LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM PESTISIDA DAN APLIKASINYA
Pestisida Berdasarkan Cara Kerjanya
OLEH
UMI QONAAH
05091007006
KELOMPOK III
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2011
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam proses budi daya pertanian tidak terlepas dari apa yang namanya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), kerugian akibat serangan hama bisa mencapai 37 %, penyakit 35 %, gulma 29 %, dan bahkan akibat yang di timbulkan oleh serangan hama tikus bisa menyebabkan gagal panen (puso). Pengendalian OPT bertujuan untuk mempertahankan produksi pertanian agar produksi tetap optimal, pengendalian hama adalah usaha –usaha manusia untuk menekan populasi hama sampai dibawah ambang batas yang merugikan secara ekonomi (serech,2006)
Pengendalian dapat dilakukan dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu memilih suatu cara atau menggabungkan beberapa cara pengendalian, sehingga tidak merugikan secara ekonomis, biologi dan ekologi. Dengan tingkat kesadaran yang tinggi tentang lingkungan yang sehat dan pertanian yang berkelanjutan diperlikan cara pengendalian yang tepat. Dalam menangani OPT (organisme pengganggu tanaman) petani dewasa ini sering menggunakan pestisida. Pestisida merupakan zat yang mampu membasmi OPT. (Suharno,2005)
Pestisida dalam hal ini merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan hama untuk menurunkan populasi hama yang sedang menyerang tanaman. Menurut UU RI No. 12/1992 : Pestisida adalah zat atau senyawa kimia, zat pengatur, dan perangsang tumbuh, bahan lain serta organisme renik atau virus yang digunakan untuk melakukan perlindungan tanaman. Kelompok utama pestisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga hama diberi nama masing-masing sesuai dengan hama sasarannya dan juga cara kerjanya. Dengan demikian penggolongan pestisida berdasarkan jasad sasaran dibagi menjadi :
a. Insektisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa serangga. Contoh : Bassa 50 EC Kiltop 50 EC dan lain-lain.
b. Nematisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa cacing-cacing parasit yang biasa menyerang akar tanaman. Contoh : Furadan 3 G.
c. Rodentisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas binatang-binatang mengerat, seperti misalnya tupai, tikus. Contoh : Klerat RM, Racumin, Caumatatralyl, Bromodoiline dan lain-lain.
d. Herbisida : adalah pestisida yang digunakan untuk mengendalikan gulam (tanaman pengganggu). Contoh : Ronstar ODS 5/5 Saturn D.
e. Fungisida : digunakan untuk memberantas jasad yang berupa cendawan (jamur). Contoh : Rabcide 50 WP, Kasumin 20 AB, Fujiwan 400 EC, Daconil 75 WP, Dalsene MX 2000.
f. Akarisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan jasad pengganggu yang berupa tunggau. Contoh : Mitac 200 EC, Petracrex 300 EC.
g. Bakterisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan penykit tanaman yang disebabkan oleh bakteri. Contoh : Ffenazin-5-oksida (Staplex 10 WP).
Insektisida dapat pula dibagi menurut jenis aktivitasnya. Kebanyakan insektisida bersifat racun bilamana bersentuhan langsung atau tertelan serangga. Namun ada pula jenis lain yang bersifat sebagai repelen (jenis ini digunakan untuk mencegah serangga yang akan menyerang tanaman), atraktan (bahan yang dapat menarik serangga, dengan demikian serangga yang terkumpul akan lebih mudah terbunuh), anti feedan (senyawa ini dapat menghindarkan dari serangan suatu serangga) dan khemosterilan (yang dapat menyebabkan kemandulan bagi serangga yang terkena) (Anonim,2011).
