Hawa panas merebak ke semua sudut ruangan, 3 buah kipas angin ternyata tak cukup untuk membuat suasana lebih sejuk, panitia sibuk membagikan snack kepada para peserta Dauroh¹. Seorang gadis berjilbab biru lebar sebatas pinggang, duduk di barisan kedua,ia khusyuk mendengarkan pembicara yang tengah menyampaikan “wejangannya”,ia gelisah lalu menoleh ke belakang. Dilihatnya dua orang gadis yang juga berjilbab lebar tengah asyik “berdiskusi”, gadis berjilbab biru kembali menatap pemateri.
Ia gelisah lagi,ditolehnya gadis berjilbab putih yang duduk di samping kanannya. Hanya senyuman manis disertai bahu yang di angkat dan helaan nafas yang diterimanya dari gadis berjilbab putih. Gadis berjilbab biru meraih pena dan menulis sesuatu di kertas bindernya yang berwarna biru. Ia tersenyum,dipandangi tulisannya,dilepaskannya dari japitan binder lalu di serahkan ke gadis berjilbab putih. Yang diberi menatap kertas itu lalu tersenyum,di serahkan kembali kertas itu ke gadis jilbab biru.
Setengah jam berlalu,si jilbab biru masih asyik mendengarkan materi-materi yang di uraikan meskipun raut mukanya menunjukkan kegelisahan. Sejurus kemudian di tatapnya lagi tulisan yang dibuatnya tadi,ia putar tubuhnya kebelakang dan menyerahkan kertas itu ke meja dua orang jilbaber yang tengah berdiskusi itu. Mereka tersenyum,gadis jilbab biru membalas senyumannya dan kembali ke posisi semula.
“Diantara kewajiban seorang muslim terhadap tetangganya yaitu, tetangganya berhak untuk mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dari gangguan lisannya² “ terdengar suara dari arah belakang gadis berjilbab biru.
“Ukh³,ini untuk kita berdua ya?” Tanya salah seorang dari kedua gadis itu.
“Siapa lagi? Eh,emang kita ngobrolnya keras ya? Perasaan nggak tuh” jawab gadis yang satu lagi.
“Iya kali ukh, nanti lagi deh ceritanya. Nggak enak ama tetangga kita,walaupun ceritanya lagi seru-serunya. Ukh,materi Ustadz ini tentang apa ya?” temannya menyahut.
“Nggak tahu ukh,,”
Mendengar itu,gadis berjilbab biru tersenyum.
“Alhamdulillah,mudah-mudahan mereka nggak khilaf lagi. Mahasuci Engkau Ya Robb,yang Maha lembut dan Maha Santun dalam segala sesuatu.” Bisik gadis berjilbab biru dalam hati, ditolehnya gadis berjilbab putih, mereka tersenyum.
Semua peserta dauroh menghembuskan nafas lega, tampak kegembiraan terpancar dari aura wajah setiap peserta menyambut saat break sholat dzuhur dan makan siang. Gadis berjilbab biru bergegas menuruni tangga menuju tempat wudhu. Antre, akhirnya gadis itu duduk di anak tangga. Tak lama, seseorang berjilbab coklat duduk di sampingnya. Keduanya bercakap-cakap,sesekali mereka tersenyum.
“Aini,coba liat deh ukh. Yang pake jilbab merah,liat deh ukh..”
“Dia kenapa ukh? Perasaan Aini lihat nggak ada yang salah darinya,,” jawab gadis berjilbab biru,yang tak lain adalah Aini.
“Pakaiannya itu loh ukh,coba lihat lagi deh. Kaos kaki warna-warni, rok hijau terang, baju wana biru, eeh..jilbabnya merah. Udah gitu,brossnya ukh,lihat tuh,bross kain motif bunga eeh warnanya kuning. Serasa pelangi aja ya ukh. Sepatunya warna apa ya ukh?”
“Idih,nggak boleh gitu dong ukh. Kali aja beliaunya lagi bersemangat hari ini,jadi semua paduannya itu menggambarkan semangatnya. Aini juga nggak match kok,coba lihat deh. Kaos kaki Aini coklat,rok hitam terus bajunya ini abu-abu,dan seperti yang ukhti lihat,jilbab warna biru sama bross warna putih pula. Kayak jemuran kan?”
“Hmm, kalau ukhti mah masih enak dilihat ukh. Masih ada padanannya,tapi dia kan beneran menyilaukan penglihatan ukh. Ya nggak sih?”
“Heehe,nggak juga ukh. Biasa aja, kali emang itu yang beliau punya hari ini. Udah ah,nggak baik ngomongin orang. Aini wudhu duluan ya ukh” Aini bergegas menuju tempat wudhu sambil menggelengkan kepalanya pelan-pelan.
***
Angkot kuning berdecit, Aini turun dari angkot diikuti kedua orang temannya. Angin sore hari berhembus, menggerakkan ujung-ujung jilbab mereka. Dari kejauhan tampak seorang wanita berkerudung coklat berjalan beriringan dengan seorang lelaki. Aini mengedarkan pandangannya ke lapak-lapak pinggir jalan yang menjajakan aneka buahan.
“Ukhti, lucu ya cewek itu..”
Aini dan gadis berkerudung putih saling berpandangan. Mereka menatap cewek yang ditunjukkan oleh teman mereka.
“ Emang kenapa Des?” Tanya gadis yang berkerudung putih.
“Itu loh Mbak Rahma, kerudungnya lucu banget. Nggak kasihan apa sama lehernya, jilbabnya di ikat sampai membelit leher. Liat tuh bajunya, itu mah cocok buat daleman kebaya. Aduuh, mana roknya model Cinderella pula. Kerudung warna coklat, kaosnya warna item, di masukin kedalam rok warna merah lagi. Aduuuuuh,niatnya sih boleh atuh mau gaya. Tapi kalau kayak gitu mah, malah nggak gaya banget kaliii” Dessy menjelaskan.
Rahma dan Aini kembali berpandangan,keduanya tersenyum geli.
“Aduuuh ukhti ku tersayaaaang, pLis dong ah! Ada nggak sih bahasan lain selain ngatain orang? Coba deh peratiin dirimu, sepatu warna biru di paduin sama kaos kaki merah. Udah gitu,rokmu warna hijau,bajumu warna kuning pudar. Lah jilbabmu ituuu,aduuuh gimana gitu. Setelah semua merusak penglihatan,kamu masih aja maksain pake jilbab warna coklat tua di hiasi bross kain panel warna biru. Hayooo,nyiksa banget nggak sih?” jawab Aini sambil tertawa.
***
Dauroh¹ : pelatihan / training
lisannya² : lidah / ucapan
Ukh³ : saudari(bhs arab)
*Syiefa_uL Qalbi*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar