Di tepi danau,seorang gadis duduk seorang diri. Pandangannya lurus menatap air danau yang tak lagi jernih, sampah-sampah plastik bekas minuman menghiasi tepian danau. Sesekali ia melirik sepasang muda-mudi yang tengah asyik memancing di danau sebelahnya, angin sore bertiup sepoi-sepoi menggerakkan dedaunan pohon yang mengelilingi danau. Kembali ia menatap danau,seekor burung gereja berjalan tak jauh dari tempatnya duduk,lalu terbang lagi meninggalkan gadis itu sendiri di atas hamparan rumput.
“Sewa kostan kita tinggal seminggu lagi, kalau masih ingin ngekost disini cepatlah cari teman sekamar Nis” Zahra menatap Nisa yang masih asyik membaca majalah usangnya.
“Oooh,seminggu lagi ya mbak? Nis belum tahu mau tetap di sini atau pindah”jawab Nisa sambil membalik halaman majalah.
“Oh, cepat putuskan Nis. Mbak kan udah nggak kost lagi”
Nisa hanya mendongak sebentar lalu melanjutkan bacaannya. Halaman demi halaman dilalui,tapi tak selembarpun yang benar-benar dibacanya. Raut wajahnya mengkerut,ia menghela nafasnya perlahan
“Mana mungkin aku punya uang untuk bayar kostan,emak tak mungkin mengirimiku lagi. Emak bilang kalau sekarang susah mengumpulkan lateks karet,paling tidak bulan depan emak baru bisa mengirimi aku uang. Weselku bulan ini kuterima dua minggu yang lalu,400 ribu untuk kebutuhanku selama satu bulan. Aku harus bagaimana?? Belum lagi SPP yang juga harus dibayar minggu depan, 2 juta itu bukan jumlah yang sedikit. Aku harus bagaimana??”
Wajah Nisa kembali mengkerut,diliriknya Zahra yang tengah mengemasi pakaiannya.
“Eeeh,mbak…..” akhirnya keluar juga kalimat dari mulut Nisa.
Zahra menoleh sambil terus memasukkan pakaiannya kedalam koper.
“Iya,Nis. Kenapa?”
“Aaah,nggak mbak. Nggak jadi deh.”
“Apa hayooo?? Udaah ah nggak usah malu,mau cerita ikhwan atau cowok atau teman,emakmu,ataaauu??”
“Nisa mau cerita kalau sebenernya Nisa lagi butuh uang mbk”bisik hati Nisa.
‘Heeehee,mbak ni ada - ada saja. Nisa Cuma belum siap aja di tinggal mbak pulang. Nisa masih butuh mbak”. Tangan nisa meraih pensil dan mulai mencoret – coret TTS di majalah yang tengah di pegangnya.
“Nisa,Nisa. Mbak juga sayang meninggalkan banyak hal yang belum tuntas di kampus. Mbak belum punya pengganti. Setelah mbak pikir-pikir Nisa aja deh yang jadi pengganti mbak,mau ya?” Zahra menatap Nisa yang melompong.
“Apa mbak??!! “ Nisa kaget , tangannya menggaruk jilbabnya yang tak gatal.
“Mbak salah orang deh,Nisa belum tahu apa-apa mbak. Nisaa…” dilipat kakinya hingga lututnya menyentuh dagu,Nisa termangu.
“Mbak percaya kok sama Nisa” Zahra menepuk pundak Nisa,meyakinkan keputusannya.
Angin semilir kembali berhembus,gadis itu berdiri,berjalan menyusuri tepian danau. Kembali ia melirik sepasang muda-mudi yang tengah memancing, dihela nafasnya dalam-dalam.
“Nis,mbak udah nggak sanggup lagi. Mbak capek,mbak mau cerai sama Mas mu.”
“Mbak,tapi bercerai itu nggak akan nyelesain masalah mbak.” Suara Nisa meninggi, tangannya mencoreti kertas dihadapannya.
“Mbak udah nggak tahan Nis,selama ini mbak udah sabar. Tapi Mas mu nggak bisa mengerti mbak,mbak beneran mau cerai”
Nisa menatap handphonenya,memastikan bahwa suara yang didengarnya adalah benar.
“Mbak, bukannya mbak dulu bilang kalau mbak cinta sama Mas Adi?”
“Iya Nis, kamu benar. Bahkan masih sampai hari ini, tapi mbak nggak punya solusi lain”
“Mbak, jadi setelah mbak 10 tahun menikah sama Mas Adi, mbak milih cerai, gitu?? Lalu, untuk apa mbak dulu berlama-lama pacaran sama mas Adi? Untuk apa Mbak? Bukannya Mbak sendiri yang bilang, mbak dan mas Adi saling cinta, sampai-sampai Nasihat bapak nggak mbak dengerin”
“Iya Nis, mbak tahu itu. Mas mu yang sekarang beda, dulu waktu kami masih pacaran ia nggak kayak itu Nis, dulu ia benar-benar laki-laki yang baik…”
Nisa diam, tangannya masih sibuk mencoreti kertas. Di remasnya kertas itu, dan… plungg, gulungan kertas itu masuk ke kotak sampah.
“Nis, tolong mbak Nis. Mbak percaya Nisa, bantu Mbak ya Nis. Mbak benar ingin cerai.”
Nisa menghela nafasnya,berat sekali udara yang dihembuskannya.
“Nisa bukan orang yang bisa membantu masalahnya mbak. Nisa bukan orang yang tepat mbak… Nisa nggak tahu apa-apa, mbak yang lebih tahu masalahnya mbak. Apalagi perceraian,Mbak kan tahu kalau Nisa benci sama yang namanya perpisahan.”
Gadis itu kembali termangu menatap air danau, hampir saja ia terperosok masuk ke danau seandainya tidak ada akar pohon yang menahannya. Ia bangkit hati-hati ,kemudian berjalan meninggalkan danau. Matanya lurus menatap sebuah tulisan yang di cat kuning. ”UNIVERSITAS SRIWIJAYA”, lama ditatapnya tulisan itu. Ia memutar tubuhnya, kembali duduk di tepi danau.
“Aku benciiiiii!!!!!!!!!!!!!! Kenapa semua orang egois? Tak bolehkah aku memilih?! Aku bosan mengerti orang lain, kapan orang akan mengerti aku?? Kapaaaaaaannnnn!!!! Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh!!!!”
Dilemparnya danau itu dengan kerikil, air danau menggeliat pelan.
“Aku benciiii! Aku benci!!!!! Aku benci diriku sendiri, aku benciiii!!!” gadis itu masih menjerit, sesekali suaranya melemah. Perlahan-lahan air matanya menetes, ia menangis sesenggukan. Dering handphonenya berbunyi, diraih tasnya yang tergeletak tak jauh dari tempatnya duduk. Sambil mengusap air matanya, ia membuka handphonenya. Sebuah pesan diterimanya.
Untaian Hkmh Kmis(24)
Alksh,seorg pngsha yg bngkrut dtg ke s’org kakek yg knon crtanya pny kaca ajaib,kalw sdh mLht smua msLh berez.si bngkrut td jg ingn ktmu kca ajaib it. Olh si kakek,di ajariilmu2 spy mampu mlihat kc ajaib it. Di ajri bisnis dr A – Z,etka hdp n kaidah tgn di atas.
Si bangkrut td mrs bhagia krn mslhny mlai trpCahkan. Akhirnya,diajakLh ia utk ktmuan dg kaca ajaib. Kkek mbr instruksi,”nak,appn yg u lht di kc itulah msLh n jwbnny.” Sibngkrut s7,kkek pun mbuka kca ajaibny,”Taraaa…! Inilah kaca ajaibku!kta si kkek.
Si bngkrut kaget,it mah kca biasa kyk di rmh gw. Lbh kget lg krn di kc hny da gmbr dia.
Ibroh: utk pa AlLah mciptkan pundak jk tdk ada beban utk di tnggung.. dan AlLah jg tw kpsitas pundk qt. Buka deh Al-bqoroh:286 n Ar-ra’du : 11.
Gmana?? Bner gx?
Gadis itu kembali meraih tasnya,dikeluarkannya benda mungil berwarna merah muda dari dalam tasnya. Perlahan ia buka. Pandangannya terhenti, dibacanya tulisan itu.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan ) yang di perbuatnya. (Mereka berdoa),”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami,janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak kami sanggup memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.”[1]
Gadis itu terdiam, lalu menangis lagi. Diciumnya benda mungil itu, ia terus menangis sesenggukan. Tiba-tiba ia diam, ia merasakan ada tangan yang menyentuh pundaknya. Ia menoleh, dilihatnya seorang lelaki berdiri di belakangnya.
“Udah sore mbak, apa mbak nggak mau pulang? Udah hampir maghrib loh, mbak nggak sholat?? Maaf,tadi saya lihatin mbak terus. Abis mbak aneh, teriak-teriak sendiri terus nangis pula. Kalau mau bunuh diri jangan di sini mbak,danau ini mah cetek, mbak terjun aja nggak bakal tenggelem kok. Saya duluan ya mbak, permisi. Oh ya,kalau mau nyebur sekarang aja Mbak.”
Gadis itu mengangguk, ia menyeka air matanya. Ia melirik danau di sebelahnya, sepi. Dikemas tasnya lalu ia bangkit, sekali lagi ia menatap air danau kemudian ia melangkah meninggalkan hamparan rumput yang sejak tadi menemaninya.
***
[1] : Q.S. Al-Baqoroh:286
*Syiefa_uL Qalbi*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar