Laman

Sabtu, 25 Desember 2010

LEMBAYUNG SENJA

Di tepi danau,seorang gadis duduk seorang diri. Pandangannya lurus menatap air danau yang tak lagi jernih, sampah-sampah plastik bekas minuman menghiasi tepian danau. Sesekali ia melirik sepasang muda-mudi yang tengah asyik memancing di danau sebelahnya, angin sore bertiup sepoi-sepoi menggerakkan dedaunan pohon yang mengelilingi danau. Kembali ia menatap danau,seekor burung gereja berjalan tak jauh dari tempatnya duduk,lalu terbang lagi meninggalkan gadis itu sendiri di atas hamparan rumput.
“Sewa kostan kita tinggal seminggu lagi, kalau masih ingin ngekost disini cepatlah cari teman sekamar Nis” Zahra menatap Nisa yang masih asyik membaca majalah usangnya.
“Oooh,seminggu lagi ya mbak? Nis belum tahu mau tetap di sini atau pindah”jawab Nisa sambil membalik halaman majalah.
“Oh, cepat putuskan Nis. Mbak kan udah nggak kost lagi”
Nisa hanya mendongak sebentar lalu melanjutkan bacaannya. Halaman demi halaman dilalui,tapi tak selembarpun yang benar-benar dibacanya. Raut wajahnya mengkerut,ia menghela nafasnya perlahan
“Mana mungkin aku punya uang untuk bayar kostan,emak tak mungkin mengirimiku lagi. Emak bilang kalau sekarang susah mengumpulkan lateks karet,paling tidak bulan depan emak baru bisa mengirimi aku uang. Weselku bulan ini kuterima dua minggu yang lalu,400 ribu untuk kebutuhanku selama satu bulan. Aku harus bagaimana?? Belum lagi SPP yang juga harus dibayar minggu depan, 2 juta itu bukan jumlah yang sedikit. Aku harus bagaimana??”
Wajah Nisa kembali mengkerut,diliriknya Zahra yang tengah mengemasi pakaiannya.
“Eeeh,mbak…..” akhirnya keluar juga kalimat dari mulut Nisa.
Zahra menoleh sambil terus memasukkan pakaiannya kedalam koper.
“Iya,Nis. Kenapa?”
“Aaah,nggak mbak. Nggak jadi deh.”
“Apa hayooo?? Udaah ah nggak usah malu,mau cerita ikhwan atau cowok atau teman,emakmu,ataaauu??”
“Nisa mau cerita kalau sebenernya Nisa lagi butuh uang mbk”bisik hati Nisa.
‘Heeehee,mbak ni ada - ada saja. Nisa Cuma belum siap aja di tinggal mbak pulang. Nisa masih butuh mbak”. Tangan nisa meraih pensil dan mulai mencoret – coret TTS di majalah yang tengah di pegangnya.
“Nisa,Nisa. Mbak juga sayang meninggalkan banyak hal yang belum tuntas di kampus. Mbak belum punya pengganti. Setelah mbak pikir-pikir Nisa aja deh yang jadi pengganti mbak,mau ya?” Zahra menatap Nisa yang melompong.
“Apa mbak??!! “ Nisa kaget , tangannya menggaruk jilbabnya yang tak gatal.
“Mbak salah orang deh,Nisa belum tahu apa-apa mbak. Nisaa…” dilipat kakinya hingga lututnya menyentuh dagu,Nisa termangu.
“Mbak percaya kok sama Nisa” Zahra menepuk pundak Nisa,meyakinkan keputusannya.
Angin semilir kembali berhembus,gadis itu berdiri,berjalan menyusuri tepian danau. Kembali ia melirik sepasang muda-mudi yang tengah memancing, dihela nafasnya dalam-dalam.
“Nis,mbak udah nggak sanggup lagi. Mbak capek,mbak mau cerai sama Mas mu.”
“Mbak,tapi bercerai itu nggak akan nyelesain masalah mbak.” Suara Nisa meninggi, tangannya mencoreti kertas dihadapannya.
“Mbak udah nggak tahan Nis,selama ini mbak udah sabar. Tapi Mas mu nggak bisa mengerti mbak,mbak beneran mau cerai”
Nisa menatap handphonenya,memastikan bahwa suara yang didengarnya adalah benar.
“Mbak, bukannya mbak dulu bilang kalau mbak cinta sama Mas Adi?”
“Iya Nis, kamu benar. Bahkan masih sampai hari ini, tapi mbak nggak punya solusi lain”
“Mbak, jadi setelah mbak 10 tahun menikah sama Mas Adi, mbak milih cerai, gitu?? Lalu, untuk apa mbak dulu berlama-lama pacaran sama mas Adi? Untuk apa Mbak? Bukannya Mbak sendiri yang bilang, mbak dan mas Adi saling cinta, sampai-sampai Nasihat bapak nggak mbak dengerin”
“Iya Nis, mbak tahu itu. Mas mu yang sekarang beda, dulu waktu kami masih pacaran ia nggak kayak itu Nis, dulu ia benar-benar laki-laki yang baik…”
Nisa diam, tangannya masih sibuk mencoreti kertas. Di remasnya kertas itu, dan… plungg, gulungan kertas itu masuk ke kotak sampah.
“Nis, tolong mbak Nis. Mbak percaya Nisa, bantu Mbak ya Nis. Mbak benar ingin cerai.”
Nisa menghela nafasnya,berat sekali udara yang dihembuskannya.
“Nisa bukan orang yang bisa membantu masalahnya mbak. Nisa bukan orang yang tepat mbak… Nisa nggak tahu apa-apa, mbak yang lebih tahu masalahnya mbak. Apalagi perceraian,Mbak kan tahu kalau Nisa benci sama yang namanya perpisahan.”
Gadis itu kembali termangu menatap air danau, hampir saja ia terperosok masuk ke danau seandainya tidak ada akar pohon yang menahannya. Ia bangkit hati-hati ,kemudian berjalan meninggalkan danau. Matanya lurus menatap sebuah tulisan yang di cat kuning. ”UNIVERSITAS SRIWIJAYA”, lama ditatapnya tulisan itu. Ia memutar tubuhnya, kembali duduk di tepi danau.
“Aku benciiiiii!!!!!!!!!!!!!! Kenapa semua orang egois? Tak bolehkah aku memilih?! Aku bosan mengerti orang lain, kapan orang akan mengerti aku?? Kapaaaaaaannnnn!!!! Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh!!!!”
Dilemparnya danau itu dengan kerikil, air danau menggeliat pelan.
“Aku benciiii! Aku benci!!!!! Aku benci diriku sendiri, aku benciiii!!!” gadis itu masih menjerit, sesekali suaranya melemah. Perlahan-lahan air matanya menetes, ia menangis sesenggukan. Dering handphonenya berbunyi, diraih tasnya yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk. Sambil mengusap air matanya, ia membuka handphonenya. Sebuah pesan diterimanya.
Untaian Hkmh Kmis(24)
Alksh,seorg pngsha yg bngkrut dtg ke s’org kakek yg knon crtanya pny kaca ajaib,kalw sdh mLht smua msLh berez.si bngkrut td jg ingn ktmu kca ajaib it. Olh si kakek,di ajariilmu2 spy mampu mlihat kc ajaib it. Di ajri bisnis dr A – Z,etka hdp n kaidah tgn di atas.
Si bangkrut td mrs bhagia krn mslhny mlai trpCahkan. Akhirnya,diajakLh ia utk ktmuan dg kaca ajaib. Kkek mbr instruksi,”nak,appn yg u lht di kc itulah msLh n jwbnny.” Sibngkrut s7,kkek pun mbuka kca ajaibny,”Taraaa…! Inilah kaca ajaibku!kta si kkek.
Si bngkrut kaget,it mah kca biasa kyk di rmh gw. Lbh kget lg krn di kc hny da gmbr dia.
Ibroh: utk pa AlLah mciptkan pundak jk tdk ada beban utk di tnggung.. dan AlLah jg tw kpsitas pundk qt. Buka deh Al-bqoroh:286 n Ar-ra’du : 11.
Gmana?? Bner gx?
Gadis itu kembali meraih tasnya,dikeluarkannya benda mungil berwarna merah muda dari dalam tasnya. Perlahan ia buka. Pandangannya terhenti, dibacanya tulisan itu.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan ) yang di perbuatnya. (Mereka berdoa),”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami,janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak kami sanggup memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.”[1]

Gadis itu terdiam, lalu menangis lagi. Diciumnya benda mungil itu, ia terus menangis sesenggukan. Tiba-tiba ia diam, ia merasakan ada tangan yang menyentuh pundaknya. Ia menoleh, dilihatnya seorang lelaki berdiri di belakangnya.
“Udah sore mbak, apa mbak nggak mau pulang? Udah hampir maghrib loh, mbak nggak sholat?? Maaf,tadi saya lihatin mbak terus. Abis mbak aneh, teriak-teriak sendiri terus nangis pula. Kalau mau bunuh diri jangan di sini mbak,danau ini mah cetek, mbak terjun aja nggak bakal tenggelem kok. Saya duluan ya mbak, permisi. Oh ya,kalau mau nyebur sekarang aja Mbak.”
Gadis itu mengangguk, ia menyeka air matanya. Ia melirik danau di sebelahnya, sepi. Dikemas tasnya lalu ia bangkit, sekali lagi ia menatap air danau kemudian ia melangkah meninggalkan hamparan rumput yang sejak tadi menemaninya.

***

[1] : Q.S. Al-Baqoroh:286




*Syiefa_uL Qalbi*

Aduuh Ukhti, PLis Dong Ah!

Hawa panas merebak ke semua sudut ruangan, 3 buah kipas angin ternyata tak cukup untuk membuat suasana lebih sejuk, panitia sibuk membagikan snack kepada para peserta Dauroh¹. Seorang gadis berjilbab biru lebar sebatas pinggang, duduk di barisan kedua,ia khusyuk mendengarkan pembicara yang tengah menyampaikan “wejangannya”,ia gelisah lalu menoleh ke belakang. Dilihatnya dua orang gadis yang juga berjilbab lebar tengah asyik “berdiskusi”, gadis berjilbab biru kembali menatap pemateri.
Ia gelisah lagi,ditolehnya gadis berjilbab putih yang duduk di samping kanannya. Hanya senyuman manis disertai bahu yang di angkat dan helaan nafas yang diterimanya dari gadis berjilbab putih. Gadis berjilbab biru meraih pena dan menulis sesuatu di kertas bindernya yang berwarna biru. Ia tersenyum,dipandangi tulisannya,dilepaskannya dari japitan binder lalu di serahkan ke gadis berjilbab putih. Yang diberi menatap kertas itu lalu tersenyum,di serahkan kembali kertas itu ke gadis jilbab biru.
Setengah jam berlalu,si jilbab biru masih asyik mendengarkan materi-materi yang di uraikan meskipun raut mukanya menunjukkan kegelisahan. Sejurus kemudian di tatapnya lagi tulisan yang dibuatnya tadi,ia putar tubuhnya kebelakang dan menyerahkan kertas itu ke meja dua orang jilbaber yang tengah berdiskusi itu. Mereka tersenyum,gadis jilbab biru membalas senyumannya dan kembali ke posisi semula.
“Diantara kewajiban seorang muslim terhadap tetangganya yaitu, tetangganya berhak untuk mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dari gangguan lisannya² “ terdengar suara dari arah belakang gadis berjilbab biru.
“Ukh³,ini untuk kita berdua ya?” Tanya salah seorang dari kedua gadis itu.
“Siapa lagi? Eh,emang kita ngobrolnya keras ya? Perasaan nggak tuh” jawab gadis yang satu lagi.
“Iya kali ukh, nanti lagi deh ceritanya. Nggak enak ama tetangga kita,walaupun ceritanya lagi seru-serunya. Ukh,materi Ustadz ini tentang apa ya?” temannya menyahut.
“Nggak tahu ukh,,”
Mendengar itu,gadis berjilbab biru tersenyum.
“Alhamdulillah,mudah-mudahan mereka nggak khilaf lagi. Mahasuci Engkau Ya Robb,yang Maha lembut dan Maha Santun dalam segala sesuatu.” Bisik gadis berjilbab biru dalam hati, ditolehnya gadis berjilbab putih, mereka tersenyum.
Semua peserta dauroh menghembuskan nafas lega, tampak kegembiraan terpancar dari aura wajah setiap peserta menyambut saat break sholat dzuhur dan makan siang. Gadis berjilbab biru bergegas menuruni tangga menuju tempat wudhu. Antre, akhirnya gadis itu duduk di anak tangga. Tak lama, seseorang berjilbab coklat duduk di sampingnya. Keduanya bercakap-cakap,sesekali mereka tersenyum.
“Aini,coba liat deh ukh. Yang pake jilbab merah,liat deh ukh..”
“Dia kenapa ukh? Perasaan Aini lihat nggak ada yang salah darinya,,” jawab gadis berjilbab biru,yang tak lain adalah Aini.
“Pakaiannya itu loh ukh,coba lihat lagi deh. Kaos kaki warna-warni, rok hijau terang, baju wana biru, eeh..jilbabnya merah. Udah gitu,brossnya ukh,lihat tuh,bross kain motif bunga eeh warnanya kuning. Serasa pelangi aja ya ukh. Sepatunya warna apa ya ukh?”
“Idih,nggak boleh gitu dong ukh. Kali aja beliaunya lagi bersemangat hari ini,jadi semua paduannya itu menggambarkan semangatnya. Aini juga nggak match kok,coba lihat deh. Kaos kaki Aini coklat,rok hitam terus bajunya ini abu-abu,dan seperti yang ukhti lihat,jilbab warna biru sama bross warna putih pula. Kayak jemuran kan?”
“Hmm, kalau ukhti mah masih enak dilihat ukh. Masih ada padanannya,tapi dia kan beneran menyilaukan penglihatan ukh. Ya nggak sih?”
“Heehe,nggak juga ukh. Biasa aja, kali emang itu yang beliau punya hari ini. Udah ah,nggak baik ngomongin orang. Aini wudhu duluan ya ukh” Aini bergegas menuju tempat wudhu sambil menggelengkan kepalanya pelan-pelan.

***

Angkot kuning berdecit, Aini turun dari angkot diikuti kedua orang temannya. Angin sore hari berhembus, menggerakkan ujung-ujung jilbab mereka. Dari kejauhan tampak seorang wanita berkerudung coklat berjalan beriringan dengan seorang lelaki. Aini mengedarkan pandangannya ke lapak-lapak pinggir jalan yang menjajakan aneka buahan.
“Ukhti, lucu ya cewek itu..”
Aini dan gadis berkerudung putih saling berpandangan. Mereka menatap cewek yang ditunjukkan oleh teman mereka.
“ Emang kenapa Des?” Tanya gadis yang berkerudung putih.
“Itu loh Mbak Rahma, kerudungnya lucu banget. Nggak kasihan apa sama lehernya, jilbabnya di ikat sampai membelit leher. Liat tuh bajunya, itu mah cocok buat daleman kebaya. Aduuh, mana roknya model Cinderella pula. Kerudung warna coklat, kaosnya warna item, di masukin kedalam rok warna merah lagi. Aduuuuuh,niatnya sih boleh atuh mau gaya. Tapi kalau kayak gitu mah, malah nggak gaya banget kaliii” Dessy menjelaskan.
Rahma dan Aini kembali berpandangan,keduanya tersenyum geli.
“Aduuuh ukhti ku tersayaaaang, pLis dong ah! Ada nggak sih bahasan lain selain ngatain orang? Coba deh peratiin dirimu, sepatu warna biru di paduin sama kaos kaki merah. Udah gitu,rokmu warna hijau,bajumu warna kuning pudar. Lah jilbabmu ituuu,aduuuh gimana gitu. Setelah semua merusak penglihatan,kamu masih aja maksain pake jilbab warna coklat tua di hiasi bross kain panel warna biru. Hayooo,nyiksa banget nggak sih?” jawab Aini sambil tertawa.

***

Dauroh¹ : pelatihan / training
lisannya² : lidah / ucapan
Ukh³ : saudari(bhs arab)



*Syiefa_uL Qalbi*

Minggu, 19 Desember 2010

“SENJA DI UFUK TIMUR”

24 mei 2008
Fajar yang cerah berhias tetesan embun yang basah serta udara yang bersih menyemarakkan suasana shubuh ini,suasana pagi yang indah seindah suasana hatiku ini. Aku bersiul-siul di sumur,menimba air untuk wudhu sambil melamun. Hari ini adalah ulang tahunku yang sangat aku nanti-nantikan,ulang tahun ke-17 githu loh! Sweet seventeen,yang kata orang-orang di salah satu majalah favoritku penuh dengan sejuta warna,mulai dari cinta pertama (atau pacar pertama,hee). Masa-masa yang penuh cinta yang sarat hal-hal romantis lainnya serta saat dimana kita boleh mencicipi hal-hal baru sesuka kita.
“Bintang,kamu mau subuhan apa mau ngelamun?” tegur bapak,mungkin beliau melihatku yang sedang tersenyum-senyum sendiri,hanyut dengan khayalan indahku.
“iya pak,mau sholat laah. Masa’ ngelamun bentar nggak boleh sih? Bintang udah gede pak.” jawabku. Bintang hari ini sudah 17 tahun pak,batinku.
“ cepetan sholat,setengah jam cuma di sumur aja,kapan sholatnya??”
“iya pak,iya..” aku buru-buru wudhu sambil merengut,sambutan pagi di ulang tahunku yang kurang mengenakkan,gerutuku dalam hati.
Usai sholat subuh,seperti biasa langsung mandi pagi. Siap-siap berangkat ke sekolah. Seperti biasanya,aku selalu duduk di beranda rumah sambil membersihkan sepeda butut kesayanganku. Aku makin bersemangat,apalagi menatap mega-mega yang mulai memerah di ufuk timur
“Bintang,kamu itu sudah besar nak,,harus sudah bisa mengatur diri sendiri,sudah besar itu yaa mesti rajin sholat nak,gak malu apa sama jilbabmu itu. Masa muslimah yang pake jilbab sholatnya cuma maghrib saja,isya lewat. Subuh juga kalau di banguni susah,di sumur satu jam cuma buat ngelamun. Pas dhuhur entah kemana,ashar juga ditinggalkan. Kita itu punya kewajiban nak,sholat itu ada lima waktu. Bukan Cuma maghrib saja,lhaa yang empat kamu kemanain? Sudah besar mbok yaa lebih rajin ngaji,apa ngaji itu cukup pas kecil saja? Ya ndak tho? Apa kamu nggak malu sama teman-temanmu,sama guru-gurumu,kalau mereka tahu kebiasaanmu yang suka kekanak-kanakan? Apa nggak malu sama Allah nak?? Kurang apalagi yang Allah beri? Kamu bisa juara umum terus,dapat beasiswa terus,kurang apa nak?? Mbok ya berubah tho??” ceramah bapak.
Mendengar ceramah bapak aku hanya pura-pura mendengarkannya,ceramah yang sama setiap pagi. Mungkin lebih dari seratus kali bapak menceramahiku dengan kalimat yang sama,monoton dan membosankan untuk didengar. Kurapikan jilbabku lalu mengeluarkan sepeda,pamitan pada bapak dan berangkat ke sekolah. Sepanjang jalan tak henti-hentinya aku tersenyum,membayangkan indahnya masa-masa remajaku.” Happy birthday to me,happy birthday happy birthday,happy birthday….to me” kunyanyikan lagu itu dalam hati,ah indahnya.
“bapak,siapa juga yang nyuruh bintang pakai jilbab coba?? Inikan maunya bapak. Bintangkan sudah bilang pak,bintang belum mau pakai jilbab. Bintang masih pengen bebas pak. Lagian sholatkan panggilan hati,kalau bintang mau sholat ya sholat. Kalau ndak mau sholat ya ndak apa-apa sih pak. Bintangkan udah gede,sudah 17 tahun. Bintang berhak atas keputusan dan hidup bintang” protesku dalam hati sembari mengayuh sepeda..
Aku begitu menghormati bapak,beliau begitu penyabar serta punya perhatian yang besar terhadap anak-anaknya. Wajahnya selalu penuh senyum dan keteduhan setiap kali memandangnya,dulu waktu aku masih kecil bapak selalu menciumku setiap kali habis mencukur kumis ataupun jenggotnya dan aku aku akan tertawa karena geli. Menggendongku saat aku sakit,dan selalu menceritakan kisah-kisah nabi,kisah sahabat pilihan serta cerita seribu satu malam”Abu Nawas”. Mengajariku mengaji,dan tidak ketinggalan pula menghukumku untuk tidur di samping rumah karena aku nekat melanggar aturan bapak untuk tidak menonton televisi.
Meskipun ceramah-ceramah bapak itu terasa berisik tapi aku tetap tidak bisa membantah bapak secara langsung. Sholat maghribku juga dalam rangka nyenengin bapak,setidaknya aku masih sholat walaupun dengan melawan rasa malas yang luar biasa. Aku pakai jilbabpun untuk menyenangkan hati bapak,setidaknya keinginan beliau supaya anak perempuannya ada yang pakai jilbab kesampaian. Masa iya sih guru ngaji yang terkenal di kampungku anaknya gak pakai jilbab. Gini-gini aku sayang bapak,suka-suka aku dong bagaimana mengekpresikannya.
“Bintaaang,selamat ulang tahun yaaa,ehm,, yang udah dewasa nie yee. Cieela,selamat yaa..” bertubi-tubi teman-teman satu kelasku mengucapkan selamat ulang tahun. Semua sepertinya turut merasakan kebahagiaanku,ah..benar-benar sambutan yang indah pikirku.
“Aduh,apaan sih kalian ini? Biasa aja lagi,nggak ada yang istimewa kok. Em,makasih untuk ucapannya.” Aku masih jaim,jaga imut gitu loh!
“Kayaknya ada yang beda hari ini,ada apa ya? Kok saya merasa sedari pagi tadi kelas ini rebut sekali? Ada apa?” Tanya Pak Raihan,wali kelas kami XI Ipa 1. Beliau mendapati kelas kami yang gaduh karena ternyata teman-teman telah menyiapkan kejutan buatku.
“Bintang ulang tahun hari ini pak,bintang kelas kita lagi bahagia pak. Makanya kita semua ngasih surprise,sweet party ala Ipa 1 pak.”jawab Ardi,salah satu temanku.
“Oh,barakallah ya bintang,selamat milad ya.. jadilah bintang yang selalu taat pada Allah.” Kata guruku kemudian.
“Terima kasih pak untuk ucapannya. Terima kasih atas do’a bapak”balasku kemudian.
Aku jadi malu,wali kelasku ini emang perhatian,alim dan selau menanamkan nilai-nilai islami setiap berada di kelas. Rasanya hari ini benar-benar milikku. Ternyata benar,sweet seventeen itu memang saat-saat yang indah seperti kata majalah kesayanganku. Hampir semua orang yang mengenalku di SMA ini mengucapkan selamat padaku,terkecuali keluargaku. Mereka sepertinya kurang peduli dengan hari lahir. Kado yang kuterima juga beraneka ragam. Ada yang memberiku jilbab,bross,bahkan ada yang memberi selembar puisi yang ditulis di atas kertas yang telah dihias aneka bunga. Seolah akulah yang menjadi hotnews tabloid sekolah hari ini,secara akukan bintangnya SMA MUARA PRESTASI sekaligus pimpinan redaksi tabloid”SMART”.

5 juni 2008
Aku dijemput pulang oleh sepupuku,padahal hari ini aku baru saja menyelesaikan satu ujian praktek. Aku mengemasi buku-bukuk lalu pamit ke guru yang mengawas dan juga teman temanku.
“Bintang mau pulang ya? Hati-hati ya bintang” johan menyapaku diluar kelas. Temanku satu ini emang badung,ujian praktek belum selesai dia malah duduk di depan kelas.
“Heehe, ya iyalah Jo. Makasih.”aku tersenyum padanya,aneh dia nggak biasanya sok perhatian gitu sama aku.
Aku masuk ke ruang guru,semua tiba-tiba saja berdiri menyambutku. Mereka seperti menatap tidak percaya kepadaku,aku jadi risih. Aneh ah,nggak biasanya mereka seperti itu.
“permisi pak,permisi bu.” kataku,canggung mereka menatapku seperti itu.
“Oh ya,mau pulang ya? Hati-hati ya nak” jawab pak Umar,guru matematika kami.
“Iya pak,terima kasih”jawabku sambil tersenyum.
Mereka kenapa sih? Ada apa sih? Tanyaku dalam hati. Belum habis rasa heranku,eh pas di ruang tunggu aku bertemu dengan seorang guru baru,bapaknya masih muda serta ganteng pula.
“Bintang fazaristy ya?”sapa beliau kemudian.
“Iya pak,saya bintang. Permisi pak ya,di jemput sepupu untuk pulang.”jawabku.
“Oh ya nak,Silakan. Hati-hati ya nak.”pesan beliau.
Aku hanya tersenyum,sudah berapa orang yang kutemui tapi semua mengucapkan pesan serta tatapan yang sama. Mereka kenapa sih? tanyaku tak henti-henti. Aku menemui sepupuku yang telah menungguku sedari tadi di ruang tunggu.
“memangnya ada apa fi? Kok aku tiba-tiba disuruh pulang?”tanyaku pada Fia,sepupuku.
“Bapaknya kak bintang yang nyuruh jemput kok,kata uwak penting.”jawabnya.
Ada apa ya? Apa mamakku sakit? Mamak meninggal? Ataukah kakak iparnya mbak Nur yang katanya sakit itu meninggal? Tanyaku dalam hati. Kami berdua naik motor,sepanjang jalan aku diajak ngobrol sama Fia,hingga aku lupa dengan pertanyaan-pertanyaan dihatiku. Banyak hal-hal lucu yang kami temui di jalan dan kami tertawa-tawa dengan riang. Saat aku melihat ayah Fia dan menantunya lewat mengenakan peci dan baju koko serta mengendarai motor dan terlihat buru-buru sekali, aku kembali menanyakan kepada sepupuku.
“Mereka mau kemana Fi? Tumben pakai baju koko.”tanyaku.
“Bapak sama o’om katanya ada urusan tadi,biasalah kak masalah penjualan getah karet sama toke-toke karet. Katanya sih mau ke Linggau kak,mau jual ke gudang langsung” jawab Fia.
“Oalah,karet lagi toh “ gumamku kemudian.
Begitulah,kami bercerita banyak di jalan. Tertawa,hingga tiba di kampungku. Dari atas tebing aku melihat banyak orang-orang bermotor menuju ke gang rumahku.
“Ramai benar,ada hajatan ya fi?? Kok bintang nggak tahu ya? Padal bintang baru seminggu loh balik ke kostan.” Tanyaku lagi.
“Nggak tau kak,kebetulan aja kali” jawab sepupuku.
Sampai di depan rumah tetangga sebelah kananku,pertanyaanku menjadi banyak. Aku bergegas turun dari motor,diiringi sepupuku,dari jarak 5 meter aku mencium bau kapur barus. Dinding rumahku yang terbuat dari papan juga di buka 5 keping. Semua orang menatapku dengan muka iba,ku lihat bibiku dengan matanya yang sembab. Ya Allah,Ada apa ini??
“Kak Bintang,jangan kaget ya kalau kakak sudah di ruang tamu” Kata sepupuku.
Aku berlari ke ruang tamu,ku lihat mamak dan adik bungsuku duduk di sudut ruangan. Kulihat paman-pamanku serta bibi-bibiku duduk melingkari seseorang yang terbaring di ruangan itu.
“Bi,bapak kenapa? Bapak sakit apa kok di kerumuni kayak gitu?” tanyaku.
Melihat aku datang,salah satu pamanku langsung memeluk aku. Memeluk erat sekali hingga aku terheran-heran.
“Ya Allah yang sabar ya nduk. Bapakmu sudah dipanggil yang Maha Kuasa. Yang sabar nduk ya”ujarnya kemudian.
Kuhempaskan pelukan paman seraya menyeruak diantara kerumunan itu. Kulihat tubuh bapak yang di selimuti kain, beliau tersenyum sambil terpejam kedua matanya. Tidak ada tanda-tanda bapak meninggal.
“Paman bohong! Bapak tidur kayak gitu kok dibilang meninggal sih? Pak,bapak bangun pak. Bintang pulang,assalamualaikum bapak” ku guncang-guncang tubuh bapak,kuraih telapak tangan bapak yang telah di sedekapkan di dada. Kucium tangannya,sama seperti kalau aku pulang ke rumah setiap hari minggu.
“ Anakku,bapakmu sudah meninggal nak,sudah yang sabar nak. Ambil wudhu terus bacakan yaasin untuk bapakmu. Ikhlaskan kepergian beliau” bisik paman kemudian.
Aku tatap semua orang yang ada diruangan itu,mencari kebenaran akan penglihatanku. Aku benar-benar tidak menyangka bapak secepat ini meninggalkan aku,padahal hari minggu yang lalu aku masih mendengar ceramah bapak yang membosankan itu. Berdebat dengan bapak masalah kakak,bahkan aku menuduh bapak telah terpengaruh omongan tetangga yang mengatakan kakak ternyata suka mencuri ayam dan bebek tetangga bareng teman-teman satu gengnya. Aku benar-benar tidak menyangka,uang dua puluh ribu yang di berikan beliau kemarin adalah uang terakhir yang ku terima dari bapak meskipun dengan mukaku yang kulipat seribu. Tidak kusangka,mega merah yang selalu kutatap tiap kali matahari hendak terbit kini telah berubah menjadi senja.Kembali kutatap wajah teduh penuh senyum itu selanjutnya aku tidak ingat apa-apa lagi.

Pertengahan juli 2008
Meninggalnya bapak benar-benar membuatku berantakan. Aku bahkan marah pada mamak yang tampaknya tidak pernah menangis barang setetes air matapun! Aku bahkan protes sama mamak pas 7 hari meninggalnya bapak.
“Mak,mamak kok nggak sedih sih waktu bapak meninggal? Mamak kok nggak nangis sih?” ku tatap wajah mamak dengan tatapan curiga. Setumpuk kebencian terpancar dari sorot mataku.
“Emangnya mamak kayak kamu? Bintang,apa kamu nggak nyadar sama kesalahanmu ke bapak? Sebelum bapak meninggal,semalaman bapakmu nangis. Nelangsa karna anak-anaknya nggak ada yang mau mendengar dan percaya dengan omongan bapak,sudah apa kamu minta maaf sama bapak? Buat apa nangis bintang,buat apa kamu nangis? Nangis pura-pura juga!” jawab mamak.
Aku benar-benar tidak menyangka ibuku akan berkata seperti itu. Aku tertohok dengan kata-kata itu,tak terasa butiran hangat mengalir di pipiku. Tanpa mampu mengucapkan kata-kata balasan (seperti biasanya,satu baris kalimat yang keluar dari mulut mamak,apabila menyinggung hatiku pasti aku jawab dengan satu paragraf kalimat),aku berlari ke kamar dan membanting pintu dengan keras tanpa peduli lagi dengan perasaan mamak. Aku menangis sesenggukan di kamar,bantalpun basah oleh air mataku. Kebencianku pada mamak bertambah satu tumpuk lagi.
“Mamak tega! Mamak jahaaaaaattt!!! Bintang benci mamaak!!!” teriakku dalam tangis. Entahlah mamak mendengar atau tidak jeritanku,aku tak peduli. Aku menangis hingga tertidur lelap.
Bagiku bapak telah seperti separuh jiwaku. Meninggalnya bapak adalah hilangnya peganganku. Aku bahkan tidak peduli dengan hasil ujian semesterku,nilai ku anjlok. Biasanya setiap pembagian rapor aku selalu menjadi juara umum 1 untuk 4 kelas yang kira-kira siswanya 160 lebih yang se angkatan denganku. Semester ini aku harus menerima ke kalahanku menjadi juara umum 3. Posisiku di gantikan oleh Ani,siswa baru pindahan dari Lampung. Aku tak peduli,bagiku prestasiku dulu adalah karena ada bapak yang menjadi penyemangatku. Walaupun ada rasa sakit di dada karena kekalahan ini,tapi tidak berarti bagiku ketimbang kepergian bapak.
Hari-hari tanpa bapak,seperti gelap bagiku. Setiap hari mamak selalu memberiku uang dua puluh ribu tapi uang itu selalu habis. Habis untuk jajan,bahkan sholat maghrib juga aku tinggalkan. Janggal memang,tapi aku menganggap ini sebagai bentuk protesku pada Allah. Aku marah sama Allah yang seenaknya saja mengambil bapak. Allah nggak tau apa kalau aku sangat menyayangi bapak. Bapak bohong pak,bapak bilang kalau Allah itu pengasih,penyayang,maha adil dan dekat dengan hambanya. Tapi mengapa Allah tega sama bintang pak,mana buktinya kalau Allah sayang dan adil sama bintang,mana??
Bapak bilang kalau Allah selalu menilai setiap kebaikan yang kita lakukan,tapi mana buktinya pak? Selama ini bintang sholat maghrib,bintang sudah memakai jilbab dan mana kebaikan yang Allah beri untuk Bintang. Kenapa nggak mamak saja yang duluan meninggal,kan kalau mamak meninggal nggak ngefek sama aku. Masih ada bapak itu sudah cukup! Masih untung aku nggak lepas jilbab,masih malu sama guru-guruku. Seandainya ada bapak,pasti semua akan baik-baik saja seperti biasanya.
Hari-hari bersama mamak membuatku canggung sekali. Aku memang sedari SD tidak akrab dengan mamak. Sejak peristiwa 7 hari meninggalnya bapak,hingga hari ini aku belum menegur mamak atau mengajaknya berbicara. Barang berbasa-basi sepatah katapun tidak,biar tahu mamak kalau aku marah padanya. Aku bahkan tak tahu mamak sedang apa, mamak pergi ke mana atau sedang di manapun aku tidak mau tahu. Salah siapa ngomong seperti itu padaku. Sudah tahu aku sensitif sama mamak, masih saja mamak nyari gara-gara sama aku.
“Mbak bintang,di panggil mamak tuh.” kata Ali,adik bungsuku.
Dengan malas aku beranjak ke ruang tengah,menemui mamak. Kulihat mamak menatapku dengan tatapan yang tak kuketahui maksudnya.Aku duduk dengan muka masih cemberut.
“Mau bilang apa sih mamak?” tanyaku dalam hati.
“Bintang,mamak salah apa sama kamu? Sampai-sampai kamu memusuhi mamak,salah apa mamak sama kamu? Segitu bencinya kamu sama mamak,Kurang apa mamak samu bintang? Kurang apa? Kamu anggap mamak ini apa bintang? Patung,batu atau pembantu di rumah ini? Apa salah mamak?” mamak memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan menusuk.
Aku benar-benar tidak menyangka. Aku tidak menjawab,aku berusaha untuk tidak mendengarkan kata-kata mamak.
“Bintang! Ngomong sama mamak kalau kamu nggak suka sama mak? Kamu sudah gede bintang,apa susahnya bilang sama mamak? Kamu kira mamak suka didiamkan? Kamu kira mamak nggak nangis kamu cemberuti,Kamu anggap mamak ini apa?” kembali mamak bertanya,tapi aku tak mampu menjawab. Dadaku terasa sesak,aku ingin menangis.
“Oh,kamu marah sama mamak karna mamak ndak nangis waktu bapakmu meninggal,Iya? Asal kamu tahu bintang,mamak janda sekarang. Bapakmu meninggal tanpa ada pesan sama mamak,sepatah katapun! Mamak bahkan ingin nangis bintang,tapi apa kamu tahu? Ali adik bungsumu yang melarang mamak nangis,apa kamu tahu kalau adikmu yang menghibur mamak saat ia tahu mamak sedih. Apa kamu tahu itu bintang?” lanjut mamak.
Mamak menangis,adikku berlari memeluk mamak. Melihat mamak menangis,aku jadi tak tega. Aku juga ikut menangis,jadilah ruang tengah penuh dengan tangisan kami berdua. Hatiku melunak,sedikit.
“Mak,maafkan bintang karna bintanglah yang salah.” Hanya itu yang mampu aku ucapkan,setelah itu aku pergi ke kamar. Menangis lagi,hingga aku tertidur. Aku jadi makin benci sama mamak.
5 juni 2009
Alarm handphoneku berbunyi,”hilangnya sang bintang hati” kubaca tulisan di layar HPku. Ah,telah 1 tahun bapak meninggal tapi rasa kehilangan masih saja terasa hingga kini. Kutatap jam di dinding kostanku. Tepat pukul 10.00 WIB,kata mamak dulu pas jam 10.00 hari kamis wage bapak meninggal.
Nenekku pernah bercerita,”Bapakmu dulu lahir hari kamis wage nduk,jam 10.00 pagi. Eh pas meninggalnya juga pada hari dan jam yang sama. Bapakmu benar-benar beruntung sekali. Tapi kok ya malah bapakmu duluan,padahal nenek sama kakekmu ini sudah tua. Lah wong gigi saja sudah ndak punya kok ya malah masih hidup sampai sekarang,”
Bapak,sosok ayah yang begitu aku kagumi,aku menghormati dan mencintai bapak melebihi mamak sendiri. Meskipun aku belum bisa menghilangkan rasa sakit karena kepergian bapak,aku berusaha bangkit lagi. Meskipun hanya pura-pura berbaik hati dengan mamak,setidaknya aku telah berusaha untuk baik dengan mamak. Teman-teman sekolahku,guru-guruku,mereka semua mungkin memaklumi kalau semester kemarin nilaiku anjlok. Tapi aku adalah Bintang Fazaristy,mana boleh orang lain berlama-lama di posisiku. Aku berjuang lagi mengejar ketertinggalanku. Membangun semangat,menyusun strategi dan taktik baru untuk meraih juara umum 1 lagi. Juara itu milikku,milik Bintang!
Hari ini rapor dibagikan. Pamanku yang mengambilnya. Aku berhasil melempar Ani dan merebut posisiku lagi. Aku bangga setelah tahu dia hanya mendapat peringkat kedua di kelas. Seandainya ada bapak beliau pasti bangga padaku. Oh ya,sholat maghribku sudah aku jalani lagi. Aku mencoba berdamai dengan Allah,setidaknya demi bapakku.
“Bintang,di panggil sama wakasek kesiswaan tuh. Sedari tadi beliau mencari-cari kamu.” Kata tias,anak IPS.
“ Oh ya,makasih Tias ya”jawabku. Aku bergegas ke ruang kesiswaan.
“ Assalamualaikum permisi pak”salamku kemudian.
“Waalaikum salam masuk,duduk sini.” Jawa beliau.
Ternyata,beliau memberitahuku bahwa ada penawaran ke universitas negeri melalui jalur PMDK. Aku tertarik karena memang sejak lama aku ingin melanjutkan kuliah,impianku sejak awal masuk SMA dan bapaklah yang tahu.Sepulang dari sekolah kuceritakan tawaran ini ke mamak. Tapi mamak lagi-lagi mengecewakan aku. Mamak tidak memberiku izin untuk kuliah.
“Uang dari mana bintang? Kita ini hidup pas-pasan,mak juga sendirian. Kalau bapakmu masih ada ya nggak apa-apa. Sekolah SMA juga sudah Alhamdulillah,kalau mau kuliah di Linggau saja. Nggak usah neko-neko mau kuliah jauh.”jawab mamak.
Tanpa menjawab lagi,aku berlari ke kamar menagis sejadi-jadinya. Ah mamak,kenapa mamak membuat aku semakin membenci mamak! Apa mamak nggak tahu kalau bintang benar-benar mau kuliah. Bapak saja ndak melarang kok,inikan hak bintang mak! Daripada kuliah di Linggau lebih baik ndak kuliah sekalian. Langsung menikah saja kalau perlu,kayak mbak Nur dulu. Mamak egois,pekikku dalam hati. Alhasil aku mendiamkan mamak lagi,Ya Allah …kenapa sih bintang punya mamak kayak gitu? Sungguh,kebencianku makin memuncak sama mamak. Seandainya bisa tak menyebutnya dengan tanpa mamak,atau tak punya mamak seperti itu pasti hidupku lebih bahagia.

24 Mei 2010
Hari ini ulang tahunku yang ke-19 tahun. Aku bahkan hampir lupa,seandainya wall facebook ku tidak penuh oleh ucapan selamat ulang tahun. Aku telah menjadi mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di provinsiku melalui jalur PMDK. Meskipun harus berdebat panjang dengan mamak dan membatalkan beasiswa kuliah di ITS Surabaya serta beasiswa DIII computer El-Rahma di ibukota provinsi. Angin pagi di belakang kostan membelai lembut,kumbang-kumbang telah menari di atas bunga rambutan.suasana ini mengingatkanku akan kampung halamanku yang telah 1 tahun kutinggalkan,membuatku semakin rindu akan kampungku. Ujung jilbabku tertiup angin,kurapikan lagi.
Aku banyak belajar disini,ternyata jauh dari keluarga itu tidak enak meskipun SMA dulu aku sudah terbiasa kos tapi sekarang beda. Disini tidak ada lagi yang memanjakanku,semua aku yang mengerjakan. Aku sempat terkaget-kaget dengan kampusku saat pertama kali dating,kukira kampus itu tempat yang hanya berisi kuliah-kuliah dan kuliah saja. Ternyata disini beda,aku merasakan aura pesantren disini karena banyak kutemui cewek-cewek yang berjilbab lebar seperti ibu maryati,guru agamaku (yang belakangan kuketahui mereka Akhwat).
Alhamdulillah sholatku sudah rutin 5 waktu. Kalau dulu,maghrib adalh sholat idolaku maka kini aku tidak bisa meninggalkan satu sholat barang satu waktupun. Saat ini kalau tidak sholat sunnah rawwatib barang satu kalipun aku seperti orang linglung,padahal SMA dulu ketika ada pesantren kilat atau karena ajakan guru agamaku saja aku sholat dhuha.
Disini aku bahkan tak punya saudara,tidak ada bapak atau mamak sekalipun yang melihat dan mengawasi keseharianku. Dulu aku bahkan enggan menyentuh al-quran,sekarang ia bahkan melebihi sahabatku, menjadi tempat aku berbagi rasa. Bapak,mamak,terimakasih telah memaksaku berjilbab saat itu. Kini aku benar-benar telah mencintai jilbabku. Aku bahkan tak peduli,apakah ada bapak atau ada siapapun itu karena jilbab ini adalah cintaku. Aku malu mengenang masa dulu,saat jilbab hanya kujadikan sebagai topeng kemunafikan dan keburukan pribadiku sehari-hari.
Bintang mengerti sekarang mak,mengapa Allah tidak memanggil mamak lebih dulu. Allah menasihati bintang supaya berbakti dan menyayangi mamak sama seperti bintang menyayangi bapak. Bintang mengerti sekarang,mengapa bapak yang lebih dulu meninggalkan kita mak. Allah ternyata tengah menasehati bintang supaya bintang taat sama Allah,supaya bintang sadar kalau hidup dan mati bintang itu hanya untuk Allah mak. Ibadah bintang harus karena Allah bukan karena bapak .
Bintang tahu sekarang,prestasi yang bintang banggakan dulu belum ada apa-apanya dengan yang lain. Mamak,ampuni kesalahan bintang mak. Maafkan kesalahan bintang sama mamak,disini tidak ada orang yang lebih bintang rindukan kecuali hanya mamak seorang mak. Bintang kangen mamak,kangen masakan mamak,suara mamak,omelan mamak dan juga tangisan mamak setiap malam. Bintang kangen mamak,kangen kasih sayang mamak yang selama ini bintang abaikan mak.
Bintang malu sama Allah mak,malu sama hati bintang mak karna selama ini bintang cuma pura-pura baik dan sayang sama mamak. Mamak tahu nggak mak,kepura-puraan itu ternyata menjebak bintang maka maafkanlah bintang mak. Bintang tak pernah mendengarkan bisikan hati bintang,bisikan hati bintang yang selalu memanggil nama mamak.
Mamak,bintang benar-benar kangen mamak. Pengen dipeluk mamak,diajari akan makna kepercayaan serta kasih sayang dalam keluarga. Maafkan semua kesalahan bintang mak,maafkan kedurhakaan bintang. Bintang dalam hati ini sekarang ada dua,ada bapak dan juga mamak. Maafkan bintang mak,maafkan bintang. Hari ini ulang tahun bintang yang ke-19 mak. Berarti telah Sembilan belas tahun pula bintang memusuhi dan mendurhakai mamak. Maafkan bintang mak,izinkan bintang meraih ridho mamak seperti perintah Allah dan Rosulullah.
Kubasuh muka penuh semangat,kicauan burung gereja di sekitar kostan semakin mengharukan suasana hati ini. Tengadah kedua tangan membaca doa selepas wudhu. Ya allah,sampaikan kerinduan dan tangisan cinta ini kepada mamakku. Tolong jaga mamak ya Allah,bintang takut maaf ini tak bermuara dalam cinta dan keridhoan mamak seperti yang Engkau perintahkan. Ampuni kesalahan dan dosa-dosa bintang ya Allah,ampuni kesalahan selembar piagamnya bintang. Tak terasa butiran hangat mengalir di ujung kelopak mataku,meluluh lantakkan kekerasan hatiku selama ini. Ku tatap langit,aduhai indah nian… jingga di ufuk timur,pertanda mentari akan segera menyambutku pagi ini. Aku harus bersiap-siap untuk berangkat ke kampus hijauku.
Kuraih diaryku,ingin kubagi rasa ini kepadanya. Saat aku ingin menulis,tanpa sengaja aku menyentuh Al-quranku hingga terjatuh. Aku memungutnya dan kulihat secarik kertas didalam Al-quranku.
“Bintang,ketika kamu sampai di tempat kosmu segeralah sholat. Carilah dimana letak masjidmu,carilah dimana letak Al-quranmu. Ketika engkau ingat rumah,pergilah ke rumah Allah agar hatimu tenang dan damai. Jadilah bintang yang selalu ceria dan periang,ingatlah bahwa engkau yang terbaik dari keluargamu. Jangan pernah mengharap apapun dari orang lain,berharaplah hanya kepada Allah dan jangan pernah lelah bila semua do’a dan usahamu belum dikabulkan oleh-Nya. Kami menanti dan mengiringimu bersama doa,pulanglah dengan membawa sinarmu yang terang. Engkaulah yang Allah pilih untuk menerangi kesuraman keluarga selama ini,tetaplah menjadi bintang yang jujur,ceria,periang serta cerdas dimanapun engkau berada. Maafkan mamak nak,mamak tak ingin menghalangi mimpimu tapi mamak hanya ingin tahu kesungguhanmu.” Tulisan itu adalah dari mamak,aku menemukannya pertama kali ketika aku merapikan al-quran saat hari pertamaku di kosan ini. Mamak,maafkanlah bintang yang selalu buruk sangka terhadap mamak. Sebaris kata-kata yang ternyata mampu mengikis kerasnya hatiku yang ditutupi gengsi dan benci.



Awal September 2010
Cuaca siang ini begitu panas,aku ragu-ragu untuk mudik ke kampung. Tapi berjumpa dengan mamak adalah alasan kepulanganku kali ini. Aku sudah tak sanggup menahan gejolak rindu di hati,kerinduan yang hendak mencari muara rindu. Aku gelisah menunggu jemputanku,tak sabar rasanya ingin memeluk mamak dan menumpahkan kerinduan serta meminta maaf atas semua kesalahan selama ini. Aku mondar-mandir di ujung jembatan di perbatasan ibukota kecamatan kami.
“ Lama sekali jemputanku? “Gerutuku dalam hati.
Tak lama kemudian,aku melihat orang yang menjemputku datang. Entahlah aku gugup sekali,jantungku bahkan berdebar-debar dan sepanjang perjalanan menuju rumah aku tak bisa menenangkan gejolak dalam dadaku. Ah,aku jadi malu dengan perasaanku sendiri,aku seperti gadis pingitan yang hendak bertemu dengan pujaan hati. Setelah turun dari motor aku mengucapkan terimakasih ke sepupuku yang telah menjemput. Aduh,aku semakin grogi untuk masuk,pintu depan rumah tertutup.
“Mamak kemana ya?”tanyaku dalam hati.
“Assalamualaikum…. Mamak,Ali. Asalamualaikum..”ku buka pintu dan masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumus salaam”sahut adikku.
Dia hanya tertawa melihatku lalu mencium telapak tanganku. Tak lama kemudian kulihat mamak keluar. Aduh mak bintang salah tingkah nih,bintang malu sama mamak. Kucium tangan mamak,lalu kupeluk erat tubuh kurus mamak.menyentuh tubuh kurus mamak,kurasakan jemariku bergetar. Teringat 15 tahun lalu saat aku berkelahi dengan adikku Fahrur,yang kala itu berumur 3 tahun. Kenakalan dan kemanjaan adikku ini membuatku iri,hingga kami bertengkar setiap kali bertemu dan hari itu aku mendorong tubuh adikku hingga terjatuh. Padahal saat itu kami tengah bertengkar diatas dipan yang tingginya 1 m.
Mamak marah kepadaku,mungkin mamak begitu kesal dan marah hingga beliau khilaf padaku,ia membenturkan kepalaku di tiang dinding rumah. Sejak saat itulah,aku sadar bahwa aku mulai membenci mamak. Bahkan kasih sayang dan perhatian beliau selalu sama pada anak-anaknya kuanggap hanya semu,saat aku sakit beliaulah yang menemaniku tapi aku selalu mengacuhkan hadirnya dengan sebelah mata,seolah aku tidak pernah butuh kasih sayang dan perhatian dari mamak. Aku ingat saat aku lulus SD dulu bapak menyuruhku masuk ke Tsanawiyah,tapi aku bersikukuh masuk SLTP dan yang mendukung keputusanku saat itu adalah mamak.
Aku ingat,saat aku sakit mamak selalu mengatakan bahwa aku adalah anaknya yang kuat,anaknya yang pintar dan anaknya yang akan menjadi wartawati terkenal nantinya (dulu aku bercita-cita jadi wartawati ternama). Aku tahu sekarang,mengapa mamak begitu “cerewet” terhadapku,jawabannya adalah karena mamak begitu menyayangi diriku melebihi yang aku tahu. Beliau memang tak pernah mengucapkan kata selamat secara langsung kepadaku saat aku meraih juara,tapi beliau selalu mengucapkan ”engkau adalah putri mamak yang cerdas,bagaimanapun orang menilaimu ingatlah bahwa kamu adalah yang terbaik,jadilah bintang yang selalu bersinar untuk mamak”,kata-kata itu selalu beliau ucapkan setiap kali aku mulai terlelap. Aku akui,bahkan bapakpun tidak pernah mengatakan hal itu baik saat aku terlelap atau saat aku terjaga. Mamak yang selalu memarahiku saat aku malas mengerjakan pekerjaan rumah dengan omelan khas mamak,”Bintang,akan jadi apapun engkau nanti jangan pernah meremehkan pekerjaan rumahmu”.
Tubuhku melemas,pelukanku terlepas. Aku bersujud dikaki mamak,tak mampu kutahan derasnya air mata yang mengalir. Kerongkonganku tercekat,rongga dadaku sesak.
“Mamak,ampuni kesalahan bintang selama ini. Maafkan bintang mak,bintang selalu memusuhi mamak. Bintang selama ini berdosa dengan mamak,mafkan bintang mak..” hanya kata-kata itu yang mampu kuucapkan berulang-ulang.
Kurasakan tangan mamak menyentuh pundakku,beliaupun menangis sembari memelukku erat. Tidak mampu kutatap mamak,aku malu dengan kesalahanku saat ini. Ya Allah,maafkan kesalahan bintang selama ini. Mamak,maafkan bintang. Bintang sayang sama mamak. Ya Allah,satukan hati bintang dengan mamak,jadikan bintang anak yang sholehah,jadikan bintang anak yang berbakti pada kedua orang tua bintang,terutama pada mamak. Mamak, I miss u mak,I lovely you mam!