B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui penggunaan pestisida berdasarkan cara kerjanya.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Kelompok utama pestisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga hama dengan tunggau adalah insektisida, akarisida dan fumigan, sedang jenis pestisida yang lain diberi nama masing-masing sesuai dengan hama sasarannya. Dengan demikian penggolongan pestisida berdasar jasad sasaran dibagi menjadi :
a. Insektisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa serangga. Contoh : Bassa 50 EC Kiltop 50 EC dan lain-lain.
b. Nematisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa cacing-cacing parasit yang biasa menyerang akar tanaman. Contoh : Furadan 3 G.
c. Rodentisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas binatang-binatang mengerat, seperti misalnya tupai, tikus. Contoh : Klerat RM, Racumin, Caumatatralyl, Bromodoiline dan lain-lain.
d. Herbisida : adalah pestisida yang digunakan untuk mengendalikan gulam (tanaman pengganggu). Contoh : Ronstar ODS 5/5 Saturn D.
e. Fungisida : digunakan untuk memberantas jasad yang berupa cendawan (jamur). Contoh : Rabcide 50 WP, Kasumin 20 AB, Fujiwan 400 EC, Daconil 75 WP, Dalsene MX 2000.
f. Akarisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan jasad pengganggu yang berupa tunggau. Contoh : Mitac 200 EC, Petracrex 300 EC.
g. Bakterisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan penykit tanaman yang disebabkan oleh bakteri. Contoh : Ffenazin-5-oksida (Staplex 10 WP).
Insektisida dapat pula dibagi menurut jenis aktivitasnya. Kebanyakan insektisida bersifat racun bilamana bersentuhan langsung atau tertelan serangga. Namun ada pula jenis lain yang bersifat sebagai repelen (jenis ini digunakan untuk mencegah serangga yang akan menyerang tanaman), atraktan (bahan yang dapat menarik serangga, dengan demikian serangga yang terkumpul akan lebih mudah terbunuh), anti feedan (senyawa ini dapat menghindarkan dari serangan suatu serangga) dan khemosterilan (yang dapat menyebabkan kemandulan bagi serangga yang terkena).
Menurut sifat kecepatan meracun, pestisida digolongkan menjadi :
1. Racun kronis : yaitu racun yang bekerjanya sangat lambat sehingga untuk mematikan hama membutuhkan waktu yang sangat lama. Contoh : racun tikus Klerat RMB.
2. Racun akut : adalah racun yang bekerjanya sangat cepat sehingga kematian serangga dapat segera diketahui setelah racun tersebut mengenai tubuhnya. Contoh : Bassa 50 EC, Kiltop 50 EC, Baycarb 50 EC dan lain-lain.
Ditinjau dari cara bekerjanya, pestisida dibagi menjadi :
1. Racun perut
Racun ini terutama digunakan untuk mengendalikan serangga yang mempunyai tipe alat mulut pengunyah (ulat,belalang dan kumbang), namun bahan ini dapat pula digunakan terhadap hama yang menyerang tanaman dengan cara mengisap dan menjilat. Bahan insektisida ini disemprotkan pada bagian yang dimakan serangga sehingga racun tersebut akan tertelan masuk ke dalam usus, dan di sinilah terjadi peracunan dalam jumlah besar.
Ada 4 cara aplikasi racun perut terhadap serangga :
a. Insektisida diaplikasikan pada makanan alami serangga sehingga bahan tersebut termakan oleh serangga sasaran. Bahan makanan itu dapat berupa daun, bulu-bulu/rambut binatang. Dalam aplikasinya, bahan-bahan makanan serangga harus tertutup rata oleh racun pada dosis lethal sehingga hama yang makan dapat mati.
b. Insektisida dicampur dengan bahan atraktan dan umpan itu ditempatkan pada suatu lokasi yang mudah ditemukan serangga.
c. Insektisida ditaburkan sepanjang jalan yang bisa dilalui hama. Selagi hama itu lewat biasanya antene dan kaki akan bersentuhan dengan insektisida atau bahkan insektisida itu tertelan. Akibatnya hama mati.
d. Insektisida diformulasikan dalam bentuk sistemik, dan racun ini diserap oleh tanaman atau tubuh binatang piaraan kemudian tersebar ke seluruh bagian tanaman atau badan sehingga apabila serngga hama tersebut mengisap cairan tanaman atau cairan dari tubuh binatang (terutama hama yang mempunyai tipe mulut pengisap, misal Aphis) dan bila dosis yang diserap mencapai dosis lethal maka serangga akan mati.
2. Racun kontak
Insektisida ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui permukaan tubuhnya khususnya bagian kutikula yang tipis, misal pada bagian daerah perhubungan antara segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari lempengan tubuh, pada bagian pangkal rambut dan pada saluran pernafasan (spirakulum). Racun kontak itu dapat diaplikasikan langsung tertuju pada jasad sasaran atau pada permukaan tanaman atau pada tempat-tempat tertentu yang biasa dikunjungi serangga. Racun kontak mungkin diformulasikan sebagai cairan semprot atau sebagai serbuk. Racun kontak yang telah melekat pada serangga akan segera masuk ke dalam tubuh dan disinilah mulai terjadi peracunan.
Yang digolongkan sebagai insektisida kontak adalah :
a. Bahan kimia yang berasal dari kestrak tanamaan, seperti misalnya nikotin, rotenon, pirethrum.
b. Senyawa sintesis organik, misal BHC, DDT, Chlordan, Toxaphene, Phosphat organik.
c. Minyak dan sabun.
d. Senyawa anorganik seperti misalnya Sulfur dan Sulfur kapur.
3. Racun pernafasan
Bahan insektisida ini biasanya bersifat mudah menguap sehingga masuk ke dalam tubuh serangga dalam bentuk gas. Bagian tubuh yang dilalui adalah organ-organ pernafasan seperti misalnya spirakulum. Oleh karena bahan tersebut mudah menguap maka insektisida ini juga berbahaya bagi manusia dan binatang piaraan. Racun pernafasan bekerja dengan cara menghalangi terjadinya respirasi tingkat selulair dalam tubuh serangga dan bahan ini sering dapat menyebabkan tidak aktifnya enzim-enzim tertentu. Contoh racun nafas adalah : Hidrogen cyanida dan Carbon monoksida.
4. Racun Syaraf
Insektisida ini bekerja dengan cara menghalangi terjadinya transfer asetikholin estrase yang mempunyai peranan penting dalam penyampaian impul. Racun syaraf yang biasa digunakan sebagai insektisida adalah senyawa organo klorin, lindan, carbontetraclorida, ethylene diclorida : insektisida-insektisida botanis asli seperti misalnya pirethin, nikotin, senyawa organofosfat (parathion dan dimethoat) dan senyawa karbanat (methomil, aldicarb dan carbaryl).
5. Racun Protoplasmik
Racun ini bekerja terutama dengan cara merusak protein dalam sel serangga. Kerja racun ini sering terjadi di dalam usus tengah pada saluran pencernaan.Golongan insektisida yang termasuk jenis ini adalah fluorida, senyawa arsen, borat, asam mineral dan asam lemak, nitrofenol, nitrocresol, dan logam-logam berat (air raksa dan tembaga).
6. Racun penghambat khitin
Racun ini bekerja dengan cara menghambat terbentuknya khitin. Insektisida yang termasuk jenis ini biasanya bekerja secara spesifik, artinya senyawa ini mempunyai daya racun hanya terhadap jenis serangga tertentu. Contoh : Applaud 10 WP terhadap wereng coklat.
8. Racun sistemik
Insektisida ini bekerja bilamana telah terserap tanaman melalui akar, batang maupun daun, kemudian bahan-bahan aktifnya ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman sehingga bilamana serangga mengisap cairan atau memakan bagian tersebut akan teracun. Pestisida adalah merupakan racun, baik bagi hama maupun tanaman yang disemprot. Mempunyai efek sebagai racun tanaman apabila jumlah yang disemprotkan tidak sesuai dengan aturan dan berlebihan (overdosis), karena keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya kebakarn tanaman. Untuk memperoleh hasil pengendalian yang memadai namun pertumbuhan tanaman tidak terganggu, pemakaian pestisida hendaknya memperhatikan kesesuaiannya, baik tepat jenis, tepat waktu maupun tepat ukuran (dosis dan konsentrasi).
Dosis adalah banyaknya pestisida yang digunakan untuk mengendalikan hama secara memadai pada lahan seluas 1 ha. Konsentrasi adalah banyaknya pestisida yang dilarutkan dalam satu liter air. Hama adalah hewan yang merusak tanaman (akar, batang, daun, bunga dan buah) sehingga akibat kerusakan tersebut menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik sehingga hasilnya rendah. Penyakit adalah berupa jamur/bakteri/virus/nematoda yang merusak tanaman (akar, batang, daun, bunga dan buah) sehingga akibat kerusakan tersebut menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik, sehingga hasilnya rendah. Beda antara hama dengan penyakit adalah tampak serangan oleh hama menyebabkan kerusakan kehilangan sebagian dari bagian tanaman sedangkan gejala penyakit adalah sistemik sehingga fungsi fisiologi tanaman menjadi terganggu biasanya ditunjukkan adanya perubahan bentuk dan/atau warna tanaman. Hama dan penyakit perlu diberantas/dikendalikan agar tidak merugikan tanaman secara ekonomis.
A. Sistematika Belalang
Kingdom : Animalia
Divisio : Atrhropoda
Class : Insecta
Ordo : Orthoptera
Family : Accrididae
Genus : Valanga
Spesies : Valangan nigricornis
B. Morfologi Belalang
Pada belalang kayu (Valanga nigricornis) alat-alat tambahan lain pada caput antara lain : dua buah (sepasang) mata facet, sepasang antene, serta tiga buah mata sederhana (occeli). Dua pasang sayap serta tiga pasang kaki terdapat pada thorax. Pada segmen (ruas) pertama abdomen terdapat suatu membran alat pendengar yang disebut tympanum. Spiralukum yang merupakan alat pernafasan luar terdapat pada tiap-tiap segmen abdomen maupun thorax. Anus dan alat genetalia luar dijumpai pada ujung abdomen (segmen terakhir abdomen). Ada mulutnya bertipe penggigit dan penguyah yang memiliki bagian-bagian labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus labialisnya (Jumar, 2000).
a. Gejala serangan
Daun yang dinamakan terlihat dicabik-cabik tidak teratur. Gejala serangan yang berat, tinggal hanya tulang dan daun saja.
b. Pengendalian Secara mekanis
Telur belalang didalam tanah diambil, demikian juga nimfa yang ada diberikan kepada ayam.erlihat dicabik-cabik tidak teratur. Gejala serangan yang berat, tinggal hanya tulang dan daun saja.
c. Secara kimiawi
Pengendalian scara kimiawi dapat dilakukan dengan menyemprotkan phosdrin, diazinon, basudin, dan insektisida lainnya
d. Secara biologis
Pengendalian secara biologis dilakukan dengan merawat kumbang endol yang lawanya sebagai parasite telur belalang.
e. Kultur teknis
Pengendalian dengan kultur teknis adalah dengan pengaturan pada penanganan.
C. Pestisida Yang Digunakan
Belalang menyerang tanaman muda dengan cara memakan kulit yang masih hijau dan daun yang masih lunak pada payung atas mulai dari pinggir hingga menuju ke tengah-tengah terutama pada musim kering. Pemberantasan belalang dilakukan dengan penyemprotan insektisida jenis Dicrotaphos (Bidrin 24% EC) atau Methomyl (Lannate 90% WP) di kebun yang terserang.
