” aku tersenyum,entah mengapa aku tiba2 punya pikiran seperti itu.
Lama hpku sunyi, 6.45 ia kembali berdering. Ada pesan masuk rupanya.
“Wah, iya ya dek koq mbak g’ kpikiran ksitu dek. Maklum daya kreatifnya mbk gx tinggi”.
Lagi-lagi aku tersenyum,”mbak ini jujur sama hatiny”, pikirku.
“Tp mbk jg keren kq,mbk sllu kpikiran ma org lain. Itu kn suara ht mbk” balasku.
Kita memang punya pola pandang yang berbeda, pertanyaan yang saya ajukan tadi adalah tentang bagaimana orang mampu keluar dari belenggu kreativitasnya. Tapi sungguh,yang saya dapatkan lebih dari itu. Saat ada yang membalas maka saya terpacu untuk berpikir tentang hati orang itu yang sebenarnya juga cara ia berfikir. Saya menjadi lebih mengerti,bahwa memang kita ini mempunyai keunikan yang berbeda-beda. Maka alangkah kejamnya kita,saat kita tengah berada dalam sebuah organisasi tapi kita tidak pernah mengizinkan orang lain untuk mengeluarkan ide atau paling tidak cara berpikir orang lain akan sesuatu.
Jika kita otoriter terhadap ego diri,maka kita telah sukses menyalurkan aura negative kita kepada lingkungan dan kita adalah orang yang tega membunuh kreativitas. Satu hal yang mungkin luput dari pikiranku,bahkan aku sendiri tak tahu seberapa ego kah diriku saat berhadapan dengan orang lain. Aku bahkan takut seandainya aku termasuk orang yang sukses membunuh kreativitas orang lain.
Ada yang mengatakan bahwa aku kreatif dalam memikirkan dan mengonsep sesuatu,tapi sejujurnya aku adalah orang yang paling tidak mau menerima penolakan dari orang lain jika ide-ideku tidak di terima. Lingkaran dan titik,sebuah pertanyaan sepele yang mampu mengusik suara hati ini bahwa saya ternyata egois. Sebuah pertanyaan yang membekas di ingatanku.
‘sebenarnya,makna titik itu sendiri bagi umi apa?” sebaris kalimat yang melipat jidatku.
Ah,aku bahkan belum menemukan jawaban yang pasti. Titik dan lingkaran,apa persepsiku?? Iseng-iseng aku menjawabnya. “Mungkin itu adalah diriku sendiri,” heheee,, nothing imposible.
Menurut kamu????

*Syiefa_uL Qalbi (Λ_Λ)*

KALA CINTA BICARA

KALA CINTA BICARA
“Cinta lagi,,cintaaaa lagiii. Bosen ah!” seru Aish,sembari memalingkan muka lalu pergi.
Aku melongo gx ngerti, ni anak kesambet atau emang lagi kumat batinku kemudian. “E?? Aduh Aish,, tunggu dong. Cinta ini tu bukan cinta biasa(hee,,),, dengerin dong makanyaaa..” susah payah kukejar langkah Aish,eh ia berhenti dan tersenyum padaku(mampus dah gue,ni anak mw ngapain yaa??).
“Menurut mu???!!” Aish menatapku,seperti mencari bayangannya yang gx sengaja nampil di pupilku(-,-).