*Special for Bintang-Bintang Fazaristy(Bintang-Bintang yang Bersinar Di Hati Ibunya)










Bismillahirrohmaanirrohim
Assalamualaikum wr,wb
Ba’da tahmid wa sholawat,izinkanlah saya untuk memperkenalkan diri. Saya adalah seorang wanita yang lahir pada tanggal 24 Mei 1991, diberi nama Umi Qonaah. Asalku dari sebuah desa transmigrasi di wilayah kecamatan Muara Kelingi,Musi Rawas. Saya selalu mentradekan namaku menjadi Syefa_ul Qalbi. Tidak ada maksud lain dari nama ini,selain dari ingin menjadi penyejuk hati untuk diri sendiri. Cathar yang Umi tulis ini adalah karya Umi yang ketiga yang dipublikasikan. Yang pertama Duri Dalam Daging(2005) dan yang kedua Jingga Di Malam Valentine(cerbung,2008). Keduanya Umi publikasikan hanya keteman-teman sekolah dan jug di Mading Sekolah. Saya bermimpi menjadi seorang yang berkecimpung dalam dunia artistik(seni maksud Umi),sayangnya Umi hanya mampu menulis sajak(atau mungkin syair) dan sedikit cerita.
Oh ya,Umi adalah anak ke 4 dari 7 bersaudara. Hingga detik ini Umi duduk di semester III program studi Agroekoteknologi,Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.Tulisan Umi tentunya masih jauh dari baik apalagi kesempurnaan,oleh karenanya Umi sangat butuh masukan dari teman-teman pembaca,silahkan menghubungi saya di 085285635544(tolong sertakan nama jika SMS),insya Allah kalau ada pulsa saya balas SMSnya(hehee..) atau kita juga bisa frend di FB, namanya Syiefa-ul Qalbi atau email umiqonaah@yahoo.co.id atau Syiefaulqalbi@gmail.com atau di http://www.umiqonaah.blogspot.com
Salam silaturahim selalu and Get your smile !!
Wassalamualaikum wr,wb.

“Syiefa_ul Qalbi”