Rabu, 15 Februari 2012
Senin, 06 Februari 2012
Digeus Registry Cleaner speeds up your computer by cleaning errors in your Windows. It removes the junk that accumulates in your Windows Registry, fixes Windows errors which results in speeding up your computer. With Digeus Registry Cleaner you just need a few mouse clicks and your computer will become as good as a brand new one.
http://www.digeus.com/products/regcleaner/registry-cleaner.htmlhttp://www.digeus.com/products/regcleaner/images/registrycleaner01.jpg
http://www.digeus.com/products/regcleaner/registry-cleaner.htmlhttp://www.digeus.com/products/regcleaner/images/registrycleaner01.jpg
Selasa, 31 Januari 2012
DIARY HATI BINTANG
24 Mei 2010 Hari ini ulang tahunku yang ke-19 tahun. Aku bahkan hampir lupa,seandainya wall facebook ku tidak penuh oleh ucapan selamat ulang tahun. Aku telah menjadi mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri di provinsiku melalui jalur PMDK. Akhirnya mamak mengizinkan aku untuk kuliah meskipun kuakui aku harus berdebat panjang dengan mamak dan membatalkan beasiswa kuliah di Institut Teknologi di puau jawa serta beasiswa DIII computer El-Rahma di ibukota provinsi.
Angin pagi di belakang kostan membelai lembut,kumbang-kumbang telah menari di atas bunga rambutan.suasana ini mengingatkanku akan kampung halamanku yang telah 1 tahun kutinggalkan,membuatku semakin rindu akan kampungku. Ujung jilbabku tertiup angin,kurapikan lagi.
Aku banyak belajar disini,Alhamdulillah sholatku sudah rutin 5 waktu. Kalau dulu,maghrib adalah sholat idolaku maka saat ini kalau tidak sholat sunnah rawwatib barang satu kalipun aku seperti orang linglung,padahal SMA dulu ketika ada pesantren kilat atau karena ajakan guru agamaku saja aku sholat dhuha. Disini aku bahkan tak punya saudara,tidak ada bapak atau mamak sekalipun.
Dulu,aku bahkan enggan menyentuh al-quran. Sekarang ia bahkan melebihi sahabatku, menjadi tempat aku berbagi rasa. Bapak,mamak,terimakasih telah memaksaku berjilbab saat itu. Kini aku benar-benar telah mencintai jilbabku. Aku bahkan tak peduli,apakah ada bapak atau ada siapapun itu karena jilbab ini adalah cintaku. Aku malu mengenang masa dulu,saat jilbab hanya kujadikan sebagai topeng kemunafikan dan keburukan pribadiku sehari-hari.
Kubasuh muka penuh semangat,kicauan burung gereja di sekitar kostan semakin mengharukan suasana hati ini. Tengadah kedua tangan membaca doa selepas wudhu.
“Ya allah,sampaikan kerinduan dan tangisan cinta ini kepada mamakku. Tolong jaga mamak ya Allah,bintang takut maaf ini tak bermuara dalam cinta dan keridhoan mamak seperti yang Engkau perintahkan. Ampuni kesalahan dan dosa-dosa bintang ya Allah,ampuni kesalahan bintang.”
Tak terasa butiran hangat mengalir di ujung kelopak mataku,meluluh lantakkan kekerasan hatiku selama ini. Ku tatap langit,aduhai indah nian… semburat jingga di ufuk timur,pertanda mentari akan segera menyambutku pagi ini. Aku harus bersiap-siap untuk berangkat ke kampus hijauku.
****
24 mei 2008 Fajar yang cerah berhias tetesan embun yang basah serta udara yang bersih menyemarakkan suasana shubuh pagi ini,suasana pagi yang indah. Aku bersiul-siul di sumur,menimba air untuk wudhu sambil melamun. Ah,hari ini adalah ulang tahunku yang sangat aku nanti-nantikan,ulang tahun ke-17 githu loh! Sweet seventeen,yang kata orang-orang di salah satu majalah favoritku penuh dengan sejuta warna,mulai dari cinta pertama(atau pacar pertama,hee). Masa-masa yang penuh cinta yang sarat hal-hal romantis lainnya serta saat dimana kita boleh mencicipi hal-hal baru sesuka kita.
“Bintang,kamu mau subuhan apa mau ngelamun?” tegur bapak,mungkin beliau melihatku yang sedang tersenyum-senyum sendiri,hanyut dengan khayalan indahku.
“iya pak,mau sholat laah. Masa’ ngelamun bentar nggak boleh sih? Bintang udah gede pak.” jawabku. Bintang hari ini sudah 17 tahun pak,batinku.
“ cepetan sholat,setengah jam cuma di sumur aja,kapan sholatnya??”
“iya pak,iya..” aku buru-buru wudhu sambil merengut,sambutan pagi di hari ulang tahunku yang kurang mengenakkan,gerutuku dalam hati.
Usai sholat subuh langsung mandi pagi,siap-siap berangkat ke sekolah. Seperti biasanya,aku selalu duduk di beranda rumah sambil membersihkan sepeda butut kesayanganku. Aku makin bersemangat,apalagi menatap mega-mega yang mulai memerah di ufuk timur.
“Bintang,kamu itu sudah besar nak,,harus sudah bisa mengatur diri sendiri,sudah besar itu yaa mesti rajin sholat nak,gak malu apa sama jilbabmu itu. Masa muslimah yang pake jilbab sholatnya cuma maghrib saja,isya lewat. Subuh juga,kalau di banguni susah,di sumur satu jam cuma buat ngelamun,dhuhur entah kemana,ashar juga ditinggalkan. Kita itu punya kewajiban nak,sholat itu ada lima waktu. Bukan Cuma maghrib saja,lhaa yang empat kamu kemanain? Sudah besar mbok yaa lebih rajin ngaji,apa ngaji itu cukup pas kecil saja? Ya ndak tho? Apa kamu nggak malu sama teman-temanmu,sama guru-gurumu,kalau mereka tahu kebiasaanmu yang suka kekanak-kanakan? Apa nggak malu sama Allah nak?? Kurang apalagi yang Allah beri? Kamu bisa juara umum terus,dapat beasiswa terus,kurang apa nak?? Mbok ya berubah tho?” ceramah bapak.
“Di kostan juga, sholatnya yang rajin. Nggak ada yang ngingetin sholat kalau di kostan,jadi harus tau kewajiban. Jaga diri baik-baik, kebiasaan jelek dirumah nggak usah ditampilkan kalau di tempat orang.”lanjut bapak.
Mendengar ceramah bapak aku hanya pura-pura mendengarkannya,ceramah yang sama setiap pagi,setiap minggunya kalau aku pulang kerumah. Kelas XI SMA ini aku memilih kost di kecamatan,supaya ngak terlalu jauh kesekolah. Mungkin lebih dari seratus kali bapak menceramahiku dengan kalimat yang sama,monoton dan membosankan untuk didengar. Kurapikan jilbabku lalu mengeluarkan sepeda,pamitan pada bapak dan berangkat ke sekolah.
Sepanjang jalan tak henti-hentinya aku tersenyum,membayangkan indahnya masa-masa remajaku.” Happy birthday to me,happy birthday happy birthday,happy birthday….to me” kunyanyikan lagu itu dalam hati,ah indahnya.
“bapak,siapa juga yang nyuruh bintang pakai jilbab coba?? Inikan maunya bapak. Bintang sudah bilang pak,bintang belum mau pakai jilbab. Bintang masih pengen bebas pak. Lagian sholatkan panggilan hati,kalau bintang mau sholat ya sholat. Kalau ndak mau sholat ya ndak apa-apa sih pak. Bintang sudah gede,sudah 17 tahun. Bintang berhak atas keputusan dan hidup bintang” protesku dalam hati.
Sesungguhnya aku begitu menghormati bapak,meskipun ceramah-ceramah bapak itu terasa berisik tapi aku tetap tidak bisa membantah bapak secara langsung. Sholat maghribku juga dalam rangka nyenengin bapak,setidaknya aku masih sholat walaupun dengan melawan rasa malas yang luar biasa. Aku pakai jilbabpun untuk menyenangkan hati bapak,setidaknya keinginan beliau supaya anak perempuannya ada yang pakai jilbab kesampaian. Masa iya sih guru ngaji yang terkenal di kampungku anaknya gak pakai jilbab. Gini-gini aku sayang bapak,suka-suka aku dong bagaimana mengekpresikannya.
“Bintaaang,selamat ulang tahun yaaa,ehm,, yang udah dewasa nie yee. Cieela,selamat yaa..” bertubi-tubi teman-teman satu kelasku mengucapkan selamat ulang tahun. Semua sepertinya turut merasakan kebahagiaanku,ah..benar-benar sambutan yang indah pikirku.
“Aduh,apaan sih kalian ini? Biasa aja lagi,nggak ada yang istimewa kok. Makasih untuk ucapannya.” Aku masih jaim,jaga imut gitu loh!
“Kayaknya ada yang beda hari ini,ada apa ya? Kok saya merasa sedari pagi tadi kelas ini ribut sekali? Ada apa?” Tanya Pak Raihan,wali kelas kami XI IPA 1. Beliau mendapati kelas kami yang gaduh karena ternyata teman-teman telah menyiapkan kejutan buatku.
“Bintang ulang tahun hari ini, pak.”jawab Ardi,salah satu temanku.
“Oh,barakallah ya bintang,selamat milad ya.. jadilah bintang yang selalu taat pada Allah.” Kata guruku kemudian.
“Terima kasih pak untuk ucapannya. Terima kasih atas do’a bapak”balasku kemudian.
Aduuuh jadi malu,wali kelasku ini emang perhatian,alim, dekat dengan anak didiknya dan selalu menanamkan nilai-nilai islami setiap berada di kelas. Rasanya hari ini benar-benar milikku. Ternyata benar,sweet seventeen itu memang saat-saat yang indah seperti kata majalah kesayanganku. Kecuali keluargaku,mereka sepertinya kurang peduli dengan hari lahir.
5 juni 2008 Aku dijemput pulang oleh sepupuku,padahal hari ini aku baru saja menyelesaikan satu ujian praktek. Aku mengemasi bukuku lalu pamit ke guru yang mengawasi ujian praktek dan juga kepada teman-temanku.
“Bintang mau pulang ya? Hati-hati ya bintang” johan menyapaku diluar kelas. Temanku satu ini emang badung,ujian praktek belum selesai dia malah duduk di depan kelas.
“Heehe, ya iyalah Jo. Makasih.”aku tersenyum padanya,aneh dia nggak biasanya sok perhatian gitu sama aku. Tapi dia kan memang perhatian sama aku, dulu waktu kelas X.
Aku masuk ke ruang guru,semua tiba-tiba saja berdiri menyambutku. Mereka seperti menatap tidak percaya kepadaku, ah aku jadi risih. Aneh ah,nggak biasanya mereka seperti itu.
“permisi pak,permisi bu.” kataku,canggung mereka menatapku seperti itu.
“Oh ya,mau pulang ya? Hati-hati ya nak” jawab pak Amar,guru matematika kami
.
“Iya pak,terima kasih”jawabku sambil tersenyum.
Mereka kenapa sih? Ada apa sih? berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hati. Belum habis rasa heranku,eh pas di ruang tunggu aku bertemu dengan seorang guru baru,bapaknya masih muda serta ganteng pula.
“Bintang, ya?”sapa beliau kemudian.
“Iya pak,saya bintang. Permisi pak ,saya di jemput sepupu untuk pulang.”jawabku.
“Oh ya nak,Silakan. Hati-hati nak.”pesan beliau.
Aku hanya tersenyum,sudah berapa orang yang kutemui tapi semua mengucapkan pesan serta tatapan yang sama. Mereka kenapa sih?tanyaku tak henti-henti. Aku menemui sepupuku yang telah menungguku dari tadi di ruang tunggu.
“memangnya ada apa fi? Kok aku tiba-tiba disuruh pulang?”tanyaku pada Fia,sepupuku.
“Bapak mu bintang yang nyuruh jemput kok,kata uwak penting.”jawabnya.
"Ada apa ya? Apa mamak sakit? Mamak meninggal? Ataukah kakak iparnya Ayuk Nur yang katanya sakit itu meninggal?" Tanyaku dalam hati.
Kami berdua naik motor,sepanjang jalan aku diajak ngobrol sama Fia,hingga aku lupa dengan pertanyaan-pertanyaan dihatiku. Banyak hal-hal lucu yang kami temui dijalan dan kami tertawa-tawa dengan riang. Saat aku melihat ayah Fia lewat mengenakan peci dan baju koko, mengendarai motor dan terlihat buru-buru sekali, aku kembali menanyakan kepada sepupuku.
“Mamang mau kemana Fi? Tumben pakai baju koko.”tanyaku.
“Bapak katanya ada urusan tadi, biasa masalah penjualan getah karet sama toke-toke karet. Katanya sih mau ke Linggau, mau jual ke gudang langsung” jawab Fia.
“oalah,karet lagi toh “ gumamku kemudian.
Begitulah,kami bercerita banyak di jalan. Tertawa,hingga tiba di kampungku.
Dari atas tebing aku melihat banyak orang-orang bermotor menuju ke gang rumahku.
“Ramai benar,ada hajatan ya fi?? Kok bintang nggak tahu ya? Padahal bintang baru seminggu loh balik ke kostan.” Tanyaku lagi.
“Nggak tau juga Bin,kebetulan aja kali” jawab sepupuku.
Sampai di depan rumah tetanggku,pertanyaanku menjadi banyak. Aku bergegas turun dari motor diiringi sepupuku,dari jarak 5 meter aku mencium bau kapur barus. Dinding rumahku yang terbuat dari papan juga di buka 5 keping. Semua orang menatapku dengan muka iba,ku lihat bibiku di beranda rumah dan matanya sembab. Ya Allah, Ada apa ini??
“Bintang,jangan kaget ya kalau nanti sudah di ruang tamu” Kata sepupuku.
Aku berlari ke ruang tamu,ku lihat mamak dan adik bungsu duduk di sudut ruangan. Kulihat paman-pamanku,bibi-bibiku duduk melingkari seseorang yang terbaring di ruangan itu.
“Bi,bapak kenapa? Bapak sakit apa? Kok di kerumuni kayak gitu?” tanyaku.
Melihat aku datang,salah satu pamanku langsung memeluk aku. Memeluk erat sekali,hingga aku terheran-heran.
“Ya Allah nak,yang sabar ya anakku. Bapakmu sudah dipanggil yang Maha Kuasa. Yang sabar nduk ya”ujarnya kemudian.
Kuhempaskan pelukan paman seraya menyeruak diantara kerumunan itu. Kulihat tubuh bapak yang di selimuti kain, beliau tersenyum sambil terpejam kedua matanya. Tidak ada tanda-tanda bapak meninggal.
“Paman bohong! Bapak tidur kayak gitu kok dibilang meninggal sih? Pak,bapak bangun pak. Bintang pulang,assalamualaikum bapak”
ku guncang-guncang tubuh bapak,kuraih telapak tangan bapak yang telah di sedekapkan di dada. Kucium tangannya,sama seperti kalau aku pulang ke rumah setiap hari minggu.
“ Anakku,bapakmu sudah meninggal nak,sudah yang sabar nak. Ambil wudhu terus bacakan yaasin untuk bapakmu. Ikhlaskan kepergian beliau” bisik paman kemudian.
Aku tatap semua orang yang ada diruangan itu,mencari kebenaran akan penglihatanku. Aku benar-benar tidak menyangka bapak secepat ini meninggalkan aku,padahal hari minggu yang lalu aku masih mendengar ceramah bapak yang membosankan itu. Berdebat dengan bapak masalah kakak,bahkan aku menuduh bapak telah terpengaruh omongan tetangga yang mengatakan kalau kakak sulungku suka mencuri ayam dan bebek tetangga bareng teman-teman satu gengnya. Aku benar-benar tidak menyangka,uang dua puluh ribu yang di berikan beliau kemarin adalah uang terakhir yang ku terima dari bapak meskipun dengan mukaku yang kulipat seribu. Kembali kutatap wajah teduh penuh senyum itu selanjutnya aku tidak ingat apa-apa lagi.
Pertengahan juli 2008 Meninggalnya bapak benar-benar membuatku berantakan. Aku bahkan marah pada mamak yang tampaknya tidak pernah menangis,barang setetes air matapun! Aku bahkan protes sama mamak pas 7 hari meninggalnya bapak.
“Mak,mamak kok nggak sedih sih waktu bapak meninggal? Mamak kok nggak nangis sih?” ku tatap wajah mamak dengan tatapan curiga. Setumpuk kebencian terpancar dari sorot mataku.
“Emangnya mamak kayak kamu? Bintang,apa kamu nggak nyadar sama kesalahanmu ke bapak? Sebelum bapak meninggal,semalaman bapakmu nangis. Nelangsa karna anak-anaknya nggak ada yang mau mendengar dan percaya dengan omongan bapak,sudah apa kamu minta maaf sama bapak? Buat apa nangis bintang? Buat apa kamu nangis? Nangis pura-pura juga!” jawab mamak.
Aku benar-benar tidak menyangka mamak akan berkata seperti itu. Aku tertohok dengan kata-kata itu,tak terasa butiran hangat mengalir di pipiku. Tanpa mampu mengucapkan kata-kata balasan(seperti biasanya,satu baris kalimat yang keluar dari mulut mamak,apabila menyinggung hatiku pasti aku jawab dengan satu paragraph kalimat),aku berlari ke kamar dan membanting pintu dengan keras tanpa peduli lagi dengan perasaan mamak.
Aku menangis sesenggukan di kamar,bantalpun basah oleh air mataku. Kebencianku pada mamak bertambah satu tumpuk lagi. Aku memang tidak bisa satu kata dengan mamak, bagiku kata-kata mamak tidak pernah tidak menyalahkan aku.
“Mamak tega! Mamak jahaaaaaattt!!! Bintang benci mamaak!!!” teriakku dalam tangis. Entahlah mamak mendengar atau tidak jeritanku,aku tak peduli. Aku menangis hingga tertidur.
Bagi aku,bapak telah seperti separuh jiwaku. Meninggalnya bapak adalah hilangnya peganganku. Aku bahkan tidak peduli dengan hasil ujian semesterku,nilai ku anjlok. Biasanya,setiap pembagian rapor aku selalu menjadi juara umum 1 untuk 4 kelas yang kira-kira siswanya 160 lebih yang se angkatan denganku. Semester ini,aku harus menerima ke kalahanku menjadi juara umum 3. Posisiku di gantikan oleh Ami,siswa baru pindahan dari Lampung. Aku tak peduli,bagiku prestasiku dulu adalah karena ada bapak yang menjadi penyemangatku. Walaupun ada rasa sakit di dada karena kekalahan ini,tapi tidak berarti bagiku ketimbang kepergian bapak.
Hari-hari tanpa bapak,seperti gelap bagiku. Setiap hari mamak selalu memberiku uang dua puluh ribu,tapi uang itu selalu habis. Habis untuk jajan dan membeli keperluan yang nggak jelas kepentingannya,bahkan sholat maghrib juga aku tinggalkan. Janggal memang,tapi aku menganggap ini sebagai bentuk protesku pada Allah. Aku marah sama Allah,seenaknya saja mengambil bapak. Kenapa nggak mamak saja yang duluan meninggal,kan kalau mamak meninggal nggak ngefek sama aku. Masih ada bapak itu sudah cukup! Masih untung aku nggak lepas jilbab,masih malu sama guru-guruku. Seandainya ada bapak,pasti semua akan baik-baik saja seperti biasanya.
Hari-hari bersama mamak membuatku canggung sekali.
Aku memang sedari kelas III SD sudah tidak akrab dengan mamak,bukan tidak akrab melainkan benci dengan mamak. Peristiwa itu benar-benar membuat aku trauma dengan mamak, bagaimana tidak trauma ketika ibu kandung sendiri tega memukul dan mendorong kepalaku berkali-kali hingga kepalaku terbentur ke salah satu tiang rumah. Aku tidak tahu apa dan bagaimana perasaan dan pikiran mamak saat itu. Ia hanya sibuk menenangkan Adikku, Fadhil yang tak sengaja kujatuhkan dari ranjang setinggi 1 meter. Benar, aku tak sengaja karna aku saat itu memang tengah bermain dengan Fadhil di ranjang itu. Seingatku,waktu kepalaku membentur ke tiang rumah aku berteriak protes ke mamak, untuk apa aku dilahirkan kalau aku harus dipukul dan sekali lagi tangan itu membenturkan kepalaku ke tiang rumah. Trauma, itu yang mungkin aku alami hingga aku berangsur-angsur mengurangi komunikasi dengan mamak. Aku tidak tahu apakah bapak mengetahui kejadian itu atau tidak, aku sendiri tidak menceritakan hal itu kepada siapapun.
Sejak peristiwa 7 hari meninggalnya bapak,hingga hari ini aku belum menegur mamak atau mengajaknya berbicara. Barang berbasa-basi sepatah katapun tidak,biar tahu mamak kalau aku marah padanya. Uang yang kuterima,bukan mamak langsung yang memberi melainkan adik bungsuku. Aku bahkan tak tahu mamak sedang apa, mamak pergi ke mana atau sedang di manapun, aku tidak mau tahu. Salah siapa ngomong seperti itu padaku. Sudah tahu aku sensitif sama mamak, masih saja mamak nyari gara-gara sama aku.
“Mbak bintang,di panggil mamak tuh.” kata Ali,adik bungsuku.
Dengan malas aku beranjak ke ruang tengah,menemui mamak. Kulihat mamak menatapku dengan tatapan yang tak kuketahui maksudnya.Aku duduk dengan muka masih cemberut.
“Mau bilang apa sih mamak?” tanyaku dalam hati.
“Bintang,mamak salah apa sama kamu? Sampai-sampai kamu memusuhi mamak,salah apa mamak sama kamu? Segitu bencinya kamu sama mamak,Kurang apa mamak samu bintang? Kurang apa? Kamu anggap mamak ini apa Bintang? Patung,batu atau pembantu di rumah ini? Apa salah mamak?” mamak memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan menusuk.
Aku benar-benar tidak menyangka. Aku tidak menjawab,aku berusaha untuk tidak mendengarkan kata-kata mamak.
“Bintang! Ngomong sama mamak kalau kamu nggak suka sama mak? Kamu sudah gede bintang,apa susahnya bilang sama mamak? Kamu kira mamak suka didiamkan? Kamu kira mamak nggak nangis kamu cemberuti,Kamu anggap mamak ini apa?” kembali mamak bertanya,tapi aku tak mampu menjawab.
Dadaku terasa sesak,aku ingin menangis.
“Oh,kamu marah sama mamak karna mamak ndak nangis waktu bapakmu meninggal,Iya? Asal kamu tahu bintang,mamak janda sekarang. Bapakmu meninggal tanpa ada pesan sama mamak,sepatah katapun! Mamak bahkan ingin nangis bintan. Tapi Ali, adik bungsumu yang melarang mamak nangis,apa kamu tahu kalau adikmu yang menghibur mamak saat dia tahu mamak sedih. Apa kamu tahu itu bintang?” lanjut mamak.
Mamak menangis,adikku berlari memeluk mamak. Melihat mamak menangis,aku jadi tak tega. Aku juga ikut menangis,jadilah ruang tengah penuh dengan tangisan kami berdua. Hatiku melunak,sedikit.
“Mak,maafkan bintang karna bintanglah yang salah.” Hanya itu yang mampu aku ucapkan,setelah itu aku pergi ke kamar. Menangis lagi,hingga aku tertidur.
Walaupun hati ini melunak,dan kata maaf mengalir dar mulutku tapi itu tidak mengurangi kebencianku pada mamak. Entahlah, kejadian masa kecilku benar-benar membuatku terus membenci mamak.
5 juni 2009 Alarm handphoneku berbunyi,”hilangnya sang bintang hati” kubaca tulisan di layar HPku. Ah,telah 1 tahun bapak meninggal tapi rasa kehilangan masih saja terasa hingga kini. Kutatap jam di dinding kelasku,tepat pukul 10.00 WIB. Kata mamak bapak meninggal jam 10.00 hari kamis wage.
Nenekku pernah bercerita,”Bapakmu dulu lahir hari kamis wage nduk,jam 10.00 pagi. Eh, meninggalnya juga pada hari dan jam yang sama. Bapakmu benar-benar beruntung sekali. Tapi kok ya malah bapakmu duluan,padahal nenek sama kakekmu ini sudah tua. Lah wong gigi saja sudah ndak punya kok ya malah masih hidup sampai sekarang,”
Bapak,sosok ayah yang begitu aku kagumi,aku menghormati dan mencintai bapak melebihi mamak sendiri. Meskipun aku belum bisa menghilangkan rasa sakit karena kepergian bapak,aku berusaha bangkit lagi. Meskipun hanya pura-pura berbaik hati dengan mamak,setidaknya aku telah berusaha untuk baik dengan mamak.
Teman-teman sekolahku,guru-guruku,mereka semua mungkin memaklumi kalau semester kemarin nilaiku anjlok. Tapi aku adalah Bintang,mana boleh orang lain berlama-lama di posisiku. Aku berjuang lagi mengejar ketertinggalanku. Membangun semangat,menyusun strategi dan taktik baru untuk meraih juara umum 1 lagi. Juara itu milikku,milik Bintang!
Hari ini rapor dibagikan. Pamanku yang mengambilnya. Aku berhasil melempar Ami dan merebut posisiku lagi. Aku bangga setelah tahu bahwa Ami hanya mendapat peringkat kedua di kelasnya. Siswi pindahan itu ternyata tidak setangguh yang aku kira. Seandainya ada bapak,beliau pasti bangga padaku. Oh ya,sholat maghribku sudah aku jalani lagi,aku mencoba berdamai dengan Allah. Setidaknya kulakukan itu demi bapakku.
“Bintang,di panggil sama wakasek kesiswaan tuh. Sedari tadi beliau mencari-cari kamu.” Kata tias,anak IPS.
“ Oh ya,makasih”jawabku. Aku bergegas ke ruang kesiswaan.
“ Assalamualaikum,permisi pak”salamku kemudian.
“Waalaikum salam masuk,duduk sini.” Jawab beliau.
Ternyata,beliau memberitahuku bahwa ada penawaran ke universitas negeri melalui jalur PMDK. Aku tertarik karena memang sejak lama aku ingin melanjutkan kuliah,impianku sejak awal masuk SMA dan bapaklah yang tahu.Sepulang dari sekolah,aku pulang kerumah. Kuceritakan tawaran PMDK ini ke mamak. Tapi mamak lagi-lagi mengecewakan aku. Mamak tidak memberiku izin untuk kuliah.
“Uang dari mana bintang? Kita ini hidup pas-pasan,mak juga sendirian. Kalau bapakmu masih ada ya nggak apa-apa. Sekolah SMA juga sudah Alhamdulillah,kalau mau kuliah di Linggau saja. Nggak usah neko-neko mau kuliah jauh. Palembang itu jauh, butuh biaya hidup yang nggak sedikit”jawab mamak.
Tanpa menjawab lagi,aku berlari ke kamar menagis sejadi-jadinya. Ah mamak,kenapa mamak membuat aku semakin membenci mamak! Apa mamak nggak tahu kalau bintang benar-benar mau kuliah. Bapak saja ndak melarang kok,inikan hak bintang mak! Daripada kuliah di Linggau lebih baik ndak kuliah sekalian. Langsung menikah saja kalau perlu,kayak Ayuk Nur dulu. Mamak egois,pekikku dalam hati.
Alhasil aku mendiamkan mamak lagi,Ya Allah …kenapa sih bintang punya mamak kayak gitu? Sungguh,kebencianku makin memuncak sama mamak. Seandainya bisa tak menyebutnya dengan panggilan tanpa kata “mamak” atau tak punya mamak seperti itu pasti hidupku lebih bahagia.
****
Awal September 2010 Cuaca siang ini begitu panas, semula aku ragu-ragu untuk mudik ke kampung. Tapi berjumpa dengan mamak adalah alasan kepulanganku kali ini. Aku sudah tak sanggup menahan gejolak rindu di hati,kerinduan yang hendak mencari muara rindu. Aku gelisah menunggu jemputanku,tak sabar rasanya ingin memeluk mamak dan menumpahkan kerinduan serta meminta maaf atas semua kesalahan selama ini.
“Bintang mengerti sekarang mak,mengapa Allah tidak memanggil mamak lebih dulu. Allah menasihati bintang supaya berbakti dan menyayangi mamak sama seperti bintang menyayangi bapak. Bintang mengerti sekarang,mengapa bapak yang lebih dulu meninggalkan kita mak. Allah ternyata tengah menasehati bintang supaya bintang taat sama Allah,supaya bintang sadar kalau hidup dan mati bintang itu hanya untuk Allah mak. Ibadah bintang harus karena Allah bukan karena bapak .
Bintang tahu sekarang,prestasi yang bintang banggakan dulu belum ada apa-apanya dengan yang lain.
Mamak,ampuni kesalahan bintang mak. Maafkan kesalahan bintang sama mamak,disini tidak ada orang yang lebih bintang rindukan kecuali mamak seorang . Bintang kangen mamak,kangen masakan mamak,suara mamak,omelan mamak dan juga tangisan mamak setiap malam. Bintang kangen mamak,kangen kasih sayang mamak yang selama ini bintang abaikan mak. Bintang malu sama Allah mak,malu sama hati bintang mak karna selama ini bintang cuma pura-pura baik dan sayang sama mamak. Mamak tahu nggak mak,kepura-puraan itu ternyata menjebak bintang maka maafkanlah bintang mak. Bintang tak pernah mendengarkan bisikan hati bintang,bisikan hati yang selalu memanggil nama mamak.
Mamak,bintang benar-benar kangen mamak. Pengen dipeluk mamak,diajari akan makna kepercayaan serta kasih sayang dalam keluarga. Maafkan semua kesalahan bintang mak,maafkan kedurhakaan bintang. Bintang dalam hati ini sekarang ada dua,ada bapak dan juga mamak. Maafkan bintang mak,maafkan bintang. Telah bertahun-tahunbintang memusuhi dan mendurhakai mamak. Maafkan bintang mak,izinkan bintang meraih ridho mamak.”
Aku mondar-mandir di ujung jembatan di perbatasan ibukota kecamatan kami.
“ Lama sekali .. “Gerutuku dalam hati.
Tak lama kemudian,aku melihat orang yang menjemputku datang. Entahlah aku gugup sekali,jantungku bahkan berdebar-debar dan sepanjang perjalanan menuju rumah aku tak bisa menenangkan gejolak dalam dadaku. Ah,aku jadi malu dengan perasaanku sendiri,aku seperti gadis pingitan yang hendak bertemu dengan pujaan hati.
Setelah turun dari motor aku mengucapkan terimakasih ke sepupuku yang telah menjemput. Aduh,aku semakin grogi untuk masuk,pintu depan rumah tertutup.
“Mamak kemana ya?”tanyaku dalam hati.
“Assalamualaikum…. Mamak,Ali… Asalamualaikum..”ku buka pintu dan masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumus salaam”sahut adikku.
Dia hanya tertawa melihatku lalu mencium telapak tanganku. Tak lama kemudian kulihat mamak keluar. Aduh bintang salah tingkah nih,bintang malu sama mamak. Kucium tangan mamak,lalu kupeluk erat tubuh kurus mamak.
“Ya Allah,maafkan kesalahan bintang selama ini.” Bisik hati kecilku.
“Mamak,maafkan bintang. Bintang sayang sama mamak.” Hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari lidahku. Sekali lagi,kupeluk erat tubuh kurus mamak.
“Ya Allah,satukan hati bintang dengan mamak,jadikan bintang anak yang sholehah,jadikan bintang anak yang berbakti pada kedua orang tua bintang,terutama pada mamak. “
************
Sudut kostan,171110.
#untuk ibu dan sahabatku..
Syiefa_ul Qalbi
Senin, 16 Januari 2012
*tentang MU: CINTA*
CINTA;
kali ini aku tidak sedang merayu,ini adalah bahasa cinta: hati dan jiwa.
CINTA:
kureguk cintaMu di tiap senja dan fajar,
sejuk menelusup hingga ke relung-relung jiwa..
dalam resah,bahagia dan airmata: aku tenang karna cintaMU.
kukecup manis cintaMU dalam setiap desah nafas dan denyut nadi..
ku katakan :"akan kuabdikan seluruh hidupku untuk cintaMU yang tak putus"
"janganlah engkau bersumpah atas dasar kecintaanku,
aku hanya menunjukkan cintaku,maka tunjukkanlah kecintaanMU dengan cinta yang baik untukKu, maka akan KU khabaran pada semesta: bahwa AKU sangatlah mencintaimu" :itu jawabanMU
dalam bulan dan mentari: aku ingin mencintaiMU kini dan nanti; karna aku tahu tak ada celah ku untuk mengkhianatiMU.
dengan cintaMU CINTA: maka nikmat cinta mana lagi yang harus kudustakan??*
ket: * = QS. Ar-rahman: 16
*Syiefa-ul Qalbi at Tamyiz 71*
senin:160112 19:48
kali ini aku tidak sedang merayu,ini adalah bahasa cinta: hati dan jiwa.
CINTA:
kureguk cintaMu di tiap senja dan fajar,
sejuk menelusup hingga ke relung-relung jiwa..
dalam resah,bahagia dan airmata: aku tenang karna cintaMU.
kukecup manis cintaMU dalam setiap desah nafas dan denyut nadi..
ku katakan :"akan kuabdikan seluruh hidupku untuk cintaMU yang tak putus"
"janganlah engkau bersumpah atas dasar kecintaanku,
aku hanya menunjukkan cintaku,maka tunjukkanlah kecintaanMU dengan cinta yang baik untukKu, maka akan KU khabaran pada semesta: bahwa AKU sangatlah mencintaimu" :itu jawabanMU
dalam bulan dan mentari: aku ingin mencintaiMU kini dan nanti; karna aku tahu tak ada celah ku untuk mengkhianatiMU.
dengan cintaMU CINTA: maka nikmat cinta mana lagi yang harus kudustakan??*
ket: * = QS. Ar-rahman: 16
*Syiefa-ul Qalbi at Tamyiz 71*
senin:160112 19:48
Label:
PUISIKU
Indonesia
Indralaya, Indonesia
Senin, 09 Januari 2012
Tentang jiwa: Part I
Bismillah..
Ketika saya menuliskan hal ini, apa yang saya tulis adalah bahasa hati dan juga bahasa jiwa. Ya, ini adalah sebuah kegelisahan. Saya tidak sedang berkeluh kesah, atau sedang mencurahkan isi hati saya. Tidak! Sekali lagi saya katakan, tidak!
Kata-kata ini lebih tepatnya adalah sebuah nasehat untuk diri saya pribadi atau juga orang yang memiliki kepribadian seperti saya. Well, orang mengatakan saya adalah sanguinis sejati yang bergolongan darah O. lantas, apanya yang salah??
Oke, saya akan jelaskan. Begini, dalam sejarah hidup saya, hal yang saya sukai adalah merenung, berimajinasi dan menyenangkan orang. Akan tetapi,keburukan saya adalah indisipliner dan pemalas.
Saya mempunyai segudang mimpi-mimpi besar, yang kalau itu semua terwujud maka saya adalah orang yang luar biasa, akan tetapi kemalasan saya yang akut hamper dapat dikatakan bahwa saya seperti sedang menenggak racun yang perlahan-lahan membunuh saya.
Jujur,ketika saya menulis ini saya baru saja menyadari bahwa saya telah melewati 21 tahun umur saya dengan berleha-leha alias bersantai ria. Besok adalah hari dimana tugas desain taman saya dateline dikumpulkan, tapi apa yang telah saya perbuat? Alih-alih siap dikumpul,barang satu sentipun aku belum mencoretkan pensilku diatas kalkir.
Besok adalah hari dimana aku haus menemui ketua organisasi saya, menjelaskan duduk permasalahan dari semua kesalahan komunikasi ini dan menyerahkan berkas proposal global yang sudah 95% selesai saya kerjakan. Tapi sampai detik ini saya belum menyelesaikan 5% nya, ya saya malah menulis ini.
Besok adalah hari dimana saya juga telah membuat janji kepada salah seorang teman saya,Iin untuk memberikan hasil laporan sementara pengamatan saya.jujur,sya katakan satu tintapun belum ada saya pindahkan laporan salinan itu.
Saya adalah orang yang mempunyai mimpi besar untuk mejadi seorang professor. Akan tetapi, hingga akhir semester 5 ini IPK saya belum juga mencapai 3,00 ! tragis, mana ada professor dengan IPK 2 koma sekian sekian ! tapi saya tak kunjung belajar dengan serius.
Saya adalah seseorang yang berkeinginan besar untuk mapan financial,tapi hingga detik inipin saya belum melakukan sesuatupun untuk memperbaiki financial saya minimal mandiri financial. Saya adalah wanita yang ingin sekali memiliki buku yang saya tulis sendiri, tapi jangankan satu buku, selembar tulisanpun belum ada yang kualified!
Saya selalu mengatakan bahwa saya adalah seorang yang romantic,puitis, dan menyenangkan. Tapi sampai usia 21 tahun inipun saya belum mampu untuk membuktikan hal itu. Cita-cita saya memang benar setinggi langit, impian-impian saya memang benar seindah dan seagung alam mayapada ini. Tapi maaf, saya tak ubahnya bagai kunang yang berharap jadi bintang. Saya katakan, keinginan terdekat saya adalah mampu ke Australia walaupun hanya 1 bulan sebagai seorang mahasiswa Exchange, tapi jangankan ke Australia, bahasa inggrispun masih da-di-du-dam-yes!
Jika ingin menceritakan kesedihan, maka sayapun akan bercerita untuk mu. Apa kamu tau dengan Syiefa-ul Qalbi? Yah, benar sekali! Dia adalah nama pena sekaligus nama facebook saya. Bukan apa-apa, tapi saya ingin kita mencermati bagian demi bagian dari hidup saya. Syiefa adalah Obat,dan Qalb adalah jantung. Pengambilan nama ini pada awalnya adalah suatu bentuk pelarian dari namaku yang sesungguhnya, tau siapa namaku? Benar sekali,Umi Qona’ah.
Terus terang saja, saya malu mempunyai nama depan “umi”. Dilema mempunyai nama “umi’, keseleo lidah maka orang akan memanggil saya “ummi” yang artinya buta huruf dan juga nggak bias baca, kasarnya gak bias baca tulis! Licin sedikit maka orang akan memanggil saya ”umi” yang berarti ibu. Saya akui,sejak orang tua member nama itu maka saya resmi menjadi seorang “ibu”. Kemudian apa salahnya? Tidak ada,hanya saja saya tidak pantas untuk panggilan umi. Waktu SMP saya mencari nama keren dari namaku yang asli,didapatlah nama pena: Mawar Merah. Yah, bias dikatakan sejak itu saya benar-benar menjadi seperti bunga mawar. Terkenal,dikenal tapi diam-diam sadis! Waktu SMP saya sempat berganti nama pena menjadi :Bintang Fazaristy, nama tokoh fiksi dari sebuah cerpen favorit saya yang artinya’cahaya yang bersinat dihati ibu” dan tau apa efeknya? Mmm,bias dikatakan saya memang mampu membanggakan ibu, setidaknya dalam dua sisi. Membanggakan beliau dengan prestasi sekaligus membanggakan beliau dengan sikapku yang durhaka kepada beliau:terus terang saya malu punya ibu seperti beliau.
Akhir SMA, saya berganti nama pena menjadi Miah, uMI qonaAH. Hasilnya? Tidak banyak berubah,saya lebih menjadi gadis nakal yang manja. Dan waktu serta takdirpun mempertemukan aku dengan Syiefa_ul Qalbi. Saya fikir,itu lebih baik karena dengan nama itu setidaknya orang akan mendo’akan saya agar mampu menjadi obat dan juga tidak mengenal nama asli saya. Mungkin teman-teman akan bertsnys, memangnya kenapa dengan Umi Qonaah? Apakah itu cukup memalukan buat saya? Saya jawab,Iya!
Kenapa? Karena hingga detik inipun saya belum mampu menjadi wanita yang berkarakter”umi” dan seorang wanita yang bersifat “Qona’ah”. Belum,sama sekali belum mampu! Ini hal yang menyedihkan untuk saya,yang pertama.
Kedua, karena hingga detik ini saya masih berkubak pada masalah internal diri,internal keluarga,dan financial. Saya hamper stress dan hilang akal sehat jika ketiga kolam lumpur tersebut mengelilingi saya. Bahkan nasehat temanpun tak kudengar jika aku benar-benar mabuk kolam lumpur tadi. Kuliah bias dengan mudah kutinggalkan, organisasi kulalaikan, dan ibadah kutangguh-tangguhkan, na’udzubillah!!!!
Ketiga, meskipun saya mengenali karakter dan sifat saya yang sesungguhnyaa, saya tak kunjung keluar dari hiruk pikuk keakutan saya ini. Miris, ketika saya tengah beremosi buruk,maka radius 10 meter bias merasakan efek negatifnya.
Saya fikir,untuk malam ini cukup. Lain kali saya akan bercerita yang lain. Cerita tentang diriku.
shodaqqAllahul ‘adziim..
See you,next chance !!
At kostan Norma: 23:11
Gang Lampung II, 3 Desember 2011
“Syiefa_ul Qalbi”
Ketika saya menuliskan hal ini, apa yang saya tulis adalah bahasa hati dan juga bahasa jiwa. Ya, ini adalah sebuah kegelisahan. Saya tidak sedang berkeluh kesah, atau sedang mencurahkan isi hati saya. Tidak! Sekali lagi saya katakan, tidak!
Kata-kata ini lebih tepatnya adalah sebuah nasehat untuk diri saya pribadi atau juga orang yang memiliki kepribadian seperti saya. Well, orang mengatakan saya adalah sanguinis sejati yang bergolongan darah O. lantas, apanya yang salah??
Oke, saya akan jelaskan. Begini, dalam sejarah hidup saya, hal yang saya sukai adalah merenung, berimajinasi dan menyenangkan orang. Akan tetapi,keburukan saya adalah indisipliner dan pemalas.
Saya mempunyai segudang mimpi-mimpi besar, yang kalau itu semua terwujud maka saya adalah orang yang luar biasa, akan tetapi kemalasan saya yang akut hamper dapat dikatakan bahwa saya seperti sedang menenggak racun yang perlahan-lahan membunuh saya.
Jujur,ketika saya menulis ini saya baru saja menyadari bahwa saya telah melewati 21 tahun umur saya dengan berleha-leha alias bersantai ria. Besok adalah hari dimana tugas desain taman saya dateline dikumpulkan, tapi apa yang telah saya perbuat? Alih-alih siap dikumpul,barang satu sentipun aku belum mencoretkan pensilku diatas kalkir.
Besok adalah hari dimana aku haus menemui ketua organisasi saya, menjelaskan duduk permasalahan dari semua kesalahan komunikasi ini dan menyerahkan berkas proposal global yang sudah 95% selesai saya kerjakan. Tapi sampai detik ini saya belum menyelesaikan 5% nya, ya saya malah menulis ini.
Besok adalah hari dimana saya juga telah membuat janji kepada salah seorang teman saya,Iin untuk memberikan hasil laporan sementara pengamatan saya.jujur,sya katakan satu tintapun belum ada saya pindahkan laporan salinan itu.
Saya adalah orang yang mempunyai mimpi besar untuk mejadi seorang professor. Akan tetapi, hingga akhir semester 5 ini IPK saya belum juga mencapai 3,00 ! tragis, mana ada professor dengan IPK 2 koma sekian sekian ! tapi saya tak kunjung belajar dengan serius.
Saya adalah seseorang yang berkeinginan besar untuk mapan financial,tapi hingga detik inipin saya belum melakukan sesuatupun untuk memperbaiki financial saya minimal mandiri financial. Saya adalah wanita yang ingin sekali memiliki buku yang saya tulis sendiri, tapi jangankan satu buku, selembar tulisanpun belum ada yang kualified!
Saya selalu mengatakan bahwa saya adalah seorang yang romantic,puitis, dan menyenangkan. Tapi sampai usia 21 tahun inipun saya belum mampu untuk membuktikan hal itu. Cita-cita saya memang benar setinggi langit, impian-impian saya memang benar seindah dan seagung alam mayapada ini. Tapi maaf, saya tak ubahnya bagai kunang yang berharap jadi bintang. Saya katakan, keinginan terdekat saya adalah mampu ke Australia walaupun hanya 1 bulan sebagai seorang mahasiswa Exchange, tapi jangankan ke Australia, bahasa inggrispun masih da-di-du-dam-yes!
Jika ingin menceritakan kesedihan, maka sayapun akan bercerita untuk mu. Apa kamu tau dengan Syiefa-ul Qalbi? Yah, benar sekali! Dia adalah nama pena sekaligus nama facebook saya. Bukan apa-apa, tapi saya ingin kita mencermati bagian demi bagian dari hidup saya. Syiefa adalah Obat,dan Qalb adalah jantung. Pengambilan nama ini pada awalnya adalah suatu bentuk pelarian dari namaku yang sesungguhnya, tau siapa namaku? Benar sekali,Umi Qona’ah.
Terus terang saja, saya malu mempunyai nama depan “umi”. Dilema mempunyai nama “umi’, keseleo lidah maka orang akan memanggil saya “ummi” yang artinya buta huruf dan juga nggak bias baca, kasarnya gak bias baca tulis! Licin sedikit maka orang akan memanggil saya ”umi” yang berarti ibu. Saya akui,sejak orang tua member nama itu maka saya resmi menjadi seorang “ibu”. Kemudian apa salahnya? Tidak ada,hanya saja saya tidak pantas untuk panggilan umi. Waktu SMP saya mencari nama keren dari namaku yang asli,didapatlah nama pena: Mawar Merah. Yah, bias dikatakan sejak itu saya benar-benar menjadi seperti bunga mawar. Terkenal,dikenal tapi diam-diam sadis! Waktu SMP saya sempat berganti nama pena menjadi :Bintang Fazaristy, nama tokoh fiksi dari sebuah cerpen favorit saya yang artinya’cahaya yang bersinat dihati ibu” dan tau apa efeknya? Mmm,bias dikatakan saya memang mampu membanggakan ibu, setidaknya dalam dua sisi. Membanggakan beliau dengan prestasi sekaligus membanggakan beliau dengan sikapku yang durhaka kepada beliau:terus terang saya malu punya ibu seperti beliau.
Akhir SMA, saya berganti nama pena menjadi Miah, uMI qonaAH. Hasilnya? Tidak banyak berubah,saya lebih menjadi gadis nakal yang manja. Dan waktu serta takdirpun mempertemukan aku dengan Syiefa_ul Qalbi. Saya fikir,itu lebih baik karena dengan nama itu setidaknya orang akan mendo’akan saya agar mampu menjadi obat dan juga tidak mengenal nama asli saya. Mungkin teman-teman akan bertsnys, memangnya kenapa dengan Umi Qonaah? Apakah itu cukup memalukan buat saya? Saya jawab,Iya!
Kenapa? Karena hingga detik inipun saya belum mampu menjadi wanita yang berkarakter”umi” dan seorang wanita yang bersifat “Qona’ah”. Belum,sama sekali belum mampu! Ini hal yang menyedihkan untuk saya,yang pertama.
Kedua, karena hingga detik ini saya masih berkubak pada masalah internal diri,internal keluarga,dan financial. Saya hamper stress dan hilang akal sehat jika ketiga kolam lumpur tersebut mengelilingi saya. Bahkan nasehat temanpun tak kudengar jika aku benar-benar mabuk kolam lumpur tadi. Kuliah bias dengan mudah kutinggalkan, organisasi kulalaikan, dan ibadah kutangguh-tangguhkan, na’udzubillah!!!!
Ketiga, meskipun saya mengenali karakter dan sifat saya yang sesungguhnyaa, saya tak kunjung keluar dari hiruk pikuk keakutan saya ini. Miris, ketika saya tengah beremosi buruk,maka radius 10 meter bias merasakan efek negatifnya.
Saya fikir,untuk malam ini cukup. Lain kali saya akan bercerita yang lain. Cerita tentang diriku.
shodaqqAllahul ‘adziim..
See you,next chance !!
At kostan Norma: 23:11
Gang Lampung II, 3 Desember 2011
“Syiefa_ul Qalbi”
_wasiat untuk adikku_
Dik,
kakak ingin mengatakan beberapa hal untuk mu:
pertama, dunia itu indah tapi akhirat jaauuuh lebih menggiurkan.
wanita itu cantik,tapi bidadari syurga sangat mempesona.
kekayaan dunia itu nikmat,tapi singgasana firdaus jaauuh lebih menjanjikan kenikmatan.
Dik,
dunia itu tipudaya, akhirat itu kepastian.
dik,
kenapa engkau malu dengan darah islam yang melekat dalam atribut hidupmu?
mengapa engkau malu?
namaku dan namamu adalah do'a ayah dan bunda kita,
tidak ada yang norak apalagi ingin mempermalukanmu.
mengapa malu menyata cinta kpd-Nya jika setiap detik dari usiamu adalah bukti kasih-Nya?
dik,
tidak ada syarat dalam setiap CINTA
tidak ada keluh dalam setiap PENGORBANAN
tidak ada duka dalam setiap KEIKHLASAN
Dik,
jika nanti engkau telah lelah mencari,
jika nanti engkau telah penat berharap,
jika kemudian hari engkau kelu meratapi,
kembalilah..
maka kembalilah,dik..
kembalilah, karna DIA tak pernah menutup pintu-Nya untukmu.
kembalilah,dan kita akan berbahagia
kakak,ayah dan bunda menunggumu di Syurga.
oleh: Syiefa_ul QaLbi (Umi Qona'ah)
kakak ingin mengatakan beberapa hal untuk mu:
pertama, dunia itu indah tapi akhirat jaauuuh lebih menggiurkan.
wanita itu cantik,tapi bidadari syurga sangat mempesona.
kekayaan dunia itu nikmat,tapi singgasana firdaus jaauuh lebih menjanjikan kenikmatan.
Dik,
dunia itu tipudaya, akhirat itu kepastian.
dik,
kenapa engkau malu dengan darah islam yang melekat dalam atribut hidupmu?
mengapa engkau malu?
namaku dan namamu adalah do'a ayah dan bunda kita,
tidak ada yang norak apalagi ingin mempermalukanmu.
mengapa malu menyata cinta kpd-Nya jika setiap detik dari usiamu adalah bukti kasih-Nya?
dik,
tidak ada syarat dalam setiap CINTA
tidak ada keluh dalam setiap PENGORBANAN
tidak ada duka dalam setiap KEIKHLASAN
Dik,
jika nanti engkau telah lelah mencari,
jika nanti engkau telah penat berharap,
jika kemudian hari engkau kelu meratapi,
kembalilah..
maka kembalilah,dik..
kembalilah, karna DIA tak pernah menutup pintu-Nya untukmu.
kembalilah,dan kita akan berbahagia
kakak,ayah dan bunda menunggumu di Syurga.
oleh: Syiefa_ul QaLbi (Umi Qona'ah)
Selasa, 27 Desember 2011
Refleksi Kaderisasi: Tentang Diri dan Gerakan Dakwah Ini
Syaikh Abbas Hasan As-Siisi menuturkan bahwa individu adalah komponen terkecil penyusun masyarakat, Dia memegang peranan penting dalam menentukan perjalanan dan bentuk masyarakat itu sendiri. Oleh kerana itu, yang menjadi tonggak dalam gerakan kita adalah individu, kemudian keluarga, dan akhirnya masyarakat. Inilah karakteristik Islam yang paling menonjol, yaitu pembentukan pribadi islami {takwin asy-syakhshiyab al-islamiyyah).
Sederhananya, menurut Abbas Assiisi setiap diri (baca: Pribadi) adalah seorang penggerak dan pembentuk suatu pribadi yang berkepribadian islam. Meskipun kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa jumlah orang yang memusuhi Islam sangat banyak, namun jika kita dapat mengajak satu orang dari mereka dalam setiap hari agar mau bergabung dalam dakwah islamiah ini, maka secara langsung dan tidak langsung kita telah mengentaskan orang tersebut untuk dapat keluar dari kebodohan dan pembodohan jahiliyah menuju pembebasan dan pencerahan pribadi di bawah naungan cahaya Islam.
Kaitannya dengan kaderisasi suatu pergerakan, terutama sekali pergerakan dakwah kampus tentunya hal ini menjadi sangat penting. Dalam dakwah kampus, kita mengenal adanya Dakwah Fardiyah (DF) atau Self Education kader-kader dakwah. Akan tetapi realita dilapangan adalah tidak semua kader dakwah faham akan penting dan urgensi dari dakwah fardiyah itu sendiri. Bahkan latah kader dakwah adalah menyerahkan mandat dakwah fardiyah (baca: rekrutmen) nglothok kepada departemen kaderisasi atau saklek pada seorang kader yang kebetulan sebagai staff ataupun anggota kaderisasi atau yang dinilai mampu melakukan hal tersebut. Sebuah Latahisasi kader dakwah yang kemudian menjadi tolak banding dari gerakan dakwah.
Selama kurang lebih 2 tahun menjabat sebagai staff kaderisasi, mungkin akan terlalu dini jika kemudian saya mencoba untuk kemudian membuat formulasi antigen Latahisasi ini. Perjalanan menuju pembuatan formulasi ini berawal dari sebuah pengalaman dini mengelola kaderisasi. Berlebihan rasanya jika kemudian saya mengatakan bahwa kaderisasi itu sampai mati, tapi saya yakinkan bahwa ini benar dan keharusan.
Para da'i (Kader-kader dakwah) harus memiliki kemampuan untuk membangkitkan "indra ketuhanan" demi menarik simpati hati, menyatukan jiwa, dan berinteraksi dengan gerakan dakwah beserta medannya yang membentang luas. Ini semua dapat terwujud dengan ajakan dan seruan yang baik, cara yang baik, metode dialogis, dan argumen-tasi yang lebih baik, serta keteladanan yang "tanpa cela". Dasar inilah yang kemudian menjadi dalih seorang kader enggan untuk terjun ke medan dakwah (rekrutmen).
Sama halnya ketika pertama kali bergabung dengan departemen kaderisasi di sebuah lembaga dakwah fakultas pertanian, saya pribadi tidak merasakan adanya sebuah dorongan besar untuk mampu mengajak, merekrut orang lain untuk kemudian bergabung dengan dakwah. Tanggung jawab hanya dilaksanakan sebatas keterlaksananya suatu program kerja departemen, selebihnya adalah sibuk mempertanyakan dan menggubrisi hal – hal yang sifatnya Event Organizing(EO) semata-mata.
Sebuah harga yang saya pikir impas jika kemudian banyak data kader yang tidak valid, baik validitas database halaqoh maupun database simpatisan pergerakan. Mengapa saya katakana demikian tidak lain hanyalah karena ketika saya disibukkan pada aktivitas – aktivitas EO dan pelaksanaan proker, saya telah gagal untuk kemudian mengecek ulang database kader atau sekedar cek update kader yang ada.
Kesadaran untuk mengajak orang lain muncul manakala pada evaluasi departemen selalu saja menyinggung pada satu hal, minimnya jumlah kader. Aksi perombakan system perekrutan pun dilakukan, bahkan ranah nama kegiatan perekrutan pun harus diubah yang pada awalnya hanya “Open Rekrutmen” menjadi “OPERA” (Open Rekrutmen Aktivis) atau Training Dasar Kepemimpinan (TDK) yang dengan perhelatan dalam syuro’ pun juga harus diubah menjadi “CASTING “ ( guidanCe Agriculture STar trainING).
Putaran waktu akan memperlihatkan kepada kita peristiwa-peristiwa yang mengejutkan dan memberikan peluang kepada kita untuk berbuat. Dunia akan melihat bahwa dakwah kita adalah hidayah, kemenangan, dan kedamaian, yang dapat menyembuhkan umat dari rasa sakit yang tengah dideritanya. Ternyata benar, seiring dengan meningkatnya kefahaman tentang pentingnya aktivitas merekrut (baca: kaderisasi). Kejutan pertama yang kami terima adalah peserta yang mendaftar jika pada tahun-tahun sebelumnya (menurut penuturan) tidak lebih dari 50 orang menjadi 87 orang dengan target pencapaian 100 orang.
Kejutan kedua yang kami dapatkan adalah ternyata hanya 40% saja yang hadir dalam latihan kepemimpinan. Analisis kasus dilakukan dan diperolehlah sebuah tesis bahwa tidak cukup hanya bereuphoria saja ketika proses perekrutan tengah dilakukan walaupun jumlah mendekati target pencapaian. Ada proses-proses yang kemudian harus kita lakukan supaya rekrutmen awal mampu bertahan minimal sampai di gerbang halaqoh.
Kejutan ketiga adalah tentang ketidaksiapan pribadi kami wa bilkhusus saya pribadi untuk kemudian menyambut calon kader yang telah terekrut agar sampai pada gerbang minnadhzulumati ila nuur seperti misi – misi risalah kenabian.
Analisis kasus kemudian terus dan terus saya lakukan, pertanyaan mendasar saya adalah apakah minimnya jumlah kader yang terekrut dalam dakwah ini disebabkan oleh system atau pola yang saya lakukan atau ada sisi lain yang menyebabkan ketidaksampainya pesan-pesan mulia dari misi risalah kenabian tersebut. Analisis-analisis inilah yang kemudian saya rangkumkan kedalam sebuah refleksi kaderisasi tentang diri dan gerakan dakwah ini. Beberapa hasil analisis yang kemudian saya rangkum adalah sebagai berikut:
1. Tentang Diri
Syaikhut tarbiyah Indonesia, Ust. Rahmat Abdullah mengemukakan, dalam satu kesatuan amal jama’i ada orang yang mendapatkan nilai tinggi karena ia betul-betul sesuai dengan tuntutan dan adab amal jama’i. Kejujuran, kesuburan, kejernihan dan kehangatan ukhuwahnya betul-betul terasa. Keberadaannya menggairahkan dan menenteramkan. Namun perlu diingat, walaupun telah bekerja dalam jaringan amal jama’i, namun pertanggungjawaban amal kita akan dilakukan di hadapan Allah SWT secara sendiri-sendiri. Karenanya jangan ada kader yang mengandalkan kumpulan-kumpulan besar tanpa beru-saha meningkatkan kualitas dirinya. Ingat suatu pesan Rasulullah SAW: Man abtha-a bihi amaluhu lam yusri’ bihi nasabuhu (Siapa yang lamban beramal tidak akan dipercepat oleh nasabnya ).
Dengan atau tanpa disadari diri kita adalah bagian terpenting dari proses rekrutmen itu sendiri. Jika sebagai pelaku perekrutan, maka persiapan diri harus dilakukan sedini mungkin. Dalam kaidah pergerakan tentu kita mengenal kaidah 10 Muwassofat kader. Hal lain dalam persiapan diri sedini mungkin dalam proses perekrutan ini adalah amaliyah yaumi diri kita pribadi. Amaliyah yaumi, dengan ataupun tanpa disadari akan berpengaruh besar terhadap kedekatan kita pada Allah SWT yang Maha membolak-balikkan hati dan tentunya dengan kedekatan kita kepada Allah SWT diharapkan proses rekrutmen yang dilakukan akan sampai dan sesuai dengan pada apa yang menjadi titik ukur pencapaian rekrutmen tersebut.
Ketika amaliyah yaumi ini lemah maka bias dipastikan akan lemah pula ikatan hati kita terhadap objek rekrutmen kita. Boleh jadi target rekrutmen awal tercapai namun esensi dari akhir proses perekrutan menjadi remang-remang atau bahkan kabur sama sekali. Kekeringan atau dehidrasi amaliyah yaumi yang berkelanjutan adalah salah satu jawaban mengapa dalam setiap evaluasi selalu saja nglothok pertanyaan yang sama, minimnya jumlah kader yang boleh jadi hal ini adalah bentuk ‘alarm’ dari Allah tentang batapa parahnya dehidrasi amaliyah yaumi kita.
2. Tentang diri dan gerakan dakwah ini
Berbicara mengenai diri dan gerakan dakwah ini tidak bisa memisahkan diri dengan jama’ah dakwah. Dalam jamaah dakwah islamiah sendiri, kita mengadakan suatu program yang kita sebut dengan projek al-akh al-wahid, yaitu setiap anggota berjanji dan berusaha untuk mengajak satu orang anggota baru dalam satu tahun. Tidak seorang pun diperbolehkan menunda-nunda waktu, karena perputaranwaktu adalah bahagian dan pengobatan dan pembentukan (at waqtu juz'un minal 'ilaj wat takwin). Sehari dalam kehidupan individu adalah setahun dalam kehidupan umat. Umat yang mengerti betul akan hakikat kehidupan, mereka tidak akan pernah mati. Ini semua akan bergantung pada para da'i dalam memandang kesucian dan urgensi risalah dakwah serta bergantung pada pengorbanan para da'i, baik harta, tenaga, maupun waktu. Yang perlu diperhatikan oleh para da'i pada masa pembentukan (fase takwiniyab) adalah memberikan uswah hasanah, bertujuan menampilkan di hadapan masyarakat gambaran nyata tentang Islam.
Dengan memahami hal di atas maka sebagai seorang kader dakwah yang notabenenya adalah seorang da’i maka telah sewajarnya dan telah seharusnya kita memahami bahwa tugas mulia kita adalah mengajak orang lain untuk turut merasakan nikmatnya keimanan dalam naungan islam. Tidak perlu lagi seorang kader dakwah itu menumpukkan tugas ‘merekrut kader’ hanya kepada personal atau departemen kaderisasi semata, sejatinya kitalah para perekrut itu. Dengan pemahaman yang mendalam akan pentingnya menyampaikan pesan-pesan risalah kenabian ini, maka itu adalah antigen yang mampu membentuk system antibody dalam tubuh seorang aktivis gerakan dakwah agar tidak terjangkit gejala penyakit Latahisasi seperti yang saya sebutkan diawal.
Sebuah ikhtiar dan sebuah usaha refleksi diri agar kedepan mampu berkontribusi lebih terhadap dakwah ini. Tidak ada kata premature dalam proses kaderisasi karena sejatinya kaderisasi itu sampai mati !
Oleh: Umi Qona'ah
Staff KD KAMMI Komisariat Al-Quds UNSRI
Sederhananya, menurut Abbas Assiisi setiap diri (baca: Pribadi) adalah seorang penggerak dan pembentuk suatu pribadi yang berkepribadian islam. Meskipun kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa jumlah orang yang memusuhi Islam sangat banyak, namun jika kita dapat mengajak satu orang dari mereka dalam setiap hari agar mau bergabung dalam dakwah islamiah ini, maka secara langsung dan tidak langsung kita telah mengentaskan orang tersebut untuk dapat keluar dari kebodohan dan pembodohan jahiliyah menuju pembebasan dan pencerahan pribadi di bawah naungan cahaya Islam.
Kaitannya dengan kaderisasi suatu pergerakan, terutama sekali pergerakan dakwah kampus tentunya hal ini menjadi sangat penting. Dalam dakwah kampus, kita mengenal adanya Dakwah Fardiyah (DF) atau Self Education kader-kader dakwah. Akan tetapi realita dilapangan adalah tidak semua kader dakwah faham akan penting dan urgensi dari dakwah fardiyah itu sendiri. Bahkan latah kader dakwah adalah menyerahkan mandat dakwah fardiyah (baca: rekrutmen) nglothok kepada departemen kaderisasi atau saklek pada seorang kader yang kebetulan sebagai staff ataupun anggota kaderisasi atau yang dinilai mampu melakukan hal tersebut. Sebuah Latahisasi kader dakwah yang kemudian menjadi tolak banding dari gerakan dakwah.
Selama kurang lebih 2 tahun menjabat sebagai staff kaderisasi, mungkin akan terlalu dini jika kemudian saya mencoba untuk kemudian membuat formulasi antigen Latahisasi ini. Perjalanan menuju pembuatan formulasi ini berawal dari sebuah pengalaman dini mengelola kaderisasi. Berlebihan rasanya jika kemudian saya mengatakan bahwa kaderisasi itu sampai mati, tapi saya yakinkan bahwa ini benar dan keharusan.
Para da'i (Kader-kader dakwah) harus memiliki kemampuan untuk membangkitkan "indra ketuhanan" demi menarik simpati hati, menyatukan jiwa, dan berinteraksi dengan gerakan dakwah beserta medannya yang membentang luas. Ini semua dapat terwujud dengan ajakan dan seruan yang baik, cara yang baik, metode dialogis, dan argumen-tasi yang lebih baik, serta keteladanan yang "tanpa cela". Dasar inilah yang kemudian menjadi dalih seorang kader enggan untuk terjun ke medan dakwah (rekrutmen).
Sama halnya ketika pertama kali bergabung dengan departemen kaderisasi di sebuah lembaga dakwah fakultas pertanian, saya pribadi tidak merasakan adanya sebuah dorongan besar untuk mampu mengajak, merekrut orang lain untuk kemudian bergabung dengan dakwah. Tanggung jawab hanya dilaksanakan sebatas keterlaksananya suatu program kerja departemen, selebihnya adalah sibuk mempertanyakan dan menggubrisi hal – hal yang sifatnya Event Organizing(EO) semata-mata.
Sebuah harga yang saya pikir impas jika kemudian banyak data kader yang tidak valid, baik validitas database halaqoh maupun database simpatisan pergerakan. Mengapa saya katakana demikian tidak lain hanyalah karena ketika saya disibukkan pada aktivitas – aktivitas EO dan pelaksanaan proker, saya telah gagal untuk kemudian mengecek ulang database kader atau sekedar cek update kader yang ada.
Kesadaran untuk mengajak orang lain muncul manakala pada evaluasi departemen selalu saja menyinggung pada satu hal, minimnya jumlah kader. Aksi perombakan system perekrutan pun dilakukan, bahkan ranah nama kegiatan perekrutan pun harus diubah yang pada awalnya hanya “Open Rekrutmen” menjadi “OPERA” (Open Rekrutmen Aktivis) atau Training Dasar Kepemimpinan (TDK) yang dengan perhelatan dalam syuro’ pun juga harus diubah menjadi “CASTING “ ( guidanCe Agriculture STar trainING).
Putaran waktu akan memperlihatkan kepada kita peristiwa-peristiwa yang mengejutkan dan memberikan peluang kepada kita untuk berbuat. Dunia akan melihat bahwa dakwah kita adalah hidayah, kemenangan, dan kedamaian, yang dapat menyembuhkan umat dari rasa sakit yang tengah dideritanya. Ternyata benar, seiring dengan meningkatnya kefahaman tentang pentingnya aktivitas merekrut (baca: kaderisasi). Kejutan pertama yang kami terima adalah peserta yang mendaftar jika pada tahun-tahun sebelumnya (menurut penuturan) tidak lebih dari 50 orang menjadi 87 orang dengan target pencapaian 100 orang.
Kejutan kedua yang kami dapatkan adalah ternyata hanya 40% saja yang hadir dalam latihan kepemimpinan. Analisis kasus dilakukan dan diperolehlah sebuah tesis bahwa tidak cukup hanya bereuphoria saja ketika proses perekrutan tengah dilakukan walaupun jumlah mendekati target pencapaian. Ada proses-proses yang kemudian harus kita lakukan supaya rekrutmen awal mampu bertahan minimal sampai di gerbang halaqoh.
Kejutan ketiga adalah tentang ketidaksiapan pribadi kami wa bilkhusus saya pribadi untuk kemudian menyambut calon kader yang telah terekrut agar sampai pada gerbang minnadhzulumati ila nuur seperti misi – misi risalah kenabian.
Analisis kasus kemudian terus dan terus saya lakukan, pertanyaan mendasar saya adalah apakah minimnya jumlah kader yang terekrut dalam dakwah ini disebabkan oleh system atau pola yang saya lakukan atau ada sisi lain yang menyebabkan ketidaksampainya pesan-pesan mulia dari misi risalah kenabian tersebut. Analisis-analisis inilah yang kemudian saya rangkumkan kedalam sebuah refleksi kaderisasi tentang diri dan gerakan dakwah ini. Beberapa hasil analisis yang kemudian saya rangkum adalah sebagai berikut:
1. Tentang Diri
Syaikhut tarbiyah Indonesia, Ust. Rahmat Abdullah mengemukakan, dalam satu kesatuan amal jama’i ada orang yang mendapatkan nilai tinggi karena ia betul-betul sesuai dengan tuntutan dan adab amal jama’i. Kejujuran, kesuburan, kejernihan dan kehangatan ukhuwahnya betul-betul terasa. Keberadaannya menggairahkan dan menenteramkan. Namun perlu diingat, walaupun telah bekerja dalam jaringan amal jama’i, namun pertanggungjawaban amal kita akan dilakukan di hadapan Allah SWT secara sendiri-sendiri. Karenanya jangan ada kader yang mengandalkan kumpulan-kumpulan besar tanpa beru-saha meningkatkan kualitas dirinya. Ingat suatu pesan Rasulullah SAW: Man abtha-a bihi amaluhu lam yusri’ bihi nasabuhu (Siapa yang lamban beramal tidak akan dipercepat oleh nasabnya ).
Dengan atau tanpa disadari diri kita adalah bagian terpenting dari proses rekrutmen itu sendiri. Jika sebagai pelaku perekrutan, maka persiapan diri harus dilakukan sedini mungkin. Dalam kaidah pergerakan tentu kita mengenal kaidah 10 Muwassofat kader. Hal lain dalam persiapan diri sedini mungkin dalam proses perekrutan ini adalah amaliyah yaumi diri kita pribadi. Amaliyah yaumi, dengan ataupun tanpa disadari akan berpengaruh besar terhadap kedekatan kita pada Allah SWT yang Maha membolak-balikkan hati dan tentunya dengan kedekatan kita kepada Allah SWT diharapkan proses rekrutmen yang dilakukan akan sampai dan sesuai dengan pada apa yang menjadi titik ukur pencapaian rekrutmen tersebut.
Ketika amaliyah yaumi ini lemah maka bias dipastikan akan lemah pula ikatan hati kita terhadap objek rekrutmen kita. Boleh jadi target rekrutmen awal tercapai namun esensi dari akhir proses perekrutan menjadi remang-remang atau bahkan kabur sama sekali. Kekeringan atau dehidrasi amaliyah yaumi yang berkelanjutan adalah salah satu jawaban mengapa dalam setiap evaluasi selalu saja nglothok pertanyaan yang sama, minimnya jumlah kader yang boleh jadi hal ini adalah bentuk ‘alarm’ dari Allah tentang batapa parahnya dehidrasi amaliyah yaumi kita.
2. Tentang diri dan gerakan dakwah ini
Berbicara mengenai diri dan gerakan dakwah ini tidak bisa memisahkan diri dengan jama’ah dakwah. Dalam jamaah dakwah islamiah sendiri, kita mengadakan suatu program yang kita sebut dengan projek al-akh al-wahid, yaitu setiap anggota berjanji dan berusaha untuk mengajak satu orang anggota baru dalam satu tahun. Tidak seorang pun diperbolehkan menunda-nunda waktu, karena perputaranwaktu adalah bahagian dan pengobatan dan pembentukan (at waqtu juz'un minal 'ilaj wat takwin). Sehari dalam kehidupan individu adalah setahun dalam kehidupan umat. Umat yang mengerti betul akan hakikat kehidupan, mereka tidak akan pernah mati. Ini semua akan bergantung pada para da'i dalam memandang kesucian dan urgensi risalah dakwah serta bergantung pada pengorbanan para da'i, baik harta, tenaga, maupun waktu. Yang perlu diperhatikan oleh para da'i pada masa pembentukan (fase takwiniyab) adalah memberikan uswah hasanah, bertujuan menampilkan di hadapan masyarakat gambaran nyata tentang Islam.
Dengan memahami hal di atas maka sebagai seorang kader dakwah yang notabenenya adalah seorang da’i maka telah sewajarnya dan telah seharusnya kita memahami bahwa tugas mulia kita adalah mengajak orang lain untuk turut merasakan nikmatnya keimanan dalam naungan islam. Tidak perlu lagi seorang kader dakwah itu menumpukkan tugas ‘merekrut kader’ hanya kepada personal atau departemen kaderisasi semata, sejatinya kitalah para perekrut itu. Dengan pemahaman yang mendalam akan pentingnya menyampaikan pesan-pesan risalah kenabian ini, maka itu adalah antigen yang mampu membentuk system antibody dalam tubuh seorang aktivis gerakan dakwah agar tidak terjangkit gejala penyakit Latahisasi seperti yang saya sebutkan diawal.
Sebuah ikhtiar dan sebuah usaha refleksi diri agar kedepan mampu berkontribusi lebih terhadap dakwah ini. Tidak ada kata premature dalam proses kaderisasi karena sejatinya kaderisasi itu sampai mati !
Oleh: Umi Qona'ah
Staff KD KAMMI Komisariat Al-Quds UNSRI
"Dimana Dicari?"
Aku mencari..
Dalam tetumpukan serasah basah hingga kering embun dedaunan pagi
Aku, masih mencari..
Kutemui dalam riak-riak air, mengalir-hilang
kusimak dalam cericit burung, Kacau-pilu
menatap dalam air, bias-pudar
Aku tak tahan!!
Tersandar dibalik kayu manis,
haruskah kucerita pada sepohon kayu bisu?
Atau pada cericit burung yang menyapa?
ataukah pada kupu-kupu yang melintas?
haruskah kucerita resah ini?
Aku,masih mencari..
Apa harus kutanya semilir angin yang menghiburku?
Atau pada capung riang di atas air?
atau pada bayang-bayang awan di dasar kolam?
haruskah kutanyakan hal ini?
Aku, masih mencari..
kupanggil kawanan prenjak, ia acuhkan aku
ku seru riak-riak air, ia biaskan ku
aku memelas pada semilir angin, dedaunan menertawakanku
kudekati capung-capung air, ia menjauh.
lalu, pada siapa kutawar gelisah ini?
menelungkup dibalik kayu manis, aku malu..
kupu-kupu mendekat di kelopak mata, seolah,"izinkan sayapku menyeka air matamu"
tapi ia terbang dalam sekerjap mata
aku terbentur dalam bayang didasar kolam
riak air merusak wajahku, oh bukan!
ini tetesan air yang jatuh satu-satu,
dan aku hancur diterpa angin
aku masih mencari..
dimana dicari jiwa yang kini berlari?
dimana dicari jiwa yang tengah menyepi?
aku, terus mencari...
#Syiefa_ul Qalbi#
bumi Allah, jum'at (231220110) 10:18
Dalam tetumpukan serasah basah hingga kering embun dedaunan pagi
Aku, masih mencari..
Kutemui dalam riak-riak air, mengalir-hilang
kusimak dalam cericit burung, Kacau-pilu
menatap dalam air, bias-pudar
Aku tak tahan!!
Tersandar dibalik kayu manis,
haruskah kucerita pada sepohon kayu bisu?
Atau pada cericit burung yang menyapa?
ataukah pada kupu-kupu yang melintas?
haruskah kucerita resah ini?
Aku,masih mencari..
Apa harus kutanya semilir angin yang menghiburku?
Atau pada capung riang di atas air?
atau pada bayang-bayang awan di dasar kolam?
haruskah kutanyakan hal ini?
Aku, masih mencari..
kupanggil kawanan prenjak, ia acuhkan aku
ku seru riak-riak air, ia biaskan ku
aku memelas pada semilir angin, dedaunan menertawakanku
kudekati capung-capung air, ia menjauh.
lalu, pada siapa kutawar gelisah ini?
menelungkup dibalik kayu manis, aku malu..
kupu-kupu mendekat di kelopak mata, seolah,"izinkan sayapku menyeka air matamu"
tapi ia terbang dalam sekerjap mata
aku terbentur dalam bayang didasar kolam
riak air merusak wajahku, oh bukan!
ini tetesan air yang jatuh satu-satu,
dan aku hancur diterpa angin
aku masih mencari..
dimana dicari jiwa yang kini berlari?
dimana dicari jiwa yang tengah menyepi?
aku, terus mencari...
#Syiefa_ul Qalbi#
bumi Allah, jum'at (231220110) 10:18
Senin, 12 Desember 2011
Jumat, 11 November 2011
LAPORAN PRAKTIKUM KARET
LAPORAN
PRAKTIKUM PENGELOLAAN PERKEBUNAN KARET
Pengajiran Karet (Hevea Brasiliensis Muell. Arg.)
UMI QONAAH
05091007006
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDERALAYA
2011
BAB III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum
Praktikum yang berjudul Pengajiran Karet (Hevea Brasiliensis Muell. Arg.) ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 18 Oktober 2011 di Lahan Karet 100 Ha Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya.
B. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam pengajiran karet adalah: 1) Kayu Ajir 100 buah, 2) Meteran, 3) Kompas, dan 4) lahan Ajir ( blok D).
C. Cara Kerja
Adapun cara kerja pada saat pengajiran yaitu: 1) mula – mula tentukan terlebih dahulu jarak tanam yang akan di pakai yakni 4m x 5m, 2) selanjutnya dibuat pula ajir- ajir utama ( ajir pokok ) kea rah timur, barat, utara, dan selatan masing – masing 1 buah ajir utama sesuai dengan jarak tanam yang dipakai, 3) kemudian diikuti dengan pembuatan ajir ke arah selatan dan ke arah timur, 4) pada tiap – tiap titik jarak tanam di pasanglah kayu ajir, 5) untuk membantu agar pola ajiran tersebut lurus maka digunakan kompas.
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Adapun hasil pengajiran yang di lakukan adalah sbb:
Posisi pengajiran Jumlah Ajiran
Utara – Selatan 5
Barat – Timur 10
Total Ajir 15
Dengan lokasi Pengajiran sbb:
● ● ● ● ● ● ●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
B. Pembahasan
Kegiatan pengajiran ini dilaksanakan pada kebun karet percobaan 100 Ha yang telah terbakar. Seperti yang tampak pada lokasi, tanda panah yang vertikal menunjukkan arah timur - barat, dan panah mendatar menunjukkan arah selatan - utara. Pada dasarnya pemancangan ajir adalah untuk mengatur jarak tanam di lapangan, mempermudah pembuatan lubang tanam, membantu agar bibit yang ditanam membentuk garis lurus, serta untuk mempermudah pengelolaan dan pemeliharaan pada tanaman karet muda maupun yang telah menghasilkan.
Dari lokasi Pengajiran, ada beberapa titik yang dirubah warnanya menjadi seperti berikut ini:
● ● ● ● ● ● ●
●
●
●
●
●
●
●
●
●
Pada titik yang berwarna merah adalah titik ajir yang tidak di pasang oleh praktikan atau praktikan tidak terlibat dalam proses pemasangannya, warna merah tua berarti itu adalah ajir induk selebihnya adalah titik – titik ajir anakan yang dipasang oleh praktikan atau yang praktikan terlibat dalam proses pengajirannya
. Pada titik yang berwarna kuning, artinya pemasangan ajir dilakukan dengan menggunakan kompas untuk meluruskan posisi ajirnya. Sedangkan untuk warna hitam dan biru adalah ajir yang di pasang dengan menggunakan teknik penglihatan mata dalam meluruskan posisi ajirnya.
Pada titik yang diberi warna biru, hanya sebagai penanda bahwa untuk mendapatkan posisi ajir yang lurus maka pengambilan titiknya dilihat dari 2 titik sebelumnya baik dari arah barat maupun dari arah utara. Ini praktikan dapatkan dari penjelasan asisten dilapangan sebab pada mulanya posisi yang praktikan buat jauh melenceng dengan ajir utama.
Anwar (2001) dalam tulisannya yang berjudul Managemen dan Teknik budidaya Karet menyebutkan bahwa pada areal lahan yang relatif datar / landai (kemiringan antara 00 – 80) jarak tanam adalah 7 m x 3 m (= 476 lubang/hektar) berbentuk barisan lurus mengikuti arah Timur - Barat berjarak 7 m dan arah Utara - Selatan berjarak 3m.
Sedangkan menurut Boerhendhy (2003), berdasarkan kemiringan lahan teknik pemancangan ajir dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Lahan datar (kemiringan<10%)
Pada lahan datar, kerapatan per hektar 550 pohon dengan jarak tanam 3 x 6 m. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat pemancangan ajir di antaranya :
• Arah barisan mengikuti arah mata angin
• Apabila menggunakan jarak tanam 3 x 6 m, maka ajir induk yang berjarak 6 m di tempatkan pada arah Utara-Selatan, sementara ajir anakan yang berjarak tanam 3 m pada arah Timur-Barat
• Ajir induk ditempatkan di tengah apabila lahannya luas dan diletakkan di pinggir apabila luasnya kurang dari satu hektar.
2. Lahan miring (kemiringan 10-25%)
Pemancangan ajir dilakukan sesuai pola kontur dengan mengikuti prinsip titik-titik pada ketinggian yang sama (Gambar 13b). Caranya:
• Menentukan ajir teras bersambung dengan menghubungkan titik yang mempunyai ketinggian yang sama di lapangan
• Ajir teras digunakan untuk ajir dengan jarak tanam 3 m
• Jarak tanam 6 m ditentukan untuk jarak horizontal antar teras.
Mengacu pada pernyataan – pernyataan diatas, lokasi pengajiran dapat dikategorikan pada areal yang kemiringannya tidak lebih dari 80 atau kurang dari 10%, oleh karenanya pola mengajirpun membentuk garis lurus atau yang juga sering disebut dengan pola-pola pagar. Akan tetapi, jarak tanam yang digunakan dalam percobaan pengajiran ini adalah 4 m x 5 m. Sebab, pada lahan tersebut masih ada sisa sisa tanaman karet dengan jarak tanam 6m x 3m, jadi apabila menggunakan jarak tanam ini atau jarak tanam 7m x 3m maka ilmu dari teknik pengajiran sendiri tidaklah praktikan peroleh sebab dapat dengan mudah saja mengikuti pola yang sudah ada.
Dari beberapa jarak tanam yang telah disebutkan, selalu saja posisi yang mengarah pada utara – selatan adalah posisi dengan jarak tanam yang lebih lebar atau lebih panjang dari jarak tanam antara timur – barat. Setelah dilakukan studi literature, ternyata bibit karet mampu berakar dengan baik kalau mendapatkan IC 50% (Anonim, 2011). Artinya, dengan pola jarak tanam yang sedemikian rupa memang diatur untuk mendapatkan Intensitas Cahaya sebesar 50 %, selain itu seiring dengan pertumbuhan tanaman karet maka tajuk tanaman akan saling menutupi sehingga dengan jarak Utara – Selatan yang lebih lebar atau lebih panjang adalah penyiasatan supaya cahaya matahari dapat menembus hingga ke lorong-lorong tanaman.
Selain itu, Tekanan cahaya bisa menimbulkan respon fisiologis (dalam aktivitas fotosintesis) maupun respon morfologis (berubahnya ukuran daun dll), Tinggi tanaman lebih cepat naik di tempat teduh, diameter tanaman lebih cepat naik di tempat tanpa naungan, sudut percabangan lebih besar ditempat ternaungi, luas daun lebih besar di tempat ternaungi, begitu juga dengan jumlah daun, akan tetapi kandungan klorofil lebih tinggi di tempat terang, ketebalan daun lebih tinggi di tempat terang (Anonim, 2011). Tentunya hal ini juga mempengaruhi pada aturan pola jarak tanam yang juga diterapkan pada tanaman karet.
Selain itu juga, lahan tempat praktikan mengajir juga luasnya ± 33 Ha, artinya lebih dari 1 Ha. Pengambilan ajir induk memang mengikuti luasan 100 Ha yang artinya ajir – ajir induk diletakkan pada tengah-tengah lahan, dan seperti yang tampak di denah lokasi yang praktikan buat ada 1 ajir induk yang kebetulan letaknya di pinggir.
Peletakan ajir – ajir induk di tengah atau di pinggir lahan (pada luasan seperti yang telah disebutkan) menurut keterangan yang praktikan peroleh dari asisten dan belum praktikan temui literature ilmiah yang menyebutkan alasannya adalah karena mengingat dari efisiensi penanaman karet itu sendiri. Jika pada lahan yang hanya 1 Ha kemudian ajir induk di letakkan pada tengah – tengah lahan, tentunya akan memubazirkan lahan pada tepian lahannya.
Selama praktek mengajir, banyak hal – hal yang tidak sama dengan teori. Lahan yang praktikan dapatkan adalah blok D, secara kasat mata blok ini tidak dapat dikatakan lahan yang datar juga tidak dapat dikatakan lahan bergelombang sebab ketika dikatakan lahan datar ternyata ditemui juga lahan yang tidak datar ( bergelombang) dan begitupula sebaliknya.
Permasalahan lain yang diperoleh dalam praktek pengajiran ini adalah kayu ajir yang tidak sama jenisnya, praktikan sendiri menggunakan kayu ajir dari batang karet bekas terbakar yang dipotong seadanya. Tentunya hal ini menyulitkan proses pengajiran dimana tanah pada lokasi cukup keras. Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah ketepatan letak pengajiran. Meskipun telah menggunakan kompas akan tetapi bila tingkat kesensitivan kompas jelek maka akan berpengaruh pula pada ketepatannya, apalagi bila yang menggunakan kompas belum mengerti bagaimana membaca petunjuk arah pada kompas. Hal remeh ini sangat penting untuk dipertahankan sebab kesalahan 10 saja akan berakibat perbedaan / kesalahan pengajiran 1 m.
Hal lain yang praktikan peroleh dalam pengajiran ini adalah bagaimana cara untuk memperoleh ketepatan letak ajir tanpa menggunakan kompas ketika ajir ke arah utara - selatan dan timur – barat telah di pancang. Dari hal ini lah diperlukan teknik ketelitian dengan menggunakan pengelihatan melalui 2 titik ajir dengan asumsi apabila titik ajir tersebut tidak terlihat oleh mata berarti posisi ajir telah lurus dan begitu pula sebaliknya. Poin terpenting yang diperoleh adalah, apa yang dilakukan di lapangan tenyata tidak dapat disamakan hanya dengan teori – teori saja.
Minggu, 10 April 2011
Laporan FISTUM Umiqo
LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN
Tekanan Osmosis Cairan Sel
OLEH
UMI QONAAH
05091007006
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2010
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tumbuhan tingkat tinggi tersusun dari banyak sel. Sel adalah unit terkecil, fungsional, struktural, hereditas, produksi, dan kehidupan yang terdiri atas tiga komponen utama yaitu membran, sitoplasma, dan inti sel. Sel dibagi menjadi dua macam, yaitu sel prokariotik dan sel eukariotik. Semua sel eukariotik memiliki sistem membran yang kompleks yang banyak berperan untuk kelangsungan hidup dan aktifitas sel tersebut. Kumpulan dari sel yang sama struktrurnya dan juga sama fungsinya itu akan membentuk jaringan. Sebanyak 80% dari keseluruhan jaringan yang ada dalam dalam tubuh tujmbuhan yang terdiri atas sel-sel hidup yang berdinding tipis, jaringan penimbun pada umbi kentang adalah salah satu contoh dari jaringan parenkimatis. Pertumbuhan bergantung kepada adanya pemasukan air ke dalam sel,yaitu pasokan air dari jaringan yang satu ke jaringan yang lain serta pasokan air dari lingkungan. Proses pemasukan air dari lingkungan ke jaringan sangat di pengaruhi oleh tekanan osmosis jaringannya. (Winduwati, 2000)
Peranan membran dalam aktivitas seluler yaitu mengatur keluar masuknya bahan antara sel dengan lingkungannya, antara sel dengan organel-organelnya. Selain itu membran juga berperan dalam metabolisme sel. Organel-organel sel seperti nukleus, kloroplas, mitokondria, dan retikulum endoplasma juga diselubungi membran. Membran atau plasmalema menyelubungi sel dengan fungsi mengatur keluar masuknya zat,menyampaikan atau menerima rangsang, dan memiliki struktur yang terdiri atas dua lipoprotein yang diantara molekulnya terdapat pori. Berdasarkan komposisi kimianya membran dan pemeabilitasnya terhadap solut maka dapat disimpulkan bahwa membran sel terdiri atas lipid dan protein. Membran memiliki lapisan ganda dan molekul-molekul fosfolipid yang letaknya teratur sedemikian rupa sehingga ujung karbon yang hidropobik terbungkus sedemikian rupa di dalam sebuah lapisan amorf dalam senyawa lipid. Komponen protein membran digambarkan sebagai suatu selaput yang menutupi kedua belah permukaan dan lapisa biomolekul posfolipid. (Wilkins, 1992)
Komposisi lipid dan protein penyusun membran bervariasi, bergantung pada jenis dan fungsi membran itu sendiri. Selain perbedaan diatas, ternyata membran mempunyai ciri-ciri yang sama, yaitu bersifat selektif permeabel terhadap molekul-molekul. Air, gas, dan molekul kecil hidrofobik secara bebas dapat melewati membran secara difusi sederhana. Ion dan molekul polar yang tidak bermuatan harus dibantu oleh protein permease spesifik untuk dapat diangkut melalui membran dengan proses yang disebut difusi terbantu (fasilitated diffusion). Kedua cara pengangkutan ini disebut transpor pasif. Untuk mengangkut ion dan molekul dalam arah yang melawan gradien konsentrasi, suatu proses transpor aktif harus diterapkan. Dalam hal ini protein aktifnya memerlukan energi berupa ATP, ataupun juga digunakan cara couple lewat proses antiport dan symport. (Anonimous, 2008). Berdasarkan ultra struktur dan fungsi membran terbukti bahwa membran tersusun oleh protein dan lemak yang memiliki struktur tiga lapisan dengan tebal kurang lebih 75 Angstrom. Berdasarkan model hipotesis Davson dan Danielli, lapisan protein mengapit lapisan biomolekul lemak (fosfolipid). (Wilkins, 1992)
Pertumbuhan bergantung kepada adanya pemasukan air ke dalam sel,yaitu pasokan air dari jaringan yang satu ke jaringan yang lain serta pasokan air dari lingkungan. Proses pemasukan air dari lingkungan ke jaringan sangat di pengaruhi oleh tekanan osmosis jaringannya. Jika sel tumbuhan di letakkan dalam suatu larutan manitol atau sukrosa encer,maka akan didapatkan adanya tekanan osmosis pada dinding sel. Jika larutan diluar sel konssentrasinya lebih pekat dari larutan didalam sel tumbuhan,maka volume sel akan menyusut dan inilah yang disebut dengan plasmolisis karena sebagian air dari sel keluar. Peristiwa plasmolisis satu sel dapat digunakan untuk menggambarkan plasmolisis pada sekumpulan sel dengan sifat-sifat yang sama.