Note: Ehm,, gx perlu serius kalii bacanya. . ^_-




Talking about love is never loose words to say it. Gx percaya??? Yaa baguslah,artinya kamu ikut mikir juga kan, btul gak? Ok,biar gx susah2 mikir,gx perlu jg buka go’ogele(gugel maksudnya,) kita bakal ngasih sedikit cerita about cinta,judulnya: KaCiBi (Kala Cinta Bicara), check it out!!
Cinta, kalw mampir ke hatinya anak manusia ooh jangan ditanya apa rasanya, pasti jawabannya kyk gini nih,”Lu goblok atw o’on sih? Cinta tu pahit,cicip aja tuh cinta pena,loe gx percya cobain aja”. Hehee ,itu mah tinta pena kalii yaa.
Cinta, persoalan yg gx hbis jd bhn omongan (trutm senetron). Setiap orang pasti prnah ngrasain cinta,krn memang cinta bukan p’soalan yg tabu bwt di bicarain n dirasain. Cinta tu Anugerah Yang Maha Cinta (baca: Allah) , n love is universal, isn’t it? Buku yg judulnya”Taman org2 jatuh cinta n memendam rindu” cerita kalw cinta lg mampir di hati,seolh2 org yg mencinta t dah manteb atinya ma org yg dicinta ples gx kpikirn bwt beralih. Nah loe, kamu gmn? Ok, lanjut lagi.. wlwpun cinta tu bebas di omongin, tp m’XPRESIkan cinta te2p aja kudu ada aturane, gx bener tuh klw cinta tu smw gw aplg semau eloe.
Cinta, kudu punya MANAJEMEN biar manis + indah = nikmatnya cinta lebih”berasa”.. Melalui proses manajemen dan pengendalian cinta, seseorang dapat menjadikan perasaan cinta sebagai motivasi + kontrol dalam kerangka kebajikan dan kemuliaan. Inilah esensi pesan Risalah Islam mengenai Alhubb wal Bughdhu fillah (Cinta dan benci karena Allah) sehingga kita tidak akan termakan oleh doktrin “Kalau cinta jangan marah”. Coz kemarahan dalam perspektif manajemen cinta t kelaziman cinta sejati yang diekspresiin dalam bentuk yang arif bijaksana tanpa keluar jalur syariat. Xsampel ,marahnya Nabi Muhammad t diungkapin dlm bentuk ekspresi perubahan raut muka, diam, atau isyarat lainnya sebagai peringatan yang selanjutnya diberikan penjelasan dan dialog dari hati ke hati. Kereen khaan?? Iyaa dong, kudu itu.
Beside it, manajemen cinta akan menumbuhkan sikap adil dalam cinta yang membawa hidup sehat dan seimbang (tawazun) dan bukan menjadi sumber penyakit. Ibnul Qayyim ngmong gini,” cinta bagi ruh sama dengan fungsi makanan bagi tubuh. Jika engkau meninggalkannya tentu akan membahayakan dirimu dan jika engkau terlalu banyak menyantapnya serta tidak seimbang tentu akan membinasakanmu”. Asalnya cinta t emang gitu guys, suci, indah n gx nyakitin diri jg hati, krn esensi cinta tu Memberi setulus hati untuk cinta itu. Nah kalw skrg kamu lg sakit gr2 cinta, hayooo... ati2 ya,,cek & ricek lagi cinta kamu, kali aja salah jalur..
Than, Manajemen cinta jg ngajari spy perasaan cinta qt ke seseorang t gx ngehalangi kita ntuk te2p ngelakuin segala hal yang wes semestinya kita kerjain. So, kita jg gx bkal nglakukin ataupun ninggalin segala hal demi rasa cinta ataupun bwt ngedapatin cinta dari orang yang kita cintai meskipun hal itu bertentangan dengan kemaslahatan (kebaikan) dirinya, membahayakan diri qt atw ngebahayain orang lain dan menimbulkan kerusakan di muka bumi t’lbih lg memancing kemarahan Allah. Cinta yang dikehendaki Islam (baca: ala islam) adalah cinta sejati dan arif, bukan cinta buta apalagi cinta monyet, bkn cinta gila, apalagi cinta dusta, tidak juga cinta palsu, terlebih2 cinta laura(?) , bukan pula cinta bodoh juga bukan cinta yg bikin kita jd cenat-cenut. ^_^
Ok,tuk kali ini sampe ini dulu deh yaa... ni aja udh buanyaaak.. harapan kita semua ,rasa cinta yg udah di anugerahkan utk kita2 tu bener2 mjd spt aslinya,, let’s to recheck our love. Pokoke kalo’ cinta ngomong,,cek dlu n luruskan jlnnya spy cinta itu s’suai aturan Allah. Ok! (eS_Qyu dr b’bgai sumber)



“Ya Allah, inilah usahaku sebatas kuasaku, maka janganlah Engkau cela diriku tentang apa yang Engkau kuasai dan aku tidak kuasai (hati).” (HR. Abu Dawud).

*Syiefa_uL Qalbi (Λ_Λ)*