III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Tempat dan waktu pelaksanaan praktikum
Praktikum yang berjudul pestisida berdasarkan cara kerjanya dilaksanakan pada hari kamis,24 maret 2011 di laboratorium insektarium,jurusan hama dan penyakit tumbuhan,Universitas Sriwijaya.
B. Alat dan bahan
Adapun alat yang digunakan yaitu: 1) gelas aqua bekas, 2) wadah plastik sebagai tempat percobaan, 3) handsprayer, dan 4) stopwatch Hp. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu: 1) daun bayam 3 helai, 2) insektisida racun lambung, 3) air, dan 4) 3 ekor belalang kayu.
C. Cara kerja
Adapun cara kerjanya yaitu sebagai berikut: 1) campurkan sedikit insektisida dengan air,lalu masukkan kedalam handsprayer, 2) semprotkan larutan tersebut kedalam gelas aqua hingga mencapai setengah dari ukuran gelas aqua kemudian masukkan 3 helai daun bayam dan rendam selama 3 menit, 4) ambil daun bayam tersebut lalu pindahkan ke wadah plastik kemudian masukkan pula kedalamnya 3 ekor belalang, 5) tutup wadah plastik dan amati respon dari kerja insektisida tersebut dengan mencatat waktunya dengan stopwatch.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berikut ini tabel hasil pengamatan
Hama Jumlah hama Waktu mati Jumlah hama yang mati
Belalang kayu
( Valanga nigricornis) 3 ekor 0:47:07
0:56:31 2 ekor
1 ekor
Pestisida yang digunakan adalah jenis insektisida (Fastec 15 EC) dengan bahan aktif alfametrin 15 g/l.
B. Pembahasan
Dalam percobaan ini diasumsikan hama yang menyerang tanaman bayam adalah belalang,dan dilakukan pengendalian dengan menggunakan insektisida dengan nama dagang Fastac 15 EC. Fastac 15 EC yang digunakan adalah jenis insektisida yang bekerja sebagai racun perut dan juga racun kontak.
1. Racun perut
Racun ini terutama digunakan untuk mengendalikan serangga yang mempunyai tipe alat mulut pengunyah (ulat,belalang dan kumbang), namun bahan ini dapat pula digunakan terhadap hama yang menyerang tanaman dengan cara mengisap dan menjilat. Bahan insektisida ini disemprotkan pada bagian yang dimakan serangga sehingga racun tersebut akan tertelan masuk ke dalam usus, dan di sinilah terjadi peracunan dalam jumlah besar.
Ada 4 cara aplikasi racun perut terhadap serangga :
a. Insektisida diaplikasikan pada makanan alami serangga sehingga bahan tersebut termakan oleh serangga sasaran. Bahan makanan itu dapat berupa daun, bulu-bulu/rambut binatang. Dalam aplikasinya, bahan-bahan makanan serangga harus tertutup rata oleh racun pada dosis lethal sehingga hama yang makan dapat mati.
b. Insektisida dicampur dengan bahan atraktan dan umpan itu ditempatkan pada suatu lokasi yang mudah ditemukan serangga.
c. Insektisida ditaburkan sepanjang jalan yang bisa dilalui hama. Selagi hama itu lewat biasanya antene dan kaki akan bersentuhan dengan insektisida atau bahkan insektisida itu tertelan. Akibatnya hama mati.
d. Insektisida diformulasikan dalam bentuk sistemik, dan racun ini diserap oleh tanaman atau tubuh binatang piaraan kemudian tersebar ke seluruh bagian tanaman atau badan sehingga apabila serngga hama tersebut mengisap cairan tanaman atau cairan dari tubuh binatang (terutama hama yang mempunyai tipe mulut pengisap, misal Aphis) dan bila dosis yang diserap mencapai dosis lethal maka serangga akan mati.