B. Tujuan
Setelah menyelesaikan acara praktikum tekanan osmosis cairan sel ini,praktikan diharapkan dapat melakukan pengukuran besarnya tekanan osmosis cairan sel epidermis daun Rhoeo discolor.
II. Tinjauan Pustaka
Untuk dapat memahami penyerapan air oleh akar tanaman perlu di perhatikan penampang melintang dari akar. Akar tersusun atas sel epidermis, sel korteks, sel endodermis dan silinder pusat yang terdapat pembuluh xylem dan floem.
Sel endodermis yang memisahkan antara korteks dengan silinder pusat (stele) dicirikan oleh adanya penebalan (lapisan suberin) ke arah radial ataupun transversal dari sel endodermis ini yang dikenal sebagai pita kaspari yang tersusun atas lemak dan lignin yang sangat resisten terhadap transportasi air dan bahan terlarut.(Lakitan B,2010)
Pada bagian tertentu sel perisikel menerobos endodermis yang selanjutnya akan berkembang membentuk akar lateral. Sel perisikel ini dapat berfungsi sebagai sel peresap yang dapat dilewati air dan bahan terlarut. Transport air dalam jaringan akar dibedakan antara apoplas yang melewati ruang antar sel dan simplas yang melalui sel ke sel lewat plasmodesmata. Seluruh bagian dari dinding sel umumnya terbuka untuk aliran air dan bahan terlarut secara apoplas yang berkaitan dengan adanya ruang bebas (free space). Ruang bebas/pori yang terdapat dalam dinding sel ini disebut sebagai Apparent Free Space (AFS) yang terdiri dari Water Free Space (WFS) merupakan ruang bebas yang dapat diisi air dan ion dan Donnan Free Space di mana berlangsung pertukaran kation dan penolakan terhadap anion.(anonym,2010)
Apoplas pada korteks akar berhubungan langsung dengan medium tanah dan meningkat besarnya oleh adanya sejumlah rambut akar dan sel-sel yang relatif besar dengan sejumlah ruang antar sel. Penyerapan air dari medium tanah ke dalam korteks utamanya oleh daya kapileritas dan osmosis. Daya kapileritas ditimbulkan oleh adanya lubang-lubang halus (pori) dan kanal pada dinding sel. Selanjutnya sebagian air di rongga diikat sangat kuat dan berakibat pada potensi air yang rendah. Rendahnya potensi air ini dengan maksud air dapat ditahan dengan kuat. Hal ini berakibat bahwa ruang bebas pada jaringan akar tersebut nampak sangat resisten terhadap air.(Winduwati,2000)
Air dapat diserap dari pori di atas ke dalam sitoplasma melalui cara osmosis melintasi membran semipermeabel. Potensi osmosis dalam sitoplasma tergantung pada metabolisme. Proses-proses seperti penyerapan ion secara aktif, sinteisis asam organik dan sintesis gula akan menurunkan potensi osmosis (air) dalam sel dan berakibat meningkatkan penyerapan air.
Penyerapan air berkaitan dengan metabolisme dan faktor lain yang berpengaruh pada metabolisme sebagai pengaruh tidak langsung. Rendahnya suhu, kurangnya oksigen dan senyawa toksik akan menekan penyerapan air, karena akan mengganggu metabolisme. Demikian halnya aliran air antara vakuola dan sitoplasma dikendalikan oleh perbedaan potensi air. Tekanan akar dan daya kapileritas masih terlalu lemah dalam upaya transport air melewati xylem ke bagian atas tanaman, terutama pada tanaman dengan ketinggian yang cukup (hampir mencapai 100 m).
Air dalam medium tanah berhubungan dengan air dalam jaringan tanaman dan batas permukaan daun-atmosfer. Kesinambungan fasa air dan larutan tanah-tanaman-atmosfer ini disebut kesinambungan tanah-tanaman-atmosfer (soil plant atmosphere continue). Antara molekul-molekul air ini dihubungkan oleh daya kohesif. Pada permukaan daun, air berada pada kanal-kanal halus dan ruang antar sel di stomata. Bila berlangsung evaporasi, daya kapileritas dan sifat kohesif dari air memungkinkan terjadi aliran air melewati tanaman menggantikan air yang hilang di permukaan daun akibat evaporasi. Konsep aliran air dari larutan tanah ke akar tanaman sampai terjadi evaporasi di permukaan daun ini disebut sebagai hipotesis kohesi. (Saktiyono,2000)
Kecepatan evaporasi dari permukaan daun ini meningkat dengan lebih tingginya temperatur bila potensi air di atmosfer rendah. Proses evaporasi seperti dijelaskan di ats disebut transpirasi. Hal ini akan menimbulkan desakan tegangan atau sedotan pada saluran xylem, tegangan ini akan lebih tinggi di bawah kondisi transpirasi yang cepat atau tersedianya air yang rendah di medium akar.
Jaringan xylem memiliki perlengkapan yang baik agar tidak terpengaruh oleh pengaruh penyedotan air atau lebih tepatnya pengurangan air di saluran xylem. Elemen kayu dari dinding sel pembuluh xylem bersifat kaku yang dapat mencegah besarnya tekanan oleh sel yang berdekatan. Bila tidak demikian, maka sangat besar penurunan tekanan hidrostatik pada sel xylem yang berakibat retaknya tempat air dan terhalangnya aliran transpirasi oleh gelembung udara.
Resistensi aliran air sepanjang pembuluh xylem relatif rendah. Dinding sel xylem adalah permeabel terhadap molekul air. Beberapa air imbibisi ke dalam dinding sel dan ruang antar sel berdekatan. Serapan air oleh sel yang bersebelahan dapat terjadi secara osmosis. Resistensi terhadap aliran air dalam dinding sel xylem lebih tinggi daripada pembuluh xylem sehingga aliran air secara lateral dalam jaringan lebih rendah daripada translokasi ke atas.( Anonim,2010)
Absorpsi hara mineral oleh akar tanaman terbagi dalam tiga fase. Pertama adalah fase difusi,dimana hara mineral bergerak menuju permukaan sel-sel akar. Fase yang kedua adalah pertukaran unsur – unsur hara melalui membrane sel,suatu proses yang melibatkan permeabilitas suatu membrane. Sedangkan fase ketiga yaitu fase akumulasi,yang merupakan faseif dimana unsur hara ditimbun didalam vakuola. Melalui proses difusi,berbagai komponen larutan tanah masuk pula ion dan molekul bergerak menuju permukaan luar akar yang jumlahnya ditentukan oleh sifat membran protoplasma.(Lakitan B,2010)
Jika dilihat dari kemampuan melewatkan suatu zat,maka membran di bedakan menjadi membrane impermeable,semipermeabel dan membrane permeable. Proses fisiologi yang berlangsung pada tumbuhan banyak yang berkaitan dengan air dan bahan-bahan yang terlarut dalam air seperti unsure hara dan garam-garam mineral. Air dan bahan-bahan terlarut dapat diserap dari pori di atas ke dalam sitoplasma melalui cara osmosis ataupun melalui difusi melintasi membran semipermeabel Membran semipermiabel adalah selaput pemisah yang hanya bisa ditembus oleh air dan zat tertentu yang larut di dalamnya. Keadaan tegang yang timbul antara dinding sel dengan dinding isi sel karena menyerap air disebut turgor, sedang tekanan yang ditimbulkan disebut tekanan turgor. Untuk sel tumbuhan bersifat selektif semipermiabel. Setiap sel hidup merupakan sistem osmotik. Jika sel ditempatkan dalam larutan yang lebih pekat (hipertonik) terhadap cairan sel, air dalam sel akan terhisap keluar sehingga menyebabkan sel mengkerut. Peristiwa ini disebut plasmolisis. (Saktiyono,2000)
Pada sel endodermis tanaman yang memisahkan antara korteks dengan silinder pusat (stele) dicirikan oleh adanya penebalan (lapisan suberin) ke arah radial ataupun transversal dari sel endodermis ini yang dikenal sebagai pita kaspari yang tersusun atas lemak dan lignin yang sangat resisten(impermeable) terhadap transportasi air dan bahan terlarut. Pada bagian tertentu sel perisikel menerobos endodermis yang selanjutnya akan berkembang membentuk akar lateral. Sel perisikel ini dapat berfungsi sebagai sel peresap yang dapat dilewati air dan bahan terlarut.(anonym,2010)
III. ALAT DAN BAHAN SERTA CARA KERJA
A. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu: 1) 7 buah botol vial, 2) 7 buah pipet 5 ml dan 10 ml, 3) pisau silet atau karter, 4) 2 buah pinset, 5) jarum bertangkai, 6) mikroskop dengan gelas objek dan kaca penutupnya.
Sedangkan bahan yang digunakan yaitu: 1) daun Rhoeo discolor, 2) larutan gula sukrosa dengan konsentrasi 0 M, 0.16 M, 0.18 M, 0.20 M, 0.22 M, 0.24 M, 0.26 M.
B. Cara Kerja
Adapun cara kerja praktikum kali ini,mula-mula botol vial diisi dengan 5 ml larutan sukrosa. Setiap botol mewakili satu konsentrasi larutan. Selanjutnya,dengan menggunakan pisau silet,bagian bawah daun Rhoeo discolor di sayat tipis membujur pada bagian yang berwarna ungu. Tiap satu botol vial yang berisi larutan sukrosa dimasukkan 3 sayatan epidermis. Lalu sayatan itu didiamkan didalam botol vial selama 30 menit. Setelah 30 menit sayatan tadi diletakkan di atas gelas objek. Pada gelas objek juga ditetesi larutan sukrosa dengan konsentrasi yang sama pada masing-masing botol vial. Selanjutnya sayatan tadi diamati di bawah mikroskop. Hasilnya diamati dan dicatat serta gambar yang diperoleh difoto.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berikut adalah hasil yang diperoleh pada praktikum:
tabel hasil pengamatan
Konsentrasi (M) Plasmolisis Tidak plasmolisis
0 - +
0.16 + -
0.18 + -
0.20 + -
0.22 + -
0.24 + -
0.26 + -
1. gambar pengamatan
Berikut ini dalah hasil pemotretan sel rhoeo discolor:
Gambar 1.0 M Gambar 2. 0.16 M
Gambar 3. 0.18 M Gambar 4. 0.20 M
Gambar 5. 0.24 M Gambar 6. 0.26 M
B. Pembahasan
Dari hasil praktikum ini dapat dilihat bahwa keseluruhan perlakuan (kecuali yang kontrol),sel epidermis Rhoeo discolor mengalami plasmolisis. Terjadinya plasmolisis ini karena konsentrasi larutan sukrosa itu lebih pekat di bandingkan larutan di dalam epidermis sel Rhoeo discolor. Semakin tinggi konsentrasinya maka tingkat plasmolisisnya akan semakin besar pula.
Pada kali ini,ada kesalahan yang dibuat oleh praktikan sehingga yang semestinya terdapat perbedaan pada masing-masing perlakuan tidak di peroleh. Hal ini terjadi karena,prakitikan menyetarakan waktu menunggu 30 menit yang seharusnya dimulai saat sayatan di masukkan dalam botol tetapi dihitung sejak sayatan terakhir dari seluruh perlakuan. Akibatnya, rendaman di larutan sukrosa waktunya tidak seragam,lebih banyak yang lewat dari 30 menit. Untuk potensial osmosis cairan sel tidak dapat dihitung sebab jumlah sel yang terjadi plasmolisis dan yang tidak terjadi plasmolisis tidak dihitung,sehingga untuk menemukan pada konsentrasi berapa terjadinya plasmolisis insipien tidak dapat diketahui oleh praktikan.
Pada sel yang mengalami plasmolisis,maka akan tampak warna ungu yang keluar dari sel. Sedangkan untuk sel yang tidak mengalami plasmolisis,pigmen antosianinnya tidak keluar .(tidak berwarna ungu). Dilihat dari hasil pemotretan mikroskop tersebut,hanya larutan yang konsentrasinya 0 M yang tidak mengalami plasmolisis. Dalam bukunya yang berjudul Botani Umum, dalam Tjitrosomo (1987) mengemukakan bahwa sel yang isinya air murni tidak mengalami plasmolisis. Jika suatu sel dimasukan ke dalam air murni, maka struktur sel itu terdapat potensial air yang nilainya tinggi (=0), sedangkan di sel terdapat nilai potensial air yang lebih rendah (negatif). Hal ini menyebabkan air akan bergerak dari luar sel masuk ke dalam sel sehingga tercapai keadaan setimbang dari kedua larutan tersebut. Sedangkan untuk konsentrasi lainnya,hamper seluruh selnya mengalami plasmolisis,dan tingkat plasmolisis tertinggi pada konsentrasi 0.26 M.
V. Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh yaitu:
1. dari hasil praktikum ini dapat dilihat bahwa keseluruhan perlakuan (kecuali yang kontrol (0M),sel epidermis rhoeo discolor mengalami plasmolisis.
2. Tjitrosomo (1987) mengemukakan bahwa sel yang isinya air murni tidak mengalami plasmolisis. Jika suatu sel dimasukan ke dalam air murni, maka struktur sel itu terdapat potensial air yang nilainya tinggi (=0), sedangkan di sel terdapat nilai potensial air yang lebih rendah (negatif). Hal ini menyebabkan air akan bergerak dari luar sel masuk ke dalam sel sehingga tercapai keadaan setimbang dari kedua larutan tersebut
3. terjadinya plasmolisis ini karena konsentrasi larutan sukrosa itu lebih pekat di bandingkan larutan di dalam epidermis sel Rhoeo discolor.
4. pada sel yang mengalami plasmolisis,maka akan tampak warna ungu yang keluar dari sel.
5. untuk sel yang tidak mengalami plasmolisis, pigmen antosianinnya tidak keluar .(tidak berwarna ungu).
B. Saran
Saran yang dapat diberikan yaitu,agar pengukuran sel yang mengalami plasmolisis dan tidaknya diukur,supaya tahu dimana sel mengalami plasmolisis insipient.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2010. Tekanan Osmosis Sel. http://jevuska.com/tekanan-osmosis-sel/
(diakses Sabtu,5-11-2010)
Lakitan B.2010. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Rajawali Press: Jakarta
Pusat Pengembangan Pengelolaan Limbah Radio Aktif.
Tjitrosomo.1987. Botani Umum 2. Penerbit Angkasa: Bandung.
Wilkins, M. B. 1992. Fisiologi Tanaman. Bumi Angkasa: Jakarta.
Winduwati S et al. 2000. Karakteristik Osmosis Balik Membran Spiral Wound.
PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN
Tekanan Osmosis Cairan Sel
OLEH
UMI QONAAH
05091007006
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2010
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tumbuhan tingkat tinggi tersusun dari banyak sel. Sel adalah unit terkecil, fungsional, struktural, hereditas, produksi, dan kehidupan yang terdiri atas tiga komponen utama yaitu membran, sitoplasma, dan inti sel. Sel dibagi menjadi dua macam, yaitu sel prokariotik dan sel eukariotik. Semua sel eukariotik memiliki sistem membran yang kompleks yang banyak berperan untuk kelangsungan hidup dan aktifitas sel tersebut. Kumpulan dari sel yang sama struktrurnya dan juga sama fungsinya itu akan membentuk jaringan. Sebanyak 80% dari keseluruhan jaringan yang ada dalam dalam tubuh tujmbuhan yang terdiri atas sel-sel hidup yang berdinding tipis, jaringan penimbun pada umbi kentang adalah salah satu contoh dari jaringan parenkimatis. Pertumbuhan bergantung kepada adanya pemasukan air ke dalam sel,yaitu pasokan air dari jaringan yang satu ke jaringan yang lain serta pasokan air dari lingkungan. Proses pemasukan air dari lingkungan ke jaringan sangat di pengaruhi oleh tekanan osmosis jaringannya. (Winduwati, 2000)
Peranan membran dalam aktivitas seluler yaitu mengatur keluar masuknya bahan antara sel dengan lingkungannya, antara sel dengan organel-organelnya. Selain itu membran juga berperan dalam metabolisme sel. Organel-organel sel seperti nukleus, kloroplas, mitokondria, dan retikulum endoplasma juga diselubungi membran. Membran atau plasmalema menyelubungi sel dengan fungsi mengatur keluar masuknya zat,menyampaikan atau menerima rangsang, dan memiliki struktur yang terdiri atas dua lipoprotein yang diantara molekulnya terdapat pori. Berdasarkan komposisi kimianya membran dan pemeabilitasnya terhadap solut maka dapat disimpulkan bahwa membran sel terdiri atas lipid dan protein. Membran memiliki lapisan ganda dan molekul-molekul fosfolipid yang letaknya teratur sedemikian rupa sehingga ujung karbon yang hidropobik terbungkus sedemikian rupa di dalam sebuah lapisan amorf dalam senyawa lipid. Komponen protein membran digambarkan sebagai suatu selaput yang menutupi kedua belah permukaan dan lapisa biomolekul posfolipid. (Wilkins, 1992)
Komposisi lipid dan protein penyusun membran bervariasi, bergantung pada jenis dan fungsi membran itu sendiri. Selain perbedaan diatas, ternyata membran mempunyai ciri-ciri yang sama, yaitu bersifat selektif permeabel terhadap molekul-molekul. Air, gas, dan molekul kecil hidrofobik secara bebas dapat melewati membran secara difusi sederhana. Ion dan molekul polar yang tidak bermuatan harus dibantu oleh protein permease spesifik untuk dapat diangkut melalui membran dengan proses yang disebut difusi terbantu (fasilitated diffusion). Kedua cara pengangkutan ini disebut transpor pasif. Untuk mengangkut ion dan molekul dalam arah yang melawan gradien konsentrasi, suatu proses transpor aktif harus diterapkan. Dalam hal ini protein aktifnya memerlukan energi berupa ATP, ataupun juga digunakan cara couple lewat proses antiport dan symport. (Anonimous, 2008). Berdasarkan ultra struktur dan fungsi membran terbukti bahwa membran tersusun oleh protein dan lemak yang memiliki struktur tiga lapisan dengan tebal kurang lebih 75 Angstrom. Berdasarkan model hipotesis Davson dan Danielli, lapisan protein mengapit lapisan biomolekul lemak (fosfolipid). (Wilkins, 1992)
Pertumbuhan bergantung kepada adanya pemasukan air ke dalam sel,yaitu pasokan air dari jaringan yang satu ke jaringan yang lain serta pasokan air dari lingkungan. Proses pemasukan air dari lingkungan ke jaringan sangat di pengaruhi oleh tekanan osmosis jaringannya. Jika sel tumbuhan di letakkan dalam suatu larutan manitol atau sukrosa encer,maka akan didapatkan adanya tekanan osmosis pada dinding sel. Jika larutan diluar sel konssentrasinya lebih pekat dari larutan didalam sel tumbuhan,maka volume sel akan menyusut dan inilah yang disebut dengan plasmolisis karena sebagian air dari sel keluar. Peristiwa plasmolisis satu sel dapat digunakan untuk menggambarkan plasmolisis pada sekumpulan sel dengan sifat-sifat yang sama.
B. Tujuan
Setelah menyelesaikan acara praktikum tekanan osmosis cairan sel ini,praktikan diharapkan dapat melakukan pengukuran besarnya tekanan osmosis cairan sel epidermis daun Rhoeo discolor.
II. Tinjauan Pustaka
Untuk dapat memahami penyerapan air oleh akar tanaman perlu di perhatikan penampang melintang dari akar. Akar tersusun atas sel epidermis, sel korteks, sel endodermis dan silinder pusat yang terdapat pembuluh xylem dan floem.
Sel endodermis yang memisahkan antara korteks dengan silinder pusat (stele) dicirikan oleh adanya penebalan (lapisan suberin) ke arah radial ataupun transversal dari sel endodermis ini yang dikenal sebagai pita kaspari yang tersusun atas lemak dan lignin yang sangat resisten terhadap transportasi air dan bahan terlarut.(Lakitan B,2010)
Pada bagian tertentu sel perisikel menerobos endodermis yang selanjutnya akan berkembang membentuk akar lateral. Sel perisikel ini dapat berfungsi sebagai sel peresap yang dapat dilewati air dan bahan terlarut. Transport air dalam jaringan akar dibedakan antara apoplas yang melewati ruang antar sel dan simplas yang melalui sel ke sel lewat plasmodesmata. Seluruh bagian dari dinding sel umumnya terbuka untuk aliran air dan bahan terlarut secara apoplas yang berkaitan dengan adanya ruang bebas (free space). Ruang bebas/pori yang terdapat dalam dinding sel ini disebut sebagai Apparent Free Space (AFS) yang terdiri dari Water Free Space (WFS) merupakan ruang bebas yang dapat diisi air dan ion dan Donnan Free Space di mana berlangsung pertukaran kation dan penolakan terhadap anion.(anonym,2010)
Apoplas pada korteks akar berhubungan langsung dengan medium tanah dan meningkat besarnya oleh adanya sejumlah rambut akar dan sel-sel yang relatif besar dengan sejumlah ruang antar sel. Penyerapan air dari medium tanah ke dalam korteks utamanya oleh daya kapileritas dan osmosis. Daya kapileritas ditimbulkan oleh adanya lubang-lubang halus (pori) dan kanal pada dinding sel. Selanjutnya sebagian air di rongga diikat sangat kuat dan berakibat pada potensi air yang rendah. Rendahnya potensi air ini dengan maksud air dapat ditahan dengan kuat. Hal ini berakibat bahwa ruang bebas pada jaringan akar tersebut nampak sangat resisten terhadap air.(Winduwati,2000)
Air dapat diserap dari pori di atas ke dalam sitoplasma melalui cara osmosis melintasi membran semipermeabel. Potensi osmosis dalam sitoplasma tergantung pada metabolisme. Proses-proses seperti penyerapan ion secara aktif, sinteisis asam organik dan sintesis gula akan menurunkan potensi osmosis (air) dalam sel dan berakibat meningkatkan penyerapan air.
Penyerapan air berkaitan dengan metabolisme dan faktor lain yang berpengaruh pada metabolisme sebagai pengaruh tidak langsung. Rendahnya suhu, kurangnya oksigen dan senyawa toksik akan menekan penyerapan air, karena akan mengganggu metabolisme. Demikian halnya aliran air antara vakuola dan sitoplasma dikendalikan oleh perbedaan potensi air. Tekanan akar dan daya kapileritas masih terlalu lemah dalam upaya transport air melewati xylem ke bagian atas tanaman, terutama pada tanaman dengan ketinggian yang cukup (hampir mencapai 100 m).
Air dalam medium tanah berhubungan dengan air dalam jaringan tanaman dan batas permukaan daun-atmosfer. Kesinambungan fasa air dan larutan tanah-tanaman-atmosfer ini disebut kesinambungan tanah-tanaman-atmosfer (soil plant atmosphere continue). Antara molekul-molekul air ini dihubungkan oleh daya kohesif. Pada permukaan daun, air berada pada kanal-kanal halus dan ruang antar sel di stomata. Bila berlangsung evaporasi, daya kapileritas dan sifat kohesif dari air memungkinkan terjadi aliran air melewati tanaman menggantikan air yang hilang di permukaan daun akibat evaporasi. Konsep aliran air dari larutan tanah ke akar tanaman sampai terjadi evaporasi di permukaan daun ini disebut sebagai hipotesis kohesi. (Saktiyono,2000)
Kecepatan evaporasi dari permukaan daun ini meningkat dengan lebih tingginya temperatur bila potensi air di atmosfer rendah. Proses evaporasi seperti dijelaskan di ats disebut transpirasi. Hal ini akan menimbulkan desakan tegangan atau sedotan pada saluran xylem, tegangan ini akan lebih tinggi di bawah kondisi transpirasi yang cepat atau tersedianya air yang rendah di medium akar.
Jaringan xylem memiliki perlengkapan yang baik agar tidak terpengaruh oleh pengaruh penyedotan air atau lebih tepatnya pengurangan air di saluran xylem. Elemen kayu dari dinding sel pembuluh xylem bersifat kaku yang dapat mencegah besarnya tekanan oleh sel yang berdekatan. Bila tidak demikian, maka sangat besar penurunan tekanan hidrostatik pada sel xylem yang berakibat retaknya tempat air dan terhalangnya aliran transpirasi oleh gelembung udara.
Resistensi aliran air sepanjang pembuluh xylem relatif rendah. Dinding sel xylem adalah permeabel terhadap molekul air. Beberapa air imbibisi ke dalam dinding sel dan ruang antar sel berdekatan. Serapan air oleh sel yang bersebelahan dapat terjadi secara osmosis. Resistensi terhadap aliran air dalam dinding sel xylem lebih tinggi daripada pembuluh xylem sehingga aliran air secara lateral dalam jaringan lebih rendah daripada translokasi ke atas.( Anonim,2010)
Absorpsi hara mineral oleh akar tanaman terbagi dalam tiga fase. Pertama adalah fase difusi,dimana hara mineral bergerak menuju permukaan sel-sel akar. Fase yang kedua adalah pertukaran unsur – unsur hara melalui membrane sel,suatu proses yang melibatkan permeabilitas suatu membrane. Sedangkan fase ketiga yaitu fase akumulasi,yang merupakan faseif dimana unsur hara ditimbun didalam vakuola. Melalui proses difusi,berbagai komponen larutan tanah masuk pula ion dan molekul bergerak menuju permukaan luar akar yang jumlahnya ditentukan oleh sifat membran protoplasma.(Lakitan B,2010)
Jika dilihat dari kemampuan melewatkan suatu zat,maka membran di bedakan menjadi membrane impermeable,semipermeabel dan membrane permeable. Proses fisiologi yang berlangsung pada tumbuhan banyak yang berkaitan dengan air dan bahan-bahan yang terlarut dalam air seperti unsure hara dan garam-garam mineral. Air dan bahan-bahan terlarut dapat diserap dari pori di atas ke dalam sitoplasma melalui cara osmosis ataupun melalui difusi melintasi membran semipermeabel Membran semipermiabel adalah selaput pemisah yang hanya bisa ditembus oleh air dan zat tertentu yang larut di dalamnya. Keadaan tegang yang timbul antara dinding sel dengan dinding isi sel karena menyerap air disebut turgor, sedang tekanan yang ditimbulkan disebut tekanan turgor. Untuk sel tumbuhan bersifat selektif semipermiabel. Setiap sel hidup merupakan sistem osmotik. Jika sel ditempatkan dalam larutan yang lebih pekat (hipertonik) terhadap cairan sel, air dalam sel akan terhisap keluar sehingga menyebabkan sel mengkerut. Peristiwa ini disebut plasmolisis. (Saktiyono,2000)
Pada sel endodermis tanaman yang memisahkan antara korteks dengan silinder pusat (stele) dicirikan oleh adanya penebalan (lapisan suberin) ke arah radial ataupun transversal dari sel endodermis ini yang dikenal sebagai pita kaspari yang tersusun atas lemak dan lignin yang sangat resisten(impermeable) terhadap transportasi air dan bahan terlarut. Pada bagian tertentu sel perisikel menerobos endodermis yang selanjutnya akan berkembang membentuk akar lateral. Sel perisikel ini dapat berfungsi sebagai sel peresap yang dapat dilewati air dan bahan terlarut.(anonym,2010)
III. ALAT DAN BAHAN SERTA CARA KERJA
A. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu: 1) 7 buah botol vial, 2) 7 buah pipet 5 ml dan 10 ml, 3) pisau silet atau karter, 4) 2 buah pinset, 5) jarum bertangkai, 6) mikroskop dengan gelas objek dan kaca penutupnya.
Sedangkan bahan yang digunakan yaitu: 1) daun Rhoeo discolor, 2) larutan gula sukrosa dengan konsentrasi 0 M, 0.16 M, 0.18 M, 0.20 M, 0.22 M, 0.24 M, 0.26 M.
B. Cara Kerja
Adapun cara kerja praktikum kali ini,mula-mula botol vial diisi dengan 5 ml larutan sukrosa. Setiap botol mewakili satu konsentrasi larutan. Selanjutnya,dengan menggunakan pisau silet,bagian bawah daun Rhoeo discolor di sayat tipis membujur pada bagian yang berwarna ungu. Tiap satu botol vial yang berisi larutan sukrosa dimasukkan 3 sayatan epidermis. Lalu sayatan itu didiamkan didalam botol vial selama 30 menit. Setelah 30 menit sayatan tadi diletakkan di atas gelas objek. Pada gelas objek juga ditetesi larutan sukrosa dengan konsentrasi yang sama pada masing-masing botol vial. Selanjutnya sayatan tadi diamati di bawah mikroskop. Hasilnya diamati dan dicatat serta gambar yang diperoleh difoto.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berikut adalah hasil yang diperoleh pada praktikum:
tabel hasil pengamatan
Konsentrasi (M) Plasmolisis Tidak plasmolisis
0 - +
0.16 + -
0.18 + -
0.20 + -
0.22 + -
0.24 + -
0.26 + -
1. gambar pengamatan
Berikut ini dalah hasil pemotretan sel rhoeo discolor:
Gambar 1.0 M Gambar 2. 0.16 M
Gambar 3. 0.18 M Gambar 4. 0.20 M
Gambar 5. 0.24 M Gambar 6. 0.26 M
B. Pembahasan
Dari hasil praktikum ini dapat dilihat bahwa keseluruhan perlakuan (kecuali yang kontrol),sel epidermis Rhoeo discolor mengalami plasmolisis. Terjadinya plasmolisis ini karena konsentrasi larutan sukrosa itu lebih pekat di bandingkan larutan di dalam epidermis sel Rhoeo discolor. Semakin tinggi konsentrasinya maka tingkat plasmolisisnya akan semakin besar pula.
Pada kali ini,ada kesalahan yang dibuat oleh praktikan sehingga yang semestinya terdapat perbedaan pada masing-masing perlakuan tidak di peroleh. Hal ini terjadi karena,prakitikan menyetarakan waktu menunggu 30 menit yang seharusnya dimulai saat sayatan di masukkan dalam botol tetapi dihitung sejak sayatan terakhir dari seluruh perlakuan. Akibatnya, rendaman di larutan sukrosa waktunya tidak seragam,lebih banyak yang lewat dari 30 menit. Untuk potensial osmosis cairan sel tidak dapat dihitung sebab jumlah sel yang terjadi plasmolisis dan yang tidak terjadi plasmolisis tidak dihitung,sehingga untuk menemukan pada konsentrasi berapa terjadinya plasmolisis insipien tidak dapat diketahui oleh praktikan.
Pada sel yang mengalami plasmolisis,maka akan tampak warna ungu yang keluar dari sel. Sedangkan untuk sel yang tidak mengalami plasmolisis,pigmen antosianinnya tidak keluar .(tidak berwarna ungu). Dilihat dari hasil pemotretan mikroskop tersebut,hanya larutan yang konsentrasinya 0 M yang tidak mengalami plasmolisis. Dalam bukunya yang berjudul Botani Umum, dalam Tjitrosomo (1987) mengemukakan bahwa sel yang isinya air murni tidak mengalami plasmolisis. Jika suatu sel dimasukan ke dalam air murni, maka struktur sel itu terdapat potensial air yang nilainya tinggi (=0), sedangkan di sel terdapat nilai potensial air yang lebih rendah (negatif). Hal ini menyebabkan air akan bergerak dari luar sel masuk ke dalam sel sehingga tercapai keadaan setimbang dari kedua larutan tersebut. Sedangkan untuk konsentrasi lainnya,hamper seluruh selnya mengalami plasmolisis,dan tingkat plasmolisis tertinggi pada konsentrasi 0.26 M.
V. Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh yaitu:
1. dari hasil praktikum ini dapat dilihat bahwa keseluruhan perlakuan (kecuali yang kontrol (0M),sel epidermis rhoeo discolor mengalami plasmolisis.
2. Tjitrosomo (1987) mengemukakan bahwa sel yang isinya air murni tidak mengalami plasmolisis. Jika suatu sel dimasukan ke dalam air murni, maka struktur sel itu terdapat potensial air yang nilainya tinggi (=0), sedangkan di sel terdapat nilai potensial air yang lebih rendah (negatif). Hal ini menyebabkan air akan bergerak dari luar sel masuk ke dalam sel sehingga tercapai keadaan setimbang dari kedua larutan tersebut
3. terjadinya plasmolisis ini karena konsentrasi larutan sukrosa itu lebih pekat di bandingkan larutan di dalam epidermis sel Rhoeo discolor.
4. pada sel yang mengalami plasmolisis,maka akan tampak warna ungu yang keluar dari sel.
5. untuk sel yang tidak mengalami plasmolisis, pigmen antosianinnya tidak keluar .(tidak berwarna ungu).
B. Saran
Saran yang dapat diberikan yaitu,agar pengukuran sel yang mengalami plasmolisis dan tidaknya diukur,supaya tahu dimana sel mengalami plasmolisis insipient.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2010. Tekanan Osmosis Sel. http://jevuska.com/tekanan-osmosis-sel/
(diakses Sabtu,5-11-2010)
Lakitan B.2010. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Rajawali Press: Jakarta
Pusat Pengembangan Pengelolaan Limbah Radio Aktif.
Tjitrosomo.1987. Botani Umum 2. Penerbit Angkasa: Bandung.
Wilkins, M. B. 1992. Fisiologi Tanaman. Bumi Angkasa: Jakarta.
Winduwati S et al. 2000. Karakteristik Osmosis Balik Membran Spiral Wound.
Laporan pestisida & aplikasi Umiqo
LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM PESTISIDA DAN APLIKASINYA
Dampak Penggunaan Pestisida Terhadap Lingkungan
OLEH
UMI QONAAH
05091007006
KELOMPOK III
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2011
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam proses budi daya pertanian tidak terlepas dari apa yang namanya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), kerugian akibat serangan hama bisa mencapai 37 %, penyakit 35 %, gulma 29 %, dan bahkan akibat yang di timbulkan oleh serangan hama tikus bisa menyebabkan gagal panen (puso). Pengendalian OPT bertujuan untuk mempertahankan produksi pertanian agar produksi tetap optimal, pengendalian hama adalah usaha –usaha manusia untuk menekan populasi hama sampai dibawah ambang batas yang merugikan secara ekonomi (serech,2006)
Pengendalian dapat dilakukan dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu memilih suatu cara atau menggabungkan beberapa cara pengendalian, sehingga tidak merugikan secara ekonomis, biologi dan ekologi. Dengan tingkat kesadaran yang tinggi tentang lingkungan yang sehat dan pertanian yang berkelanjutan diperlikan cara pengendalian yang tepat. Dalam menangani OPT (organisme pengganggu tanaman) petani dewasa ini sering menggunakan pestisida. Pestisida merupakan zat yang mampu membasmi OPT. (Suharno,2005)
Pestisida dalam hal ini merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan hama untuk menurunkan populasi hama yang sedang menyerang tanaman. Menurut UU RI No. 12/1992 : Pestisida adalah zat atau senyawa kimia, zat pengatur, dan perangsang tumbuh, bahan lain serta organisme renik atau virus yang digunakan untuk melakukan perlindungan tanaman.
Pestisida adalah suatu bahan kimia yang digunakan oleh para petani untuk menjaga tanamannya dari serangan hama. Dengan menggunakan pestisida semua tanaman para petani akan terhindar dari segala macam hama. Sehingga apabila tanaman petani tersebut terhindar dari serangan hama, maka tanaman petani akan bagus dan akan menghasilkan hasil yang banyak dan akan terus meningkat. Oleh karena itu apabila hasil pertanian meningkat otomatis kehidupan para petani akan sejahtera. Tetapi dibalik semua itu penggunaan pestisida sangat berdampak buruk bagi lingkungan sekitar kita. Pestisida dapat merusak makhluk hidup yang ada di air yaitu dengan cara apabila petani menggunakan pestisida di daerah persawahan maka titik-titik air yang ada pada pestisida akan mengalir ke sungai dan dapat meracuni ikan-ikan yang ada di sungai. Selain itu pestisida dapat menyuburkan ganggang yang ada di sungai. Apabila ganggang yang ada di sungai menjadi subur maka cahaya matahari akan sulit masuk ke dalam sungai. Ini dapat menyebabkan makhluk hidup yang ada di air tidak mendapat cahaya. Contohnya fitoplankton, apabila fitoplankton tidak mendapatkan cahaya maka tidak akan bisa berfotosintesis dan tidak dapat lagi menghasilkan makanan untuk hewan-hewan yang ada di dalam air.
Pestisida tidak hanya dapat merusak makhluk hidup yang ada di air, melainkan pestisida juga dapat mencemari udara karena pestisida mengandung gabungan dari beberapa zat kimia yang menghasilkan bau tak enak dan dapat merusak pernapasan. Pestisida juga dapat merusak kulit para petani. Apabila petani terlalu sering kontak kulit dengan pestisida maka akan mengakibatkan iritasi pada kulit. Pestisida juga membuat hasil pertanian menjadi tidak sehat lagi misalnya pada buah-buahan. Untuk mendapatkan hasil yang bagus kebanyakan para petani sekarang ini menyemprotkan pestisida ke tanaman buah yang ditanamnya. Maka pestisida yang disemprotkan tersebut akan diserap oleh buah dan apabila kita makan maka dapat merusak kesehatan kita.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui dampak dari penggunaan pestisida terhadap lingkungan.
I. TINJAUAN PUSTAKA
Hampir semua diantara kita pernah mendengar kata pestisida, herbisida, insektisida atau nama lainnya. Hampir dalam semua sisi kehidupan kita tidak bisa lepas dari pestisida dalam berbagai bentuknya. Dari gunung sampai pantai, dari desa sampai kota. Petani di pegununganpun tidak lepas dari penggunaan pestisida. Petani sayuran di Dieng, Kopeng, atau petani tembakau di lereng gunung Sindoro dan Sumbing. Nelayan dalam pembuatan ikan asin misalnya, ada yang menggunakan pestisida. Tentunya cara ini tidak dibenarkan, namun demikian adanya masyarakat kita. Pemakaian pestisida di rumah tangga seperti penggunaan obat nyamuk, anti rayap / ngengat, pengusir nyamuk (repelent) dan banyak lagi macamnya. Untuk itulah kita perlu mengenal lebih jauh tentang pestisida.
Penggunaan pestisida dalam pembangunan di berbagai sektor seperti pertanian, kesehatan masyarakat, perdagangan dan industri semakin meningkat. Pestisida terbukti mempunyai peranan yang penting dalam peningkatan kesejahteraan rakyat. Pada bidang pertanian termasuk pertanian rakyat maupun perkebunan yang dikelola secara profesional dalam skala besar menggunakan pestisida yang sebagian besar adalah golongan organofosfat. Demikian pula pada bidang kesehatan masyarakat pestisida yang digunakan sebagian besar adalah golongan organofosfat. Karena golongan ini lebih mudah terurai di alam.
Penggunaan pestisida di bidang pertanian saat ini memegang peranan penting. Sebagian besar masih menggunakan pestisida karena kemampuannya untuk memberantas hama sangat efektif. Pestisida adalah bahan yang beracun dan berbahaya, yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan. Dampak negatif tesebut akan menimbulkan berbagai masalah baik secara langsung ataupun tidak, akan berpengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia seperti keracunan. Dampak negatif yang terjadi dari penggunaan pestisida pada pengendalian hama adalah keracunan, khususnya para petani yang sering / intensif menggunakan pestisida.
Penggunaan pestisida di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Menurut Atmawijaya, pada tahun 1985 diperkirakan menggunakan 10.000 ton pestisida, pada tahun 1991 meningkat menjadi 600.000 ton. Jumlah ini mencapai 5 % konsumsi dunia. Keracunan pestisida terjadi di banyak negara seperti di Turki, Pakistan Barat, Iraq dan Guatemala. Keracunan makanan yang terkontaminasi pestisida parathion seperti tepung dan gula ditemukan diberbagai negara. (Philp, 1995) Di negara lain seperti di Afrika Selatan pernah dilaporkan 10.000 orang meninggal dunia akibat keracunan kronis organofosfat tahun 1959. Di Amerika Selatan ribuan orang mengalami kelumpuhan pada tahun 1978.
Di Indonesia juga banyak terjadi kasus keracunan antara lain di Kulon Progo terdapat 210 kasus keracunan dengan pemeriksaan fisik dan klinis, 50 orang diantaranya diperiksa laboratorium dengan hasil 15 orang (30 %) keracunan, di Kabupaten Sleman dilaporkan dari 30 orang petugas pemberantas hama 14 orang (46,66 %) mengalami gejala keracunan. Untuk melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan terhadap dampak negatif akibat penggunaan pestisida, perlu adanya upaya pengawasan pengamanan pestisida. Upaya pengamanan pestisida ditujukan untuk mencegah dan menanggulangi dampak negatif penggunaan pestisida terhadap kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan melalui usaha-usaha pengawasan terhadap penggunaan pestisida dan pengendalian terhadap pencemaran dan keracunan pestisida.
Salah satu penggunaan pestisida yang cukup banyak adalah di bidang pertanian dan kesehatan. Di Bidang Pertanian, penggunaan pestisida banyak dipakai untuk memberantas hama pada tanaman buah, sayur dan sebagainya. Akhir-akhir ini penggunaan pestisida pada tanaman sayuran juga cukup tinggi. Para petani yang dulu tidak banyak mengenal pestisida, sekarang sudah akrab dan intensif mengguanakannya. Pengertian Pestisida Secara harfiah pestisida berarti pest killing agent atau bahan pembunuh hama. (Tan Malaka, 1994) Pengertian menurut Sub Dit P2 Pestisida (1990), adalah semua bahan kimia, binatang maupun tumbuhan yang digunakan untuk mengendalikan hama. Pengertian lain tentang pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus digunakan untuk:
- memberantas atau mencegah hama dan penyakit yang merusak tanaman.
- memberantas rerumputan
- mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan.
- mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman
- memberantas atau mencegah hama luar pada hewan peliharaan.
- memberantas atau mencegah hama-hama air.
- memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah, alat-alat angkutan, dan alat-alat pertanian.
- memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada
manusia atau binatang yang dapat menyebabkan penyakit yang perlu dilindungi.
(Syamsuir Munaf, 1997)
Ternyata, puncak kejayaan pestisida sekitar tahun 1984-1985 telah membawa dampak yang sangat dahsyat terhadap ekosistem yang ada. Meskipun penggunaan pestisida makin ditingkatkan , masalah hama-hama terutama wereng tidak dapat diatasi, malah makin mengganas. Kita tidak sadar, bahwa mengganasnya hama wereng tersebut akibat penggunaan pestisida yang berlebihan. Pestisida juga menimbulkam masalah lingkungan seperti matinya makhluk bukan sasaran (ikan, ular, katak, belut, bebek, ayam, cacing tanah dan serangga penyerbuk) dan musuh alami (predator, parasitoid), residu pestisida dalam bahan makanan, pencemaran air, tanah, udara dan keracunan pada manusia serta ongkos produksi yang sangat mahal dan sia-sia.
Gejala keracunan pada manusia yang timbul secara umum badan lemah atau lemas. Pada kulit, menyebabkan iritasi seperti terbakar, keringat berlebihan, noda. Pada mata, gatal, merah berair, kabur atau tidak jelas, bola mata mengecil atau membesar. Pengaruh pestisida pada sistem pencernaan seperti rasa terbakar pada mulut dan tenggorokan, liur berlebihan, mual, muntah, sakit perut dan diare. Sedang pada sistem syaraf, seperti sakit kepala, pusing, bingung, gelisah, otot berdenyut, berjalan terhuyung-huyung, bicara tak jelas, kejang-kejang tak sadar. Pada sistem pernafasan, batuk, sakit dada dan sesak nafas, kesulitan bernafas dan nafas bersuara.
Kenyataan ini mendorong pemerintah secara bertahap mengubah kebijakan pemberantasan hama dari pendekatan unilateral ke pendekatan yang komprehensif, berdasarkan prinsip-prinsip ekologis yang dikenal dengan pengelolaan hama terpadu (pht). Akhirnya tahun 1986, pemerintah melarang penggunaan 57 formulasi pestisida pada padi dan tahun 1996 melarang ke 57 formulasi tersebut pada semua tanaman dan tidak menerima lagi pendaftaran ulang bagi pestisida yang sudah berakhir masa berlakunya. Diantaranya DDT, Thiodan 35 EC, Nuvacron 150 WSC, Basudin 60 EC, Azodrin 15 WSC, dll. Larangan tersebut diikuti dengan pencabutan subsidi pestisida sekitar tahun 1989 sehingga harga melambung tinggi. Dukungan politik PHT dengan dikeluarkannya INPRES No. 3/1986 dan diperkuat dengan Undang-Undang No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, khususnya pada pasal 20 tentang Sistem PHT dan pasal 21 tentang kegiatan perlindungan tanaman serta pasal 40 tentang larangan atau pembatasan penggunaan pestisida tertentu.
PHT adalah suatu cara pendekatan/cara berfikir/falsafah pengendalian hama didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam kerangka pengelolaan agroekosistem secara keseluruhan. Konsep PHT merupakan suatu konsep atau cara pendekatan pengendalian hama yang secara prinsip berbeda dengan konsep pengendalian hama konvensional yang selama ini sangata tergantung pada pestisida. Konsep ini timbul dan berkembang di seluruh dunia kerena kesadaran manusia terhadap bahaya penggunaan pestisida yang terus meningkat bagi lingkungan hidup dan kesejahteraan masyarakat. Konsep PHT sangat selaras dengan pertanian berkelanjutan, yaitu pertanian yang memenuhi kebutuhan kini tanpa berdampak negative atas sumber daya fisik yang ada, sehingga tidak membahayakan kapasitas dan potensi pertanian masa depan untuk memuaskan aspirasi kebendaan dan lingkungan generasi mendatang. Dalam pertanian berkelanjutan mencakup konsep antara lain;
1) meminimumkan ketergantungan pada energi, mineral dan sumber daya kimiawi yang tidak terbarukan,
2) menurunkan pengaturan udara, air dan lahan di luar kawasan usaha tani,
3) harus mempertahankan kecukupan habitat bagi kehidupan alami,
4) konservasi sumber daya genetik dalam species tumbuhan dan hewan yang diperlukan pertanian,
5) sistem pertanian harus mampu mempertahankan produksi sepanjang waktu menghadapi tekanan-tekanan ekologi, sosial dan ekonomi, dan
6) kegiatan produksi jangan sampai menguras sumber daya terbarukan.
penggunaan pestisida telah menimbulkan dampak negatif, baik itu bagi kesehatan manusia maupun bagi kelestarian lingkungan. Dampak negatif ini akan terus terjadi seandainya kita tidak hati-hati dalam memilih jenis dan cara penggunaannya. Adapun dampak negatif yang mungkin terjadi akibat penggunaan pestisida diantaranya :
- Tanaman yang diberi pestisida dapat menyerap pestisida yang kemudian terdistribusi ke dalam akar, batang, daun, dan buah. Pestisida yang sukar terurai akan berkumpul pada hewan pemakan tumbuhan tersebut termasuk manusia. Secara tidak langsung dan tidak sengaja, tubuh mahluk hidup itu telah tercemar pestisida. Bila seorang ibu menyusui memakan makanan dari tumbuhan yang telah tercemar pestisida maka bayi yang disusui menanggung resiko yang lebih besar untuk teracuni oleh pestisida tersebut daripada sang ibu. Zat beracun ini akan pindah ke tubuh bayi lewat air susu yang diberikan. Dan kemudian racun ini akan terkumpul dalam tubuh bayi (bioakumulasi).
- Pestisida yang tidak dapat terurai akan terbawa aliran air dan masuk ke dalam sistem biota air (kehidupan air). Konsentrasi pestisida yang tinggi dalam air dapat membunuh organisme air diantaranya ikan dan udang. Sementara dalam kadar rendah dapat meracuni organisme kecil seperti plankton. Bila plankton ini termakan oleh ikan maka ia akan terakumulasi dalam tubuh ikan. Tentu saja akan sangat berbahaya bila ikan tersebut termakan oleh burung-burung atau manusia. Salah satu kasus yang pernah terjadi adalah turunnya populasi burung pelikan coklat dan burung kasa dari daerah Artika sampai daerah Antartika. Setelah diteliti ternyata burung-burung tersebut banyak yang tercemar oleh pestisida organiklor yang menjadi penyebab rusaknya dinding telur burung itu sehingga gagal ketika dierami. Bila dibiarkan terus tentu saja perkembangbiakan burung itu akan terhenti, dan akhirnya jenis burung itu akan punah.
- Ada kemungkinan munculnya hama spesies baru yang tahan terhadap takaran pestisida yang diterapkan. Hama ini baru musnah bila takaran pestisida diperbesar jumlahnya. Akibatnya, jelas akan mempercepat dan memperbesar tingkat pencemaran pestisida pada mahluk hidup dan lingkungan kehidupan, tidak terkecuali manusia yang menjadi pelaku utamanya.
- Selain merusak ekosistem, pestisida juga dapat mengganggu kesehatan terutama kesehatan petani. Drngan seringnya menggunakanpestisida, maka kontak kulit dengan pestisida juga akan semakin sering dan dapat mengakibatkan iritasi kulit. Atau jika pestisida terhirup dan masuk paru-paru, dapat mengganggu kesehatan pernafasan.
- Dengan adanya dampak buruk dari pestisida, para petani lebih dianjurkan menggunakan sistem pertanian organik yang tidak menggunakan bahan kimia sama sekali. Tetapi pertanian dengan metode ini juga memiliki resiko yaitu rentan untuk terserang hama. Tetapi hasil dari pertanian ini sanngat sehat dan tidak akan mengganggu kesehatan.
- Penelitian lain juga menyebutkan bahwa resiko kanker pada oarang-orang yang merokok disebabkan oleh penggunaan pestisida pada saat menanam tembakau. Jika kita membandingkan orang-orang zaman dahulu, walaupun mereka perokok, tetapi mereka tetap sehat dan tidak mengalami penyakit kanker. Kemungkinan ini disebabkan karena zaman dahulu belum digunakannya pestisida saat menanam tembakau.
- Oleh karena itu, para petani diharapkan tidak terlalu banyak menggunakan pestisida dan melakukan pertanian organik. Pertanian organik ini sangat bermanfaat dan tidak memiliki efek samping yang membahayakan bagi lingkungan maupun tubuh. Berikut ini dampak penggunaan terhadap ikan gabus.
A. Sistematika ikan gabus
Menurut Bloch (1793),berikut adalah taksonomi dari ikan gabus:
kerajaan: animalial
filum: chordata
kelas: actinopterygii
ordo: perciformes
famili: channidae
genus: channa
spesies: channa striata
B. Morfologi Ikan Gabus
Ikan gabus adalah sejenis ikan buas yang hidup di air tawar. Ikan ini dikenal dengan banyak nama di berbagai daerah: aruan, haruan (Mly.,Bjn), kocolan (Btw.), bogo (Sd.), bayong, bogo, licingan (Bms.), kutuk (Jw.), dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris juga disebut dengan berbagai nama seperti common snakehead, snakehead murrel, chevron snakehead, striped snakehead dan juga aruan. Nama ilmiahnya adalah Channa striata. Gabus dan kerabatnya termasuk hewan Dunia Lama, yakni dari Asia (genus Channa) dan Afrika (genus Parachanna). Seluruhnya kurang lebih terdapat 30 spesies dari kedua genus tersebut.
C. Bioekologis Ikan Gabus
Ikan gabus biasa didapati di danau, rawa, sungai, dan saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah. Ikan ini memangsa aneka ikan kecil-kecil, serangga, dan berbagai hewan air lain termasuk berudu dan kodok. Pada musim kawin, ikan jantan dan betina bekerjasama menyiapkan sarang di antara tumbuhan dekat tepi air. Anak-anak ikan berwarna jingga merah bergaris hitam, berenang dalam kelompok yang bergerak bersama-sama kian kemari untuk mencari makanan. Kelompok muda ini dijagai oleh induknya.
Di Indonesia terdapat beberapa spesies Channa ; yang secara alami semuanya menyebar di sebelah barat Garis Wallace. Namun kini ikan gabus sudah diintroduksikan ke bagian timur pula. Salah satu kerabat dekat gabus adalah ikan toman (Channa micropeltes), yang panjang tubuhnya dapat melebihi 1 m dan beratnya lebih dari 5 kg.Pestisida Yang Digunakan
III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Tempat dan waktu pelaksanaan praktikum
Praktikum yang berjudul pestisida berdasarkan cara kerjanya dilaksanakan pada hari kamis, 31 maret 2011 di laboratorium insektarium,jurusan hama dan penyakit tumbuhan,Universitas Sriwijaya.
B. Alat dan bahan
Adapun alat yang digunakan yaitu: 1) gelas aqua bekas, 2)gelas kaca , dan 3) stopwatch Hp. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu: 1) 2 ekor anakan ikan gabus , 2) insektisida jenis HIT 1,4 AE, 3) air, dan 4) dan kertas penutup.
C. Cara kerja
Adapun cara kerjanya yaitu sebagai berikut: 1) masukkan kedua ekor ikan gabus tersebut kedalam gelas aqua yang telah berisi air, 2) semprotkan insektisida kedalam larutan tersebut secukupnya, 3) tutup aqua tersebut dengan kertas dan amati respon dari kerja insektisida tersebut dengan mencatat waktunya dengan stopwatch.
II. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berikut ini tabel hasil pengamatan
No Nama Ikan Nama Pestisida Jumlah Awal Waktu Mati Perilaku Keracunan Jumlah Mati /Menit
1 Ikan gabus (Channa striata) HIT 1,4 AE 2 Ekor 00:11:22 Kejang,hiperaktif,menggelepar dan mati 2 ekor/ 11 menit
B. Pembahasan
Dalam percobaan ini diasumsikan telah terjadi peracunan atau pencemaran oleh pestisida terhadap ikan gabus dengan menggunakan insektisida dengan nama dagang HIT 1,4 AE. HIT 1,4 AE yang digunakan adalah jenis insektisida yang bekerja sebagai racun pernafasan dan juga racun kontak.
1. Racun kontak
Insektisida ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui permukaan tubuhnya khususnya bagian kutikula yang tipis, misal pada bagian daerah perhubungan antara segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari lempengan tubuh, pada bagian pangkal rambut dan pada saluran pernafasan (spirakulum). Racun kontak itu dapat diaplikasikan langsung tertuju pada jasad sasaran atau pada permukaan tanaman atau pada tempat-tempat tertentu yang biasa dikunjungi serangga. Racun kontak mungkin diformulasikan sebagai cairan semprot atau sebagai serbuk. Racun kontak yang telah melekat pada serangga akan segera masuk ke dalam tubuh dan disinilah mulai terjadi peracunan.
Yang digolongkan sebagai insektisida kontak adalah :
a. Bahan kimia yang berasal dari kestrak tanamaan, seperti misalnya nikotin, rotenon, pirethrum.
b. Senyawa sintesis organik, misal BHC, DDT, Chlordan, Toxaphene, Phosphat organik.
c. Minyak dan sabun.
d. Senyawa anorganik seperti misalnya Sulfur dan Sulfur kapur.
2. Racun pernafasan
Bahan insektisida ini biasanya bersifat mudah menguap sehingga masuk ke dalam tubuh serangga dalam bentuk gas. Bagian tubuh yang dilalui adalah organ-organ pernafasan seperti misalnya spirakulum. Oleh karena bahan tersebut mudah menguap maka insektisida ini juga berbahaya bagi manusia dan binatang piaraan. Racun pernafasan bekerja dengan cara menghalangi terjadinya respirasi tingkat selulair dalam tubuh serangga dan bahan ini sering dapat menyebabkan tidak aktifnya enzim-enzim tertentu. Contoh racun nafas adalah : Hidrogen cyanida dan Carbon monoksida.
Dari uji dampak pestidida dalam praktikum ini,dapat praktikan jelaskan bahwa penggunaan pestisida dilapangan memang harus sangat hati-hati, terutama pada lahan persawahan atau lahan yang dekat dengan perairan. Pestidida yang mencemari air,jika dalam kadar yang sedikit belum menunjukkan reaksi berbahayanya. Akan tetapi, jika hal itu terjadi secara kontinyu dan terjadi akumulasi residu pestisida maka hal itu benar-benar sangat membahayakan ekosistem di daerah tersebut juga membahayakan jejaring makanan yang berhubungan di dalamnya.
Pestisida, tidak hanya membunuh atau meracuni ikan yang besar saja,akan tetapi ikan-ikan yang masih kecilpun dapat mati. Lantas,jika ikan tersebut termakan oleh hewan,ataupun manusia,maka racun dari pestisida tersebut juga akan membahayakan uang memakan ikan tersebut, inilah yang akhirnya menjadi siklus pembesaran ekologis dari penyakit yang timbul karena residu dari pestisida.
Dari insektisida yang dipakai, HIT berformulasi AE atau Aerosol yang memang dikemas untuk diaplikasikan dengan cara disemprotkan. Ketika HIT ini di semprotkan kedalam botol yang berisi 2 ekor anakan ikan gabus, anakan ikan tersebut kejang,setelah itu timbul prilaku diam dan hiperaktif. HIT 1,4 AE yang mengandung bahan aktif propoksur 1,18 %dan d-aletrin 0,22 % terbukti mampu membunuh anakan ikan gabus dalam waktu 11 menit saja. HIT 1,4 AE terbukti tidak hanya membunuh serangga saja,akan tetapi mampu juga membunuh hewan kelas ikan dimana sifat kerja insektisida tersebut memang mengganggu metabolism dari ikan percobaan. Sebab Aerosol tidak seluruhnya terurai dalam air,dan pestisida yang tidak dapat terurai akan terbawa aliran air dan masuk ke dalam sistem biota air (kehidupan air). Konsentrasi pestisida yang tinggi dalam air dapat membunuh organisme air diantaranya ikan dan udang. Sementara dalam kadar rendah dapat meracuni organisme kecil seperti plankton. Bila plankton ini termakan oleh ikan maka ia akan terakumulasi dalam tubuh ikan.
III. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu:
1. Dalam percobaan ini diasumsikan telah terjadi peracunan atau pencemaran oleh pestisida terhadap ikan gabus dengan menggunakan insektisida dengan nama dagang HIT 1,4 AE.
2. HIT 1,4 AE yang digunakan adalah jenis insektisida yang bekerja sebagai racun pernafasan dan juga racun kontak.
3. Racun pernafasan bekerja dengan cara menghalangi terjadinya respirasi tingkat selulair dalam tubuh serangga dan bahan ini sering dapat menyebabkan tidak aktifnya enzim-enzim tertentu.
4. Dari insektisida yang dipakai, HIT berformulasi AE atau Aerosol .
5. Ketika HIT ini di semprotkan kedalam botol yang berisi 2 ekor anakan ikan gabus, anakan ikan tersebut kejang,setelah itu timbul prilaku diam dan hiperaktif.
6. HIT 1,4 AE yang mengandung bahan aktif propoksur 1,18 %dan d-aletrin 0,22 %.
7. Sebab Aerosol tidak seluruhnya terurai dalam air,dan pestisida yang tidak dapat terurai akan terbawa aliran air dan masuk ke dalam sistem biota air (kehidupan air).
B. Saran
Saran yang dapat diberikan yaitu agar aplikasi dampak ini lebih serius lagi dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,2011. Dampak negatif pestisida(online),http://arianus.wordpress.com (diakses rabu, 6 April 2011)
Anonim,2011. Dampak pestisida terhadap kesehatan(Online) http://mathedu-unila.blogspot.com ( diakses rabu, 6 April 2011)
Anonim,2011. Dampak penggunaan sedang pestisida (Online) http://blog.unila.ac.id/suryantoro. ( diakses rabu, 6 April 2011)
Anonimous,2011.(Online). Serangga atau insect. http://findoutwhat.wordpress.com (diakses Rabu, 30 Maret 2011) ( diakses rabu, 18April 2011)
Suharno, 2005. Perlindungan Tanaman. Diktat STPP, jurluhtan, yogyakarta
PRAKTIKUM PESTISIDA DAN APLIKASINYA
Dampak Penggunaan Pestisida Terhadap Lingkungan
OLEH
UMI QONAAH
05091007006
KELOMPOK III
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2011
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam proses budi daya pertanian tidak terlepas dari apa yang namanya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), kerugian akibat serangan hama bisa mencapai 37 %, penyakit 35 %, gulma 29 %, dan bahkan akibat yang di timbulkan oleh serangan hama tikus bisa menyebabkan gagal panen (puso). Pengendalian OPT bertujuan untuk mempertahankan produksi pertanian agar produksi tetap optimal, pengendalian hama adalah usaha –usaha manusia untuk menekan populasi hama sampai dibawah ambang batas yang merugikan secara ekonomi (serech,2006)
Pengendalian dapat dilakukan dengan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yaitu memilih suatu cara atau menggabungkan beberapa cara pengendalian, sehingga tidak merugikan secara ekonomis, biologi dan ekologi. Dengan tingkat kesadaran yang tinggi tentang lingkungan yang sehat dan pertanian yang berkelanjutan diperlikan cara pengendalian yang tepat. Dalam menangani OPT (organisme pengganggu tanaman) petani dewasa ini sering menggunakan pestisida. Pestisida merupakan zat yang mampu membasmi OPT. (Suharno,2005)
Pestisida dalam hal ini merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan hama untuk menurunkan populasi hama yang sedang menyerang tanaman. Menurut UU RI No. 12/1992 : Pestisida adalah zat atau senyawa kimia, zat pengatur, dan perangsang tumbuh, bahan lain serta organisme renik atau virus yang digunakan untuk melakukan perlindungan tanaman.
Pestisida adalah suatu bahan kimia yang digunakan oleh para petani untuk menjaga tanamannya dari serangan hama. Dengan menggunakan pestisida semua tanaman para petani akan terhindar dari segala macam hama. Sehingga apabila tanaman petani tersebut terhindar dari serangan hama, maka tanaman petani akan bagus dan akan menghasilkan hasil yang banyak dan akan terus meningkat. Oleh karena itu apabila hasil pertanian meningkat otomatis kehidupan para petani akan sejahtera. Tetapi dibalik semua itu penggunaan pestisida sangat berdampak buruk bagi lingkungan sekitar kita. Pestisida dapat merusak makhluk hidup yang ada di air yaitu dengan cara apabila petani menggunakan pestisida di daerah persawahan maka titik-titik air yang ada pada pestisida akan mengalir ke sungai dan dapat meracuni ikan-ikan yang ada di sungai. Selain itu pestisida dapat menyuburkan ganggang yang ada di sungai. Apabila ganggang yang ada di sungai menjadi subur maka cahaya matahari akan sulit masuk ke dalam sungai. Ini dapat menyebabkan makhluk hidup yang ada di air tidak mendapat cahaya. Contohnya fitoplankton, apabila fitoplankton tidak mendapatkan cahaya maka tidak akan bisa berfotosintesis dan tidak dapat lagi menghasilkan makanan untuk hewan-hewan yang ada di dalam air.
Pestisida tidak hanya dapat merusak makhluk hidup yang ada di air, melainkan pestisida juga dapat mencemari udara karena pestisida mengandung gabungan dari beberapa zat kimia yang menghasilkan bau tak enak dan dapat merusak pernapasan. Pestisida juga dapat merusak kulit para petani. Apabila petani terlalu sering kontak kulit dengan pestisida maka akan mengakibatkan iritasi pada kulit. Pestisida juga membuat hasil pertanian menjadi tidak sehat lagi misalnya pada buah-buahan. Untuk mendapatkan hasil yang bagus kebanyakan para petani sekarang ini menyemprotkan pestisida ke tanaman buah yang ditanamnya. Maka pestisida yang disemprotkan tersebut akan diserap oleh buah dan apabila kita makan maka dapat merusak kesehatan kita.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui dampak dari penggunaan pestisida terhadap lingkungan.
I. TINJAUAN PUSTAKA
Hampir semua diantara kita pernah mendengar kata pestisida, herbisida, insektisida atau nama lainnya. Hampir dalam semua sisi kehidupan kita tidak bisa lepas dari pestisida dalam berbagai bentuknya. Dari gunung sampai pantai, dari desa sampai kota. Petani di pegununganpun tidak lepas dari penggunaan pestisida. Petani sayuran di Dieng, Kopeng, atau petani tembakau di lereng gunung Sindoro dan Sumbing. Nelayan dalam pembuatan ikan asin misalnya, ada yang menggunakan pestisida. Tentunya cara ini tidak dibenarkan, namun demikian adanya masyarakat kita. Pemakaian pestisida di rumah tangga seperti penggunaan obat nyamuk, anti rayap / ngengat, pengusir nyamuk (repelent) dan banyak lagi macamnya. Untuk itulah kita perlu mengenal lebih jauh tentang pestisida.
Penggunaan pestisida dalam pembangunan di berbagai sektor seperti pertanian, kesehatan masyarakat, perdagangan dan industri semakin meningkat. Pestisida terbukti mempunyai peranan yang penting dalam peningkatan kesejahteraan rakyat. Pada bidang pertanian termasuk pertanian rakyat maupun perkebunan yang dikelola secara profesional dalam skala besar menggunakan pestisida yang sebagian besar adalah golongan organofosfat. Demikian pula pada bidang kesehatan masyarakat pestisida yang digunakan sebagian besar adalah golongan organofosfat. Karena golongan ini lebih mudah terurai di alam.
Penggunaan pestisida di bidang pertanian saat ini memegang peranan penting. Sebagian besar masih menggunakan pestisida karena kemampuannya untuk memberantas hama sangat efektif. Pestisida adalah bahan yang beracun dan berbahaya, yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan. Dampak negatif tesebut akan menimbulkan berbagai masalah baik secara langsung ataupun tidak, akan berpengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan manusia seperti keracunan. Dampak negatif yang terjadi dari penggunaan pestisida pada pengendalian hama adalah keracunan, khususnya para petani yang sering / intensif menggunakan pestisida.
Penggunaan pestisida di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Menurut Atmawijaya, pada tahun 1985 diperkirakan menggunakan 10.000 ton pestisida, pada tahun 1991 meningkat menjadi 600.000 ton. Jumlah ini mencapai 5 % konsumsi dunia. Keracunan pestisida terjadi di banyak negara seperti di Turki, Pakistan Barat, Iraq dan Guatemala. Keracunan makanan yang terkontaminasi pestisida parathion seperti tepung dan gula ditemukan diberbagai negara. (Philp, 1995) Di negara lain seperti di Afrika Selatan pernah dilaporkan 10.000 orang meninggal dunia akibat keracunan kronis organofosfat tahun 1959. Di Amerika Selatan ribuan orang mengalami kelumpuhan pada tahun 1978.
Di Indonesia juga banyak terjadi kasus keracunan antara lain di Kulon Progo terdapat 210 kasus keracunan dengan pemeriksaan fisik dan klinis, 50 orang diantaranya diperiksa laboratorium dengan hasil 15 orang (30 %) keracunan, di Kabupaten Sleman dilaporkan dari 30 orang petugas pemberantas hama 14 orang (46,66 %) mengalami gejala keracunan. Untuk melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan terhadap dampak negatif akibat penggunaan pestisida, perlu adanya upaya pengawasan pengamanan pestisida. Upaya pengamanan pestisida ditujukan untuk mencegah dan menanggulangi dampak negatif penggunaan pestisida terhadap kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan melalui usaha-usaha pengawasan terhadap penggunaan pestisida dan pengendalian terhadap pencemaran dan keracunan pestisida.
Salah satu penggunaan pestisida yang cukup banyak adalah di bidang pertanian dan kesehatan. Di Bidang Pertanian, penggunaan pestisida banyak dipakai untuk memberantas hama pada tanaman buah, sayur dan sebagainya. Akhir-akhir ini penggunaan pestisida pada tanaman sayuran juga cukup tinggi. Para petani yang dulu tidak banyak mengenal pestisida, sekarang sudah akrab dan intensif mengguanakannya. Pengertian Pestisida Secara harfiah pestisida berarti pest killing agent atau bahan pembunuh hama. (Tan Malaka, 1994) Pengertian menurut Sub Dit P2 Pestisida (1990), adalah semua bahan kimia, binatang maupun tumbuhan yang digunakan untuk mengendalikan hama. Pengertian lain tentang pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus digunakan untuk:
- memberantas atau mencegah hama dan penyakit yang merusak tanaman.
- memberantas rerumputan
- mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan.
- mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman
- memberantas atau mencegah hama luar pada hewan peliharaan.
- memberantas atau mencegah hama-hama air.
- memberantas atau mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah, alat-alat angkutan, dan alat-alat pertanian.
- memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada
manusia atau binatang yang dapat menyebabkan penyakit yang perlu dilindungi.
(Syamsuir Munaf, 1997)
Ternyata, puncak kejayaan pestisida sekitar tahun 1984-1985 telah membawa dampak yang sangat dahsyat terhadap ekosistem yang ada. Meskipun penggunaan pestisida makin ditingkatkan , masalah hama-hama terutama wereng tidak dapat diatasi, malah makin mengganas. Kita tidak sadar, bahwa mengganasnya hama wereng tersebut akibat penggunaan pestisida yang berlebihan. Pestisida juga menimbulkam masalah lingkungan seperti matinya makhluk bukan sasaran (ikan, ular, katak, belut, bebek, ayam, cacing tanah dan serangga penyerbuk) dan musuh alami (predator, parasitoid), residu pestisida dalam bahan makanan, pencemaran air, tanah, udara dan keracunan pada manusia serta ongkos produksi yang sangat mahal dan sia-sia.
Gejala keracunan pada manusia yang timbul secara umum badan lemah atau lemas. Pada kulit, menyebabkan iritasi seperti terbakar, keringat berlebihan, noda. Pada mata, gatal, merah berair, kabur atau tidak jelas, bola mata mengecil atau membesar. Pengaruh pestisida pada sistem pencernaan seperti rasa terbakar pada mulut dan tenggorokan, liur berlebihan, mual, muntah, sakit perut dan diare. Sedang pada sistem syaraf, seperti sakit kepala, pusing, bingung, gelisah, otot berdenyut, berjalan terhuyung-huyung, bicara tak jelas, kejang-kejang tak sadar. Pada sistem pernafasan, batuk, sakit dada dan sesak nafas, kesulitan bernafas dan nafas bersuara.
Kenyataan ini mendorong pemerintah secara bertahap mengubah kebijakan pemberantasan hama dari pendekatan unilateral ke pendekatan yang komprehensif, berdasarkan prinsip-prinsip ekologis yang dikenal dengan pengelolaan hama terpadu (pht). Akhirnya tahun 1986, pemerintah melarang penggunaan 57 formulasi pestisida pada padi dan tahun 1996 melarang ke 57 formulasi tersebut pada semua tanaman dan tidak menerima lagi pendaftaran ulang bagi pestisida yang sudah berakhir masa berlakunya. Diantaranya DDT, Thiodan 35 EC, Nuvacron 150 WSC, Basudin 60 EC, Azodrin 15 WSC, dll. Larangan tersebut diikuti dengan pencabutan subsidi pestisida sekitar tahun 1989 sehingga harga melambung tinggi. Dukungan politik PHT dengan dikeluarkannya INPRES No. 3/1986 dan diperkuat dengan Undang-Undang No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, khususnya pada pasal 20 tentang Sistem PHT dan pasal 21 tentang kegiatan perlindungan tanaman serta pasal 40 tentang larangan atau pembatasan penggunaan pestisida tertentu.
PHT adalah suatu cara pendekatan/cara berfikir/falsafah pengendalian hama didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam kerangka pengelolaan agroekosistem secara keseluruhan. Konsep PHT merupakan suatu konsep atau cara pendekatan pengendalian hama yang secara prinsip berbeda dengan konsep pengendalian hama konvensional yang selama ini sangata tergantung pada pestisida. Konsep ini timbul dan berkembang di seluruh dunia kerena kesadaran manusia terhadap bahaya penggunaan pestisida yang terus meningkat bagi lingkungan hidup dan kesejahteraan masyarakat. Konsep PHT sangat selaras dengan pertanian berkelanjutan, yaitu pertanian yang memenuhi kebutuhan kini tanpa berdampak negative atas sumber daya fisik yang ada, sehingga tidak membahayakan kapasitas dan potensi pertanian masa depan untuk memuaskan aspirasi kebendaan dan lingkungan generasi mendatang. Dalam pertanian berkelanjutan mencakup konsep antara lain;
1) meminimumkan ketergantungan pada energi, mineral dan sumber daya kimiawi yang tidak terbarukan,
2) menurunkan pengaturan udara, air dan lahan di luar kawasan usaha tani,
3) harus mempertahankan kecukupan habitat bagi kehidupan alami,
4) konservasi sumber daya genetik dalam species tumbuhan dan hewan yang diperlukan pertanian,
5) sistem pertanian harus mampu mempertahankan produksi sepanjang waktu menghadapi tekanan-tekanan ekologi, sosial dan ekonomi, dan
6) kegiatan produksi jangan sampai menguras sumber daya terbarukan.
penggunaan pestisida telah menimbulkan dampak negatif, baik itu bagi kesehatan manusia maupun bagi kelestarian lingkungan. Dampak negatif ini akan terus terjadi seandainya kita tidak hati-hati dalam memilih jenis dan cara penggunaannya. Adapun dampak negatif yang mungkin terjadi akibat penggunaan pestisida diantaranya :
- Tanaman yang diberi pestisida dapat menyerap pestisida yang kemudian terdistribusi ke dalam akar, batang, daun, dan buah. Pestisida yang sukar terurai akan berkumpul pada hewan pemakan tumbuhan tersebut termasuk manusia. Secara tidak langsung dan tidak sengaja, tubuh mahluk hidup itu telah tercemar pestisida. Bila seorang ibu menyusui memakan makanan dari tumbuhan yang telah tercemar pestisida maka bayi yang disusui menanggung resiko yang lebih besar untuk teracuni oleh pestisida tersebut daripada sang ibu. Zat beracun ini akan pindah ke tubuh bayi lewat air susu yang diberikan. Dan kemudian racun ini akan terkumpul dalam tubuh bayi (bioakumulasi).
- Pestisida yang tidak dapat terurai akan terbawa aliran air dan masuk ke dalam sistem biota air (kehidupan air). Konsentrasi pestisida yang tinggi dalam air dapat membunuh organisme air diantaranya ikan dan udang. Sementara dalam kadar rendah dapat meracuni organisme kecil seperti plankton. Bila plankton ini termakan oleh ikan maka ia akan terakumulasi dalam tubuh ikan. Tentu saja akan sangat berbahaya bila ikan tersebut termakan oleh burung-burung atau manusia. Salah satu kasus yang pernah terjadi adalah turunnya populasi burung pelikan coklat dan burung kasa dari daerah Artika sampai daerah Antartika. Setelah diteliti ternyata burung-burung tersebut banyak yang tercemar oleh pestisida organiklor yang menjadi penyebab rusaknya dinding telur burung itu sehingga gagal ketika dierami. Bila dibiarkan terus tentu saja perkembangbiakan burung itu akan terhenti, dan akhirnya jenis burung itu akan punah.
- Ada kemungkinan munculnya hama spesies baru yang tahan terhadap takaran pestisida yang diterapkan. Hama ini baru musnah bila takaran pestisida diperbesar jumlahnya. Akibatnya, jelas akan mempercepat dan memperbesar tingkat pencemaran pestisida pada mahluk hidup dan lingkungan kehidupan, tidak terkecuali manusia yang menjadi pelaku utamanya.
- Selain merusak ekosistem, pestisida juga dapat mengganggu kesehatan terutama kesehatan petani. Drngan seringnya menggunakanpestisida, maka kontak kulit dengan pestisida juga akan semakin sering dan dapat mengakibatkan iritasi kulit. Atau jika pestisida terhirup dan masuk paru-paru, dapat mengganggu kesehatan pernafasan.
- Dengan adanya dampak buruk dari pestisida, para petani lebih dianjurkan menggunakan sistem pertanian organik yang tidak menggunakan bahan kimia sama sekali. Tetapi pertanian dengan metode ini juga memiliki resiko yaitu rentan untuk terserang hama. Tetapi hasil dari pertanian ini sanngat sehat dan tidak akan mengganggu kesehatan.
- Penelitian lain juga menyebutkan bahwa resiko kanker pada oarang-orang yang merokok disebabkan oleh penggunaan pestisida pada saat menanam tembakau. Jika kita membandingkan orang-orang zaman dahulu, walaupun mereka perokok, tetapi mereka tetap sehat dan tidak mengalami penyakit kanker. Kemungkinan ini disebabkan karena zaman dahulu belum digunakannya pestisida saat menanam tembakau.
- Oleh karena itu, para petani diharapkan tidak terlalu banyak menggunakan pestisida dan melakukan pertanian organik. Pertanian organik ini sangat bermanfaat dan tidak memiliki efek samping yang membahayakan bagi lingkungan maupun tubuh. Berikut ini dampak penggunaan terhadap ikan gabus.
A. Sistematika ikan gabus
Menurut Bloch (1793),berikut adalah taksonomi dari ikan gabus:
kerajaan: animalial
filum: chordata
kelas: actinopterygii
ordo: perciformes
famili: channidae
genus: channa
spesies: channa striata
B. Morfologi Ikan Gabus
Ikan gabus adalah sejenis ikan buas yang hidup di air tawar. Ikan ini dikenal dengan banyak nama di berbagai daerah: aruan, haruan (Mly.,Bjn), kocolan (Btw.), bogo (Sd.), bayong, bogo, licingan (Bms.), kutuk (Jw.), dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris juga disebut dengan berbagai nama seperti common snakehead, snakehead murrel, chevron snakehead, striped snakehead dan juga aruan. Nama ilmiahnya adalah Channa striata. Gabus dan kerabatnya termasuk hewan Dunia Lama, yakni dari Asia (genus Channa) dan Afrika (genus Parachanna). Seluruhnya kurang lebih terdapat 30 spesies dari kedua genus tersebut.
C. Bioekologis Ikan Gabus
Ikan gabus biasa didapati di danau, rawa, sungai, dan saluran-saluran air hingga ke sawah-sawah. Ikan ini memangsa aneka ikan kecil-kecil, serangga, dan berbagai hewan air lain termasuk berudu dan kodok. Pada musim kawin, ikan jantan dan betina bekerjasama menyiapkan sarang di antara tumbuhan dekat tepi air. Anak-anak ikan berwarna jingga merah bergaris hitam, berenang dalam kelompok yang bergerak bersama-sama kian kemari untuk mencari makanan. Kelompok muda ini dijagai oleh induknya.
Di Indonesia terdapat beberapa spesies Channa ; yang secara alami semuanya menyebar di sebelah barat Garis Wallace. Namun kini ikan gabus sudah diintroduksikan ke bagian timur pula. Salah satu kerabat dekat gabus adalah ikan toman (Channa micropeltes), yang panjang tubuhnya dapat melebihi 1 m dan beratnya lebih dari 5 kg.Pestisida Yang Digunakan
III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Tempat dan waktu pelaksanaan praktikum
Praktikum yang berjudul pestisida berdasarkan cara kerjanya dilaksanakan pada hari kamis, 31 maret 2011 di laboratorium insektarium,jurusan hama dan penyakit tumbuhan,Universitas Sriwijaya.
B. Alat dan bahan
Adapun alat yang digunakan yaitu: 1) gelas aqua bekas, 2)gelas kaca , dan 3) stopwatch Hp. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu: 1) 2 ekor anakan ikan gabus , 2) insektisida jenis HIT 1,4 AE, 3) air, dan 4) dan kertas penutup.
C. Cara kerja
Adapun cara kerjanya yaitu sebagai berikut: 1) masukkan kedua ekor ikan gabus tersebut kedalam gelas aqua yang telah berisi air, 2) semprotkan insektisida kedalam larutan tersebut secukupnya, 3) tutup aqua tersebut dengan kertas dan amati respon dari kerja insektisida tersebut dengan mencatat waktunya dengan stopwatch.
II. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berikut ini tabel hasil pengamatan
No Nama Ikan Nama Pestisida Jumlah Awal Waktu Mati Perilaku Keracunan Jumlah Mati /Menit
1 Ikan gabus (Channa striata) HIT 1,4 AE 2 Ekor 00:11:22 Kejang,hiperaktif,menggelepar dan mati 2 ekor/ 11 menit
B. Pembahasan
Dalam percobaan ini diasumsikan telah terjadi peracunan atau pencemaran oleh pestisida terhadap ikan gabus dengan menggunakan insektisida dengan nama dagang HIT 1,4 AE. HIT 1,4 AE yang digunakan adalah jenis insektisida yang bekerja sebagai racun pernafasan dan juga racun kontak.
1. Racun kontak
Insektisida ini masuk ke dalam tubuh serangga melalui permukaan tubuhnya khususnya bagian kutikula yang tipis, misal pada bagian daerah perhubungan antara segmen, lekukan-lekukan yang terbentuk dari lempengan tubuh, pada bagian pangkal rambut dan pada saluran pernafasan (spirakulum). Racun kontak itu dapat diaplikasikan langsung tertuju pada jasad sasaran atau pada permukaan tanaman atau pada tempat-tempat tertentu yang biasa dikunjungi serangga. Racun kontak mungkin diformulasikan sebagai cairan semprot atau sebagai serbuk. Racun kontak yang telah melekat pada serangga akan segera masuk ke dalam tubuh dan disinilah mulai terjadi peracunan.
Yang digolongkan sebagai insektisida kontak adalah :
a. Bahan kimia yang berasal dari kestrak tanamaan, seperti misalnya nikotin, rotenon, pirethrum.
b. Senyawa sintesis organik, misal BHC, DDT, Chlordan, Toxaphene, Phosphat organik.
c. Minyak dan sabun.
d. Senyawa anorganik seperti misalnya Sulfur dan Sulfur kapur.
2. Racun pernafasan
Bahan insektisida ini biasanya bersifat mudah menguap sehingga masuk ke dalam tubuh serangga dalam bentuk gas. Bagian tubuh yang dilalui adalah organ-organ pernafasan seperti misalnya spirakulum. Oleh karena bahan tersebut mudah menguap maka insektisida ini juga berbahaya bagi manusia dan binatang piaraan. Racun pernafasan bekerja dengan cara menghalangi terjadinya respirasi tingkat selulair dalam tubuh serangga dan bahan ini sering dapat menyebabkan tidak aktifnya enzim-enzim tertentu. Contoh racun nafas adalah : Hidrogen cyanida dan Carbon monoksida.
Dari uji dampak pestidida dalam praktikum ini,dapat praktikan jelaskan bahwa penggunaan pestisida dilapangan memang harus sangat hati-hati, terutama pada lahan persawahan atau lahan yang dekat dengan perairan. Pestidida yang mencemari air,jika dalam kadar yang sedikit belum menunjukkan reaksi berbahayanya. Akan tetapi, jika hal itu terjadi secara kontinyu dan terjadi akumulasi residu pestisida maka hal itu benar-benar sangat membahayakan ekosistem di daerah tersebut juga membahayakan jejaring makanan yang berhubungan di dalamnya.
Pestisida, tidak hanya membunuh atau meracuni ikan yang besar saja,akan tetapi ikan-ikan yang masih kecilpun dapat mati. Lantas,jika ikan tersebut termakan oleh hewan,ataupun manusia,maka racun dari pestisida tersebut juga akan membahayakan uang memakan ikan tersebut, inilah yang akhirnya menjadi siklus pembesaran ekologis dari penyakit yang timbul karena residu dari pestisida.
Dari insektisida yang dipakai, HIT berformulasi AE atau Aerosol yang memang dikemas untuk diaplikasikan dengan cara disemprotkan. Ketika HIT ini di semprotkan kedalam botol yang berisi 2 ekor anakan ikan gabus, anakan ikan tersebut kejang,setelah itu timbul prilaku diam dan hiperaktif. HIT 1,4 AE yang mengandung bahan aktif propoksur 1,18 %dan d-aletrin 0,22 % terbukti mampu membunuh anakan ikan gabus dalam waktu 11 menit saja. HIT 1,4 AE terbukti tidak hanya membunuh serangga saja,akan tetapi mampu juga membunuh hewan kelas ikan dimana sifat kerja insektisida tersebut memang mengganggu metabolism dari ikan percobaan. Sebab Aerosol tidak seluruhnya terurai dalam air,dan pestisida yang tidak dapat terurai akan terbawa aliran air dan masuk ke dalam sistem biota air (kehidupan air). Konsentrasi pestisida yang tinggi dalam air dapat membunuh organisme air diantaranya ikan dan udang. Sementara dalam kadar rendah dapat meracuni organisme kecil seperti plankton. Bila plankton ini termakan oleh ikan maka ia akan terakumulasi dalam tubuh ikan.
III. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini yaitu:
1. Dalam percobaan ini diasumsikan telah terjadi peracunan atau pencemaran oleh pestisida terhadap ikan gabus dengan menggunakan insektisida dengan nama dagang HIT 1,4 AE.
2. HIT 1,4 AE yang digunakan adalah jenis insektisida yang bekerja sebagai racun pernafasan dan juga racun kontak.
3. Racun pernafasan bekerja dengan cara menghalangi terjadinya respirasi tingkat selulair dalam tubuh serangga dan bahan ini sering dapat menyebabkan tidak aktifnya enzim-enzim tertentu.
4. Dari insektisida yang dipakai, HIT berformulasi AE atau Aerosol .
5. Ketika HIT ini di semprotkan kedalam botol yang berisi 2 ekor anakan ikan gabus, anakan ikan tersebut kejang,setelah itu timbul prilaku diam dan hiperaktif.
6. HIT 1,4 AE yang mengandung bahan aktif propoksur 1,18 %dan d-aletrin 0,22 %.
7. Sebab Aerosol tidak seluruhnya terurai dalam air,dan pestisida yang tidak dapat terurai akan terbawa aliran air dan masuk ke dalam sistem biota air (kehidupan air).
B. Saran
Saran yang dapat diberikan yaitu agar aplikasi dampak ini lebih serius lagi dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,2011. Dampak negatif pestisida(online),http://arianus.wordpress.com (diakses rabu, 6 April 2011)
Anonim,2011. Dampak pestisida terhadap kesehatan(Online) http://mathedu-unila.blogspot.com ( diakses rabu, 6 April 2011)
Anonim,2011. Dampak penggunaan sedang pestisida (Online) http://blog.unila.ac.id/suryantoro. ( diakses rabu, 6 April 2011)
Anonimous,2011.(Online). Serangga atau insect. http://findoutwhat.wordpress.com (diakses Rabu, 30 Maret 2011) ( diakses rabu, 18April 2011)
Suharno, 2005. Perlindungan Tanaman. Diktat STPP, jurluhtan, yogyakarta
Langganan:
Postingan (Atom)