2. Racun kontak
Insektisida ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui permukaan tubuhnya khususnya bagian kutikula yang tipis, misal pada bagian daerah perhubungan antara segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari lempengan tubuh, pada bagian pangkal rambut dan pada saluran pernafasan (spirakulum). Racun kontak itu dapat diaplikasikan langsung tertuju pada jasad sasaran atau pada permukaan tanaman atau pada tempat-tempat tertentu yang biasa dikunjungi serangga. Racun kontak mungkin diformulasikan sebagai cairan semprot atau sebagai serbuk. Racun kontak yang telah melekat pada serangga akan segera masuk ke dalam tubuh dan disinilah mulai terjadi peracunan.
Dari hasil pengamatan,dapat praktikan bahwa yang memberikan andil lebih besar dalam mematikan belalang tersebut adalah sifat fastac sebagai racun kontak. Hal ini praktikan ketahui dari tingkah laku belalang tersebut. Belalang yang dijadikan hama percobaan sama sekali tidak memakan daun bayam,hanya bersentuhan saja dengan daun bayam. Alat pernafasan belalang,trakea yang terletak di abdomen belalang juga turut andil mempercepat proses kerja insektisida tersebut. Gejala awal keracunannya yang terlihat yaitu hiperaktif, kemudian gemetar dan kejang yang selanjutnya diakhiri dengan kematian belalang tersebut.
Formulasi fastac adalah EC (Emulsifiable Cocentrate atau Emulsible Cocentrate). Formulasi pestisida yg berbentuk pekatan (konsentrat) cair dengan konsentrasi bahan aktif yang cukup tinggi. Kosentrasi ini jika dicampur dengan air akan membentuk emulsi (butiran benda cair yang melayang dalam media cair lain). EC umumnya digunakan dengan cara disemprot, meskipun dapat pula digunakan dengan cara lain.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu:
1. dalam percobaan ini diasumsikan hama yang menyerang tanaman bayam adalah belalang,dan dilakukan pengendalian dengan menggunakan insektisida dengan nama dagang Fastac 15 EC.
2. Fastac 15 EC yang digunakan adalah jenis insektisida yang bekerja sebagai racun perut dan juga racun kontak.
3. Racun perut digunakan terhadap hama yang menyerang tanaman dengan cara mengisap dan menjilatyang apabila disemprotkan pada bagian yang dimakan serangga sehingga racun tersebut akan tertelan masuk ke dalam usus serangga tersebut akan terjadi peracunan dalam jumlah besar.
4. Racun kontak akan masuk ke dalam tubuh serangga melalui permukaan tubuhnya khususnya bagian kutikula yang tipis, misal pada bagian daerah perhubungan antara segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari lempengan tubuh, pada bagian pangkal rambut dan pada saluran pernafasan (spirakulum) yang meracuni setelah terjadi kontak dengan serangga sasaran.
5. Formulasi fastac adalah EC (Emulsifiable Cocentrate atau Emulsible Cocentrate).
B. Saran
Saran yang dapat diberikan yaitu agar tanaman yang diberikan sesuai dengan apa yang dimakan oleh serangga tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Aksi Agraris Kanisius 1998. Budidaya Tanaman. Yogyakarta: Kanisius
Anonimous,2011. Pengendalian hama dan penyakit. (Online) http://pekaspku.blogspot.com (diakses Rabu,30 Maret 2011)
Anonimous,2011.(Online). Serangga atau insect. http://findoutwhat.wordpress.com (diakses Rabu, 30 Maret 2011)
Anonimous. 1994. Pengendalian Hama Bubuk pada Buah Kopi. Dalam Kumpulan Kliping Kopi. Trubus. Jakarta.
Anonimous. 1994. Pengendalian Hama Tanaman Kopi. Dalam Kumpulan Kliping Kopi. Trubus. Jakarta.
Serech, 2006. Majalah Kampus Cultivar Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Yogyakarta , Yogyakarta
Suharno, 2005. Perlindungan Tanaman. Diktat STPP, jurluhtan, yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